Anak Nakal? Begini Cara Mengatasi yang Baik dan Benar

cara mengatasi anak nakal yang baik dan benar

Note: artikel ini sudah diupdate lebih lengkap dan jelas, silahkan baca: Cara Menghadapi Anak Nakal dalam Islam

Mengatasi Anak Nakal. Hari ini dunia miskin moral. Dunia dirusak oleh perbuatan manusia sendiri, teknologi tanpa moral, ilmu tanpa moral, penemuan tanpa moral, pemimpin tanpa moral,rakyat tanpa moral, pendidikan tanpa moral bahkan rumah tangga tanpa moral. Anak nakal tumbuh berkembang. Orangtua kebingungan dan khawatir.

Dunia benar-benar sedang meradang, ini adalah perjalanan panjang ujungnya hanya kegundahan dan kesengsaraan.

Bagaimana anak tumbuh dibarengi dengan moral? Bagaimana caranya anak jadi baik sampai dewasa? Bagaimana mengatasi anak nakal menurut Islam??

Apa Langkah Manusia dalam Membangun Karakter Anak Supaya Tidak Nakal?


Orang-orang memunculkan pendidikan baru yang bisa kita sebut character building.

Konsep membangun karakter supaya anak baik, lalu berbagai konsep dan teori didatangkan. Ada yang mengambil dari kiblat dunia saat ini (Amerika) ada juga yang memodifikasi konsep yang sudah ada bahkan ada yang membuat teori sendiri dan meneliti sendiri. Mereka semua mengakui konsep merekalah yang terbaik, "Ini loh konsep saya terbaik" yang satunya membalas, "Tidak! Milik saya yang terbaik. Kurikulum dari Amerika"

Sampai-sampai konsep yang mereka buat melibatkan guru-guru supaya mencatat masalah anak-anak di sekolah setiap bulannya atau tahunnya, agar kemudian dimusyawarhkan dan dirumuskan solusinya.

Masing-masing mereka mencoba-coba membuat konsep membangun karakter anak. Bahkan yang mengejutkan, ada sekolah berkemas Islam yang mencoba membuat konsep sendiri dan menyebutnya dengan Islamic Character!

Kita semua pasti senang mendengarnya? Kira-kira mereka bisa tidak menjelaskan konsepnya dari mana? Sumbernya/landasannya dari mana? Dan seperti apa aplikasi Nubuwahnya? Apakah dengan konsep mereka sudah terbukti bisa mengatasi anak bandel?

Dalam Islam sendiri, sudah ada panduan khusus dalam membangun karakter anak.

Baca Juga2 Cara Utama Mengatasi Anak Nakal Secara Batiniah

Mengatasi Anak Nakal dengan Membangun Karakter Iman pada Anak


    Membangun karakter iman pada anak memang menjadi satu-satunya cara mengatasi kenakalan pelajar atau anak kita sendiri, bahkan berlaku juga untuk anak hiperaktif.

    Islam adalah peradaban besar yang mempunyai sejarah yang sangat panjang, dikenal oleh siapapun, tersebarnya Islam bukan karna penjajahan/penguasaan, namun karna akhlak mulia, kerelaan masyarakat dalam menerima Islam. Bahkan masuknya Islam ke Indonesia dengan cara seperti itu.

    Sehingga bisa kita sebut Islam mempunyai karakter dan moral yang mulia dibandingkan dengan agama penjajah. Lihatlah dalam Islam, membangun karakter berdasarkan Al-Qur'an dan Hadist  atau bisa kita sebut the real Islamic Character Building. Bukan angan-angan atau rumusan makhluk yang lemah ini.

    Hadits Jundub bin Abdillah Radiyallahuanhu:


    عن جُنْدُبِ بن عبد الله قال: كنا مع النبي صلى الله عليه وسلم ونحن فِتْيَانٌ حَزَاوِرَةٌ فتعلمنا الإيمان قبل أن نتعلم القرآن ثم تعلمنا القرآن فازددنا به إيماناً ) رواه ابن ماجة (61) والطبراني في المعجم الكبير (1678) والبيهقي في سننه الكبرى (5075) وهو حديث صحيح

    Dari Jundub bin Abdillah beliau berkata: "Dahulu kami ketika remaja bersama Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam, kami belajar iman sebelum Al Qur'an kemudian setelah kami belajar Al Qur'an bertambahlah keimanan kami. Sedangkan kalian sungguh pada hari ini justru belajar Al Qur'an dulu sebelum belajar iman" [HR. At Thabrani, Al Baihaqi, Ibn Majah, dishahihkan Al Albani]

    Perkataan Judub bin Abdillah ini ditujukan kepada generasi setelahnya tabiin, Sehingga dalam riwayat Thabrani dalam kitab Al-Mu’jam Al-kabir ada tambahan dari perkata’an Jundub bin Abdillah:

    فانكم اليوم تعلمون القران قبل الايمان

    Adapun kalian hari ini belajar qur’an sebelum iman

    Sebagaimana yang sudah digambarkan Nabi Shalallahu alaihi wassalam, tabiin adalah generasi terbaik setelah sahabat, tentunya di sini ada penurunan kualitas. Begitulah kalau dipandang dari kacamata sahabat.

    Bagaimana jika dibandingkan dengan generasi sekarang? Sangat jauh sekali perbedaanya, generasi tabiin adalah generasi yang amat dahsyat. Yang lebih penting lagi, di masa mereka Islam bisa memakmurkan bumi.

    Lihatlah pada hari ini, tidak juga belajar Al-Qur’an apalagi Iman. Ini adalah tugas para dai untuk merangkul masyarakat menuju generasi gemilang. Untuk mengembalikan generasi seperti sahabat maka membutuhkan cara yang tidak biasa-biasa saja. sehingga kelak generasi setelah kita akan tumbuh anak-anak solih. amiin

    Apa maksud belajar Iman sebelum Qur’an??

    Syaikh Abu Yazid bin Shafiyah Al-Madani Al-Jaza-iri –Hafizhahullah– menjawab:

    Sebenarnya syaikh Yazid sudah menjelaskan beberapa poin, namun akan saya simpulakn seperti di bawah ini:

    "Dan sebagai kesimpulan, wajib bagi seorang ibu untuk mengajarkan kepada anaknya pertama-tama tentang keimanan akan al-Quran beserta kedudukannya (2) juga tentang kewajiban untuk mengarahkan diri kepadanya seraya mentadaburi ayat-ayatnya. (3) Juga mengajarkan kepadanya rukun-rukun iman yang enam dan tiga pembagian tauhid hingga dia memandang penting untuk mengambil faidah dari al-Quran. (4) Juga mengajarkan kepadanya agar tidak menyenangkan keinginannya untuk sekadar membaca huruf-huruf al-Quran seraya mengabaikan ketentuan-ketentuan dan hukum-hukumnya"

    Jadi dari perkataan beliau di atas bisa disimpulkan, Iman sebelum Qur’an bukan berarti kita harus mengesampingkan belajar Al-Qur’an sejak dini, tapi kita hanya mengutamakan untuk mengajarkan tentang iman kepada Allah taala, kekuasaan Allah, Malaikat Allah, Kitab, RasulNya dan juga mengajarkan Al-Qur'an sambil ditanamkan makna-maknanya. Dengan demikian tatkala anak kita belajar Al-Qur’an, maka akan bertambah imannya.

    Belajar Qur’an Tanpa Belajar Iman


    Keadaan ini sering sekali kita jumpai, dimana anak-anak sudah disuruh menghafal Al-Qur’an tanpa mereka mengerti makna ayat yang dia hafal. Anak didorong untuk terus menghafal al-Quran 30 juz dengan tajwid makhraj yang bagus, namun tanpa ada nilai-nilai iman di dalamnya. Nilai iman seperti, memahami dan merenungi isi kandungan ayat tersebut, merenungi iman kepada Allah dari mulai penciptaan sampai kekuasaanNya dan masih banyak lagi.

    Belajar Iman Sebelum Al-Qur’an


    Ini adalah pembahasan yang sedang kita bahas. Tapi seperti apa aplikasinya?

    Disetiap pelajarannya terdapat unsur iman, entah itu belajar Bahasa Indonesia maupun yang lainnya. Karakter iman sudah tertulis di dalam al-Quran yaitu di ayat-ayat Makkiyah, dari situlah tahapan belajar. Ketika melihat gunung, maka tanamkan nilai-nilai iman, apapun yang anak lihat seorang guru selalu menamkan iman sambil dibacakan ayat-ayatnya.

    Banyak sekali ayat yang membahas tentang benda-benda atau hewan-hewan yang Allah ciptakan, mulai dari gajah sampai yang lainnya. Begitulah karakter iman. Tapi selain itu anak juga menghafalkan surat-surat Makkiyah beserta memahami makna dan isi kandungannya. Ajak si anak men-tadabburi ayat yang sedang dihafalnya. Contohnya anak sedang menghafal ayat:

    قل هو الله احد

    Ajarkan anak untuk membaca terjemahan lalu kita jelaskan kebesaran Allah taala, yaitu meng Esa kan Allah, atau contoh lain ketika si anak sedang menghafal ayat-ayat tentang Surga Neraka, maka kita harus gambarkan bagaimana Surga untuk siapa Surga itu? Bagaimana Neraka untuk siapa Neraka itu? Seperti apa siksaannya?

    Oleh karna itu para guru/orangtua saya sarankan supaya anak menghafal dari surat-surat pendek Juz 30-24 karna di dalamnya adalah surat-surat makiah (pembahasannya di bawah).

    Jadi bukan berarti kita tidak mengajarkan Al-Qur’an ketika anak sedang belajar Iman, tapi iman terus ditanamkan, untuk lebih jelasnya silahkan baca: cara mendidik anak menurut Islam

    Mengapa Membangun Karakter Iman Sejak Dini??

    Sebagaiman yang sudah teman ketahui, anak terlahir dalam keadaan fitrah, Allah ta'ala sudah membuat iman di hati-hati mereka bahkan di usianya yang masih sangat kecil, polos rasa ingin tahu yang luar biasa.  Bahkan kita sering mendapati pertanyaan-pertanyaan iman dari anak-anak "Dimana Allah?" dan "Seperti apa sih Surga Neraka?" dan masih banyak lagi.

    Di saat inilah orangtua/guru berusaha keras supaya memahamkan anaknya tentang keimanan-keimanan. Sehingga jika sudah kokoh keimanan di hati mereka, kelak sudah kuat untuk menahan beban syari’at, menjaga solatnya menjaga hafalannya dll.

    Contoh membangun karakter iman sejak dini:

    Note: Jika antum pake UC Browser maka video tidak terlihat, sebab UC mem block konten gambar dan video. Silahkan ganti browser lain.



    Jangan Gagal saat Membangun Karakter Iman


    Demi memenuhi tujuan kita, yaitu menjadikan anak kita tidak nakal di sekolah maupun di lungkungan masyarakat sekitar, maka jangan sampai lengah dan mengabaikan pembangunan karakter iman pada anak-anak.

    Apa jadinya jika rumah dibangun tanpa pondasi yang kuat? Apakah kuat menahan atap? Menahan tembok, bata dan lainnya? Anak bagaikan tahap pertama dalam pembangunan sebelum memasuki masa baligh, di masa baligh anak sudah terbebani syari’at-syari'at. di saat inilah orangtua dan guru tidak boleh lengah. Bangunlah pondasi yang kuat sekuat gedung pencekar langit.

    Tidak sedikit anak-anak yang kekuatan imannya sudah kuat ia menangis saat dibacakan terjemahan dari Al-Qur’an.(sesuai pengalaman yang saya temui di Kuttab).

    Panduan Membangun Karakter Iman:


    Di bawah ini, poin-poin bagaimana kita membangun karakter Iman:

    1. Menggunakan Urutan dalam Mendidik Anak Usia Dini


      Mungkin teman Abana pernah mendapati anak-anak yang masih kecil sudah dipaksa puasa senin-kamis atau menghafal sampai nangis-nangis sedangkan dia lengah untuk mengajarkan ke imanan??
      Saya yakin ada yang seperti itu!

      Salah satu konsep Islam adalah soal urutan, urutan kejadian. Bukankah sudah ada potretnya? Bukankah Allah taala mengajarkan demikian? Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wassalam diajarkan bagaimana cara menyampaikan dakwah.

      Dengan cara menurunkan suarat Makiyah sebelum Madaniyah, mengapa? Demi menguatkan pondasi keimanan! Suarat makiyah yang kebanyakan berisikan Kebesaran Allah taala, Iman kepada hari akhir, kisah-kisah Nabi dan Iman kepada yang ghoib seperti Surga Neraka.Kalau Madaniah berisikan beban syari’at Qisos,Hudud.

      Pertanyaannya, kira-kira anak usia 5-Baligh ada di tahapan yang mana? Makyiah/madanyiah?
      Tentu saja makyiah. Ayo kita belajar dari urutan. Semua sudah tertulis jelas dalam islam kita tinggal meng-aplikasikan. Jangan lengah dalam mengajarkan karakter iman pada anak.

      2. Kaitkan Keimanan di Setiap Kejadian!


      Bagaimana mengaitkan keimanan di setiap kejadian? Misal, anak kita terbakar tangannya, teman-teman jangan fokus menenagkan anak yang kesakitan, hendaknya kita kaitkan dengan keimanan.

      "Aduh kenapa Nak?  Terbakar ya? Tau tidak Nak', api Neraka masih belum apa-apanya sama ini, Coba bayangkan, baru terbakar segini saja sakit kan? Apalagi di Neraka" dan yang serupa dengan itu.

      3. Seimbang Antara Menakuti dan Menyenangkan


        Cara berikutnya dalam membangun karakter iman adalah seimbang dalam menakuti dan membahagiakan. Akan sangat tidak adil jika orangtua terus menceritakan Neraka ke anaknya namun lupa untuk bercerita tentang nikmat Surga, di dunia anak-anak seakan-akan Allah taala kejam atau Islam menakutkan.

        Hal demikian jangan sampai terjadi. Jika kita perhatikan, setiap di sana ada ayat berkaitan dengan surga pasti Allah taala ceritakan Neraka atau sebaliknya, tinggal dilihat kira-kira ayat tersebut dikuatkan untuk orang beriman atau orang kafir. Jika orang kafir pasti kisah Nerakanya lebih banyak sedikit. Wallahua'lam

        Baca juga:

        Cara Menghukum Anak dalam Islam yang Mendidik dan Benar

        Penutupan:

        Usaha kita akan dipermudah jika kita barengi dengan doa-doa terbaik dari orangtua untuk sang anak/ dari seorang guru kepada muridnya. Maka tidak heran kemianan para sahabat sangat tinggi, karna mereka tidak dengan cara yang biasa-biasa saja..jangan lengah! Jangan lengah dalam menumbuhkan karakter iman sejak dini.

        Alhamdulillah, akhirnya pembahasan tentang mengatasi anak nakal yang baik dan benar sesuai Islam sudah dipelajari, sekarang selamat mencoba dan selalu berdoa kepada Allah. Ya Allah bimbinglah kami...Wallahu'alam -Share!-

        Penulis: Mujahid Pendidikan Abu Zaid

        Referensi:
        • Al-Qur'an Al-Karim
        • Tarbiyatu Aulad DR.Kholit Syantut
        • Modul Kuttab 1
        • Catatan Abu Fahd Jalal Lc
        Perhatian: Jika Akhi/Ukhti ingin menyebarkan artikel abanaonline, kami izinkan (copy-paste). Namun, mohon untuk menyertakan sumber tanpa ada yang dirubah isinya. Kebijakan Iklan: Iklan yang ada di sini sudah diatur oleh pihak Google. Apabila Antum menemukan iklan yang kurang layak, bisa melaporkan ke no WA admin: 085809999008.

        3 Komentar Anak Nakal? Begini Cara Mengatasi yang Baik dan Benar

        Tulis komentar di sini dan centang tombol "Notify me" atau "Ingatkan kami" agar Antum bisa melihat balasannya. Syukran

        Back To Top