Kisah Sahabat Muadz bin Jabal dan Kecerdasannya

Kisah Sahabat Muadz bin Jabal Dan Kecerdasan Muadz Membuat Kita Tersenyum

"Orang yang paling mengetahui halal dan haram dari umatku adalah Muadz bin Jabal" Sabda Rasululloh Shalallahu alaihi wassalam.
    Dari deretan kisah-kisah yang sudah abana tulis, hampir semuanya seorang pemuda. Hal ini membuat saya yakin bahwa pemuda memiliki banyak keistimewaan, bukan keburukan-keburukan seperti yang sudah kita kenal.

    Kisah Sahabat Muadz bin Jabal, seorang pemuda Yatsrib yang rupawan, bermata kecoklatan, berambut ikal dengan senyumnya yang berbinar sehingga banyak orang yang mengaguminya. Dia adalah pemuda yang sangat cerdas, pandai dalam bertutur kata, dan keluhuran cita citanya.

    Kisah Muadz bin Jabal dalam Menerima Islam


      Melalui tangan seorang da’i muda dari Yatsrib (Mushab bin Umair) Muadz bin Jabal masuk Islam, tepatnya pada malam Aqobah. Muadz bin Jabal berbaiat di atas tangan Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam diusianya yang masih belia.

      Muadz bin Jabal adalah salah satu dari 72 orang Yatsrib yang berangkat ke Makkah untuk berjumpa dengan sang baginda, Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam. Nah, terjadilah Baiat yang ke 2.

      Dengan gagah berani dan keluhuran cita-cita Muadz bin Jabal, sekembalinya dari Makkah ke Madinah, ia langsung membentuk sekelompok dengan pemuda yang lainnya untuk berdakwah dengan cara menghancurkan berhala-berhala secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan.

      Tersenyumlah..Begini Kisah penghancuran berhala oleh kelompoknya Muadz bin Jabal adalah yang terjdi pada salah satu pemuka Bani Salamah


        Pada Malam hari disaat orang-orang sedang tidur, kelompok Muadz bin Jabal memulai aksi mereka. Dimulai dari rumah salah satu pemuka Bani Salamah yang bernama Amru bin Al-Jamuh.

        Dia mempunyai berhala yang dia buat dari kayu mahal, selalu memberinya minyak wangi dan memandikannya. Pada malam hari inilah sekelompok pemuda Yatsrib mengendap ke rumah tersebut dan mengambil berhala kemudian membuangnya ke tempat sampah.

        Pagi harinya, Amru bin al Jamuh mencari berhala itu dan menemukannya berada di tempat sampah sembari berkata,

        "celakalah, siapa yang berani mencuri berhala ini?", Amru mengambilnya kembali dan memandikannya serta memberinya minyak wangi.

        Tibalah malam lagi, Amru tidur dan sekelompok Muadz bin Jabal mulai aksinya lagi yaitu mengambil berhala dan membuangnya ke tempat sampah. Pagi harinya Amru mencari dan berhala ditemukan kembali di tempat sampah seperti sebelumnya. Amru pun mengambilnya lagi, memandikan dan memakaikan minyak wangi sembari berkata:

        "Wahai Manat demi Allah kalau aku tahu siapa yang melakukan ini niscaya aku akan membuat perhitungan padanya."

        Hal itu terjadi berulang-ulang, hingga akhirnya Amru mengancam dengan ancaman yang lebih keras. Setelah merasa jengkel, akhirnya Amru meletakkan sebuah pedang di atas pundak berhalanya dan berkata,

        "Demi Allah aku tidak tahu siapa yang melakukan ini padamu, jika kau memiliki kebaikan maka belahlah dirimu, ini pedang bersamamu."

        Malam harinya Muadz bin Jabal beraksi kembali..

        Muadz dan sekutunya mulai beraksi. Dia mengambil pedang yang berada dipundak berhala dan mengaitkannya dengan bangkai anjing, setelah itu dibuanglah berhala tersebut ke tempat sampah. Seperti biasa, pagi harinya Amru merasa marah dan mencarinya lagi, dia menemukan berhalanya di tempat sampah dalam keadaan terjungkir dan penuh dengan kotoran. Amru berkata:

        "Demi Allah, kalau kamu adalah Tuhan niscaya kamu tidak akan pernah terikat dengan bangkai seekor anjing didalam sebuah sumur."

        Subhanallah wal hamdulillah, dakwah yang dilakukan Muadz bin Jabal dan kelompoknya menghasilkan sesuatu yang sangat baik, yakni masuk Islamnya Amru bin Al-Jamuh, pembesar Yatsrib.

        Kisah Muadz bin Jabal bersama Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam


        Ketika di Madinah, Muadz bin Jabal belajar Syariat dan Al-Quran dengan Rasullullah Shalallahu alaihi wassalam sehingga dia bisa berada dibarisan depan para sahabat Qurra', karena dia sangat mengerti dan mahir dalam bidang syariat Allah.

        Yazid bin Quthaib berkata, "Aku datang ke masjid Hims, aku melihat seorang anak muda berambut ikal, orang-orang berkumpul kepadanya. Jika dia berbicara seolah-olah cahaya dan mutiara keluar dari mulutnya. Aku bertanya," Siapa dia?" orang-orang menjawab," Muadz bin Jabal."

        Abu Muslim Al-Khaulani berkata,

        "Aku datang ke masjid Damaskus, aku melihat sebuah halaqoh yang berisi para sesepuh dari para sahabat Rasul, namun diantara mereka ada seorang pemuda dengan mata kecoklatan dan senyumannya yang menawan, setiap kali mereka berselisih dalam suatu masalah mereka selalu mengembalikan kepadanya, maka aku bertanya kepada seseorang didekatku, Siapa anak muda itu? Dia menjawab, "Muadz bin Jabal."

        Subhanallah diusianya yang masih sangat muda, sudah banyak orang yang mengagumi Muadz.

        Hal itu tidaklah aneh, karena sahabat Muadz adalah murid  terbaik Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam, dia menimba ilmu dari sumber yang mengalir deras.
        Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam bersabda,

        "Orang yang paling mengetahui halal dan haram adalah Muadz bin Jabal."

        Muadz bin Jabal juga salah satu sahabat yang mengumpulkan Al-Quran di Zaman Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam, sehingga jika para sahabat berbicara mengenai Al-Quran dan di situ ada Muadz. Lalu mereka merasa segan terhadapnya karena tingginya ilmu Muadz bin Jabal.

        Setelah Fathu Makkah, orang-orang Quraisy berbondong-bondong masuk Islam dan mereka membutuhkan seorang pendidik di Makkah, maka Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam menyerahkan pendidikan di Makkah kepada Attab bin Usaid dan Muadz bin Jabal sebagai pendidik al Quran dan memahamkan mereka tentang syariat islam.

        Begitu juga saat Raja-raja Yaman masuk islam, mereka meminta beliau untuk mengirimkan seseorang yang bisa mengajari mereka syariat Allah.Kemudian beliau mengirim sekelompok untuk menjadi pendidik di Yaman yang dipimpin oleh Muadz bin Jabal.

        Kata Terakhir Nabi Shalallahu alaihi wassalam Kepada Muadz


          Pada saat Muadz bin Jabal di utus, Nabi Shalallahu alaihi wassalam mengantar Muadz dan wasiat Nabi kepadanya.

          Inilah pertemuan Muadz bin Jabal yang terakhir dengan Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam, saat itu Nabi mengantar Muadz bin Jabal yang akan berangkat ke Yaman, posisi beliau dibawah kendaraan sedangkan Muadz diatas kendaraannya, lalu beliau berwasiat kepada Muadz, "Wahai Muadz, mungkin kau tidak akan bertemu denganku lagi setelah tahun ini, mungkin kau akan melewati masjid dan kuburku."

          Maka Muadz menangis sedih, sedih berpisah dengan Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam kekasihnya dan juga Nabinya,kaum Muslimin yang mendengarkan wasiat itu juga ikut menangis.

          Sejak kematian Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam, mata Muadz bin Jabal terlihat tidak pernah bahagia, saat dia kembali dari Yaman, dia sudah tidak bisa bertemu dengan Nabi lagi, karna sebelum Muadz kembali dari Yaman, Nabi sudah wafat.

          Saat kembali ke Madinah Muadz bin Jabal langsung menangis. Singkat cerita ketika kepemimpinan Umar bin Khatthab, Muadz dikirim ke Bani Kilab untuk membagikan jatah pemberian mereka dan membagikan zakat kepada fakir miskin, kemudian Muadz melaksanakan tugas yang telah dibebankan kepadanya.

          Istrinya bertanya, "Mana yang kau bawa dari jatah yang biasa dibawa oleh para petugas negara untuk keluarga mereka?"

          Muadz menjawab, "Aku mempunyai seorang pengawas yang selalu hadir dan menulis perbuatanku."

          Istrinya berkata, "Di zaman Rasulullah Engkau adalah orang yang terpercaya, begitu juga saat kekhilafahan Abu Bakar, namun disaat kekhilafahan Umar bin Khattab dia mengirimkan pengawas atasmu untuk mengawasimu?"

          Lalu istri Muadz pergi dan menemui istri Umar, dia menceritakan hal tersebut kepada istri Umar, Maka istri Umar pulang dan menceritakan nya kepada Umar. Esok harinya Umar bertemu dengan Muadz, dan bertanya, "Wahai Muadz apa benar aku telah mengutus pengawas untuk mengawasimu?"

          Muadz menjawab, "Tidak wahai Amirul Mukminin, hanya saja aku tidak punya alasan lain yang membuat istriku bisa menerima." Umar tertawa mendengar hal itu dan berkata, "Buatlah dia rela dengan ini."

          Kisah Muadz bin Jabal Diutus ke Syam


            Gubernur Syam mengirim surat kepada Umar bin Khattab yang isinya bahwa negeri Syam sudah sangat banyak penduduknya sampai ke pelosok maka dia meminta Umar untuk mengirim beberapa orang untuk mengajari panduduk Syam belajar Al Quran.

            Lalu Umar bin Khattab memanggil 5 orang sahabat, mereka adalah Muadz bin Jabal, Abu Darda, Abu Ayyub, Ubadah bin Shamit dan Ubay bin Kaab. Mereka adalah sahabat Nabi yang mengumpulkan Al-Qur’an di zaman Nabi Shalallahu alaihi wassalam.

            Umar berkata:

            "Sesungguhnya saudara-saudara kalian dari Syam membutuhkan beberapa orang yang bisa mendidik mereka dan memahamkan agama kepada mereka. Maka tolonglah aku, semoga Allah merahmati kalian, jika kalian berkenan maka undilah 3 orang diantara kalian, jika tidak maka aku yang akan menunjuk 3 orang diantara kalian."

            Mereka berkata, "Untuk apa diundi? Abu Ayyub sudah sangat tua dan Ubay sedang sakit, maka tinggal kami bertiga."

            Umar berkata,"Baiklah, mulailah dari Hims jika kalian sudah menerima penduduknya, maka tinggalkanlah salah seorang dari kalian, lalu lanjutkan ke Damaskus kemudian ke Palestina."

            Mereka mulai berangkat dan mereka tinggal di Hims seperti yang diperintahkan Umar. Ubadah lah yang akhirnya tinggal di Hims, Abu Darda’ di Damaskus dan Muadz bin Jabal di Palestina.

            Kisah Wafat Muadz bin Jabal dan Kata Terakhir Penuh Ibrah


              Ketika di Palestina, Muadz bin Jabal terjangkit penyakit, ajal sudah mendekatinya dan keadaan dia saat itu sedang menghadap kiblat sambil berkata, "Selamat datang kematian, selamat datang kematian, pengujung yang hadir setelah ketidakhadirannya, kekasih yang datang dengan kerinduan."

              Lalu dia menghadap ke langit dan berkata:

              "Ya Allah, sesungguhnya Engkau tahu bahwa aku tidak mencintai dunia dan lamanya kehidupan untuk menanam pohon dan mengalirkan sungai, akan tetapi untuk menghadapi kehausan terik matahari, memanfaatkan kesempatan dan bergaul dengan para Ulama’ di halaqah-halaqah dzikir. Ya Allah terimalah jiwaku dengan kebaikan seperti Engkau menerima jiwa yang beriman."

              Innalillahiwainna ilaihi raaji’un...wafatlah Muadz bin Jabal dengan jiwa yang beriman dan dalam keadaan jauh dari keluarganya.
              Semoga Kisah Sahabat Muadz bin Jabal bisa bermanfaat dan kita ambil pelajarannya. 

              Tag Hafalan :

              • Muadz masuk Islam melalui Mush’ab bin Umair
              • Sahabat Muadz bin Jabal mengikuti Baiat Aqobah ke 2 yang berjumlah 72 Orang
              • Sahabat Muadz sangat ahli dibidang Syariat dan Al-Qur’an
              • Muadz bin Jabal membuang berhala di salah satu rumah pemuka Bani Salamah Amru bin Al-Jamuh
              • Salah satu shahabat yang mengumpulkan Al Qur’an dizaman Nabi
              • Pendidik Al- Qur’an dan syariat di Negeri Yaman, Makkah dan Palestina

              Rencana Pembelajaran Anak

              • Anak mendengarkan proses masuk Islamnya Muadz bin Jabal
              • Ayah menceritakan kecerdasannya Muadz dalam hal Al-Qur’an dan Syariat
              • Orangtua mengarahkan ke Anak-Anak supaya bisa seperti Muadz bin Jabal dalam bidang Al-Qur’an
              • Orangtua menceritakan kisah Muadz bin Jabal dan pemuka Yatsrib Amru Al-Jamuh dengan dramatis penuh dan merendahkan patung-patung yang tidak bisa berbuat apa-apa.
              • Dan Mengingatkan bahwa Allah yang berhak di sembah.

              Al-Amir/Shuwaru Min Hayatis Shahabah Dr.Abdurrahman Ra’fat Basya
              Perhatian: Jika Akhi/Ukhti ingin menyebarkan artikel abanaonline, kami izinkan (copy-paste). Namun, mohon untuk menyertakan sumber tanpa ada yang dirubah isinya. Kebijakan Iklan: Iklan yang ada di sini sudah diatur oleh pihak Google. Apabila Antum menemukan iklan yang kurang layak, bisa melaporkan ke no WA admin: 085809999008.

              0 Komentar Kisah Sahabat Muadz bin Jabal dan Kecerdasannya

              Posting Komentar

              Tulis komentar di sini dan centang tombol "Notify me" atau "Ingatkan kami" agar Antum bisa melihat balasannya. Syukran

              Back To Top