Kisah Dahsyat Usamah bin Zaid Pemuda Sentuhan Nabi

Usamah bin Zaid Pemuda Sentuhan Nabi

Kisah Usamah bin Zaid Pemuda Sentuhan Nabi  -Mari kita memulai menajamkan pandangan ke arah sejarah perjalanan para sahabat sentuhan Nabi saat masih kecil, salah satunya Usamah bin Zaid. Dengan ini, semoga mmasyarakat muslim bisa menerapkan konsep pendidikan Nabiyang telah diterapkan kepada sahabat-sahabat kecil beliau. Baiklah langsung saja, inilah biografi singkat beliau..

Keagungan Keluarga Usamah bin Zaid

Usamah bin Zaid memiliki keluarga yang mulia. Baik dimata nabi maupun para sahabt lainhya. Ayahnya adalah  Zaid bin Haritsah Ayah Usamah. Sebagaimana yang sudah ditulis dalam kisahnya bahwa kecintaan nabi terhadapnya dan kecintaan beliau kepada nabi tidak diragukan lagi. Bahkan, ayahnya Usamah ini lebih memilih hidup bersama nabi daripada ayah dan ibunya. Subhanaallah..

Lalu siapa Ibu Usamah bin Zaid?

Nama asli Ibu Usamah bin Zaid adalah Barakah Al-Habasyiyah, beliau dijuluki dengan Ummu Aiman. Ummu Aiman adalah hamba sahaya Aminah binti Wahab (Ibunda kandung Rasulullah).

Kisah Kedekatan Orangtua Usamah dengan Nabi


Usamah memiliki hubungan yang erat kepada nabi, sebab kedua orangtuanya sangat dekat sekali dengan Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam , bahkan setatus ayahnya, Zaid pernah dijadikan anak angkat Rasulullah, sedangkan Ummu Aiman, sudah seperti Ibu kandungnya sendiri.

Beliau sering berkata, "Dia adalah ibu setelah ibuku dan sisa dari keluargaku"

Karna setelah Aminah binti Wahab meninggal dunia, Ummu Aiman mengambil alih pengurusan anak Aminah binti Wahab (Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam) saat masih kecil, maka tidak heran kedekatan Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam dengan Ummu Aiman seperti ibunya sendiri.

Maka bisa disimpulkan, Usamah bin Zaid sangat dicintai nabi, karena kedekatan Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam dengan Zaid seperti Anak sendiri. Sedangkan dengan Ummu Aiman seperti ibunya sendiri. Subhanallah.. Luar biasa!

Tanggal dan Lahirnya Usamah bin Zaid


Dalam kisah singkat Usamah bin Zaid di kitab Shuwaru bin Hayatis Shahabah disebutkan bahwa Usamah lahir disaat Nabi sedang mengemban dakwah yang penuh dengan rintangan, yakni pada tahun 7 (ketujuh) sebelum hijrah/ tahun ke-7 kenabian.

Berbagai rintangan dan siksaan yang dialami oleh As-Sabiqunal Awwalin sangatlah berat, namun ditengah kesedihan Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam...ada secercah kebahagiaan. Seseorang membawa berita gembira kepada Nabi Shalallahu alaihi wassalam tentang kelahiran Usamah.

Betapa bahagianya Nabi Shalallahu alaihi wassalam setelah mendengar kabar lahirnya Usamah, sampai-sampai para sahabat pun heran dengan berseri serinya wajah beliau saat itu. Kaum muslimin juga sangat berbahagia saat Usamah lahir seperti bahagianya Nabi.Para sahabat menjulukinya dengan julukan Al Hibb wa Ibnu al Hibb.

Usamah bin Zaid di Mata Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam


Dengan kedudukan kedua orangtuanya yang begitu dekat dengan Nabi Shalallahu alaihi wassalam, maka sudah sewajarnya Nabi mencintai Usamah bin Zaid. Bahkan cintanya Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam kepada Usamah bin Zaid seperti cintanya kepada cucunya, Hasan bin Ali.

Karna saat itu, Usia Usamah sepantaran dengan Hasan cucu Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam, hanya saja Hasan berkulit putih bersih, tampan, sangat mirip seperti kakeknya, sedangkan Usamah bin Zaid berkulit gelap, hidung pesek sangat mirip dengan ibunya, wanita Habasyah 'Ummu Aiman'. Namun, Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam tetap sama sama mencintai keduanya dan tidak membedakan satupun.

Suatu ketika Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam memangku Usamah di paha kiri beliau, sedangkan Hasan dipangku dipaha Rasul yang kanan, kemudian merangkul keduanya dan berdoa, "Ya Allah sesungguhnya aku mencintai keduanya, maka cintailah keduanya."

Cerita lain tentang cinta Nabi Shalallahu alaihi wassalam  kepada Usamah bin Zaid, "Suatu ketika Usamah terpeleset, kemudian Nabi menghisab darah yang keluar dari kening Usamah bin Zaid, sambil menenangkan dengan kelembutan dan kasih sayang".
Manakala Usama bin Zaid menginjak masa dewasa, dia memperlihatkan sifat-sifat luhur dan pembawaan-pembawaan mulia. Usamah adalah pemuda yang sangat cerdas, pemberani, ramah, dan bijak,menolak perkara-perkara rendah dan digemari oleh masyarakat. Allah pun  mencintainya.

Kisah Usamah bin Zaid pada Perang Uhud


Dalam perang ini Nabi Shalallahu alaihi wassalam didatangi anak-anak muda yang ingin ikut berperang, sebagian mereka dibolehkan ikut serta dan sebagian lagi tidak diperbolehkan, salah satu yang tidak diperbolehkan ikut perang, adalah Usamah bin Zaid karna dinilai Nabi belum cukup umur.

Usamah sangat sedih tidak bisa ikut berjihad dijalan Allah dan pulang dengan berlinang air mata dan menangis. Subhanallah ... mencari contoh tunas yang berkualitas? Lihatlah Usamah bin Zaid. Anak-anak pemberani, dan keimanan yang luar biasa.

Kisah Usamah bin Zaid pada Perang Khandaq


Pada kisah perang Khandaq, Usamah bin Zaid yang ber umur 15 Tahun, kembali izin kepada Rasul untuk ikut serta, sampai-sampai Usamah ini harus mendongakkan kepalanya agar terlihat tinggi, supaya dibolehkan ikut berjihad. Alhamdulillah kali ini Usamah bin Zaid berhasil dan akhirnya diizinkan Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam untuk ikut berjihad.

Kisah Usamah bin Zaid pada Perang Hunain

Kemudian di perang Hunain, Usamah bin Zaid juga ikut serta, bahkan saat kaum Muslimin hampir kalah dan terpukul mundur, Usamah bin Zaid dengan gagah berani untuk tetap maju bersama paman Nabi (Al Abbas) dan sepupu beliau Abu Sufyan bin al Harits dan juga 6 orang sahabat Nabi.

Dengan semangat mereka, maka akhirnya perang berakhir dengan kemenangan yang berhasil diraih kaum muslimin. Kembali lagi.. keberanian Usamah bin Zaid bisa menjadi Potret pemuda masa kini.

Kisah Usamah bin Zaid dan Perang Mu’tah


Disinilah Zaid bin Haritsah, ayah Usamah bin Zaid wafat sebagai Syahid, Usamah melihat kematian ayahnya dengan matanya sendiri, namun Usamah tetap semangat dan sama sekali tidak melemah semangatnya, Usamah terus maju berperang dibawah panji-panji Ja’far bin Abu Tholib.

Ja’far pun akhirnya gugur, maka berpindahlah, bendera perang ditangan Abdullah bin Rawahah, Usamah bin Zaid masih terus semangat dibawah panji Abdullah, hingga akhirnya Abdullah juga gugur, maka berpindahlah bendera perang ditangan Khalid bin Walid, Usamah bin Zaid tetap semangat berjihad hingga kaum muslimin berhasil memukul mundur pasukan Ramawi dibawah panji Khalid bin Walid.

Subhanallah betapa tegarnya Usamah bin Zaid ini, sehingga dengan kematian ayahnya, Usamah bin Zaid tidak menurunkan semangatnya untuk terus melawan kaum Musyrikin. Usamah kembali ke madinah dengan mengendarai kuda yang dipakai ayahnya, diatas kuda inilah, ayah Usamah gugur, dan Usamah meninggalkan jasad ayahnya diperbatasan Syam.Subhanallah...

Ya Allah.. Lahirkanlah Usamah-Usamah Baru ..

Kisah Sahabat Usamah bin Zaid dan Pasukan Ramawi


Cerita ini dimulai saat tahun 11 Hijriyah.

Pada tahun ini, Nabi Muhammad Shallahu alaihi wassalam bersiap-siap untuk melawan pasukan Ramawi, Nabi Muhammad Shallahu alaihi wassalam menyiapkan pasukan dari kalangan pembesar-pembesar sahabat, Abu Bakar Ash-Siddiq, Umar bin Khattab, Saad bin Abi Waqash, Abu Ubaidah bin Al Jarrah dan sahabat yang lainnya.

Amanah Nabi Untuk Usamah bin Zaid


Usamah bin Zaid yang masih berumur kurang dari 20 Tahun, Mendapat amanah yang luar biasa dari Nabi Muhamad Shallahu alaihi wassalam, Usamah bin Zaid ditunjuk sebagai Panglima perang, Nabi memerintah Usamah bin Zaid untuk membawa pasukannya diperbatasan al Balqa’ dan benteng Ad Darum dekat Ghazzah di negeri Ramawi.

Padahal jika kita lihat masih banyak sahabat-sahabat yang lebih berumur daripada Usamah bin Zaid, namun, beginilah cara Rasulullah Shallahu alaihi wassalam dalam memerankan pemuda pada saat itu, di sisi lain, Nabi sudah mengatahui potensi yang luar biasa dari Usamah bin Zaid.

Saat pasukan Usamah bin Zaid bersiap-siap untuk berangkat, Rasulullah Shallahu alaihi wassalam sakit. Ketika sakit Rasulullah Shallahu alaihi wassalam semakin parah dan berat, Usamah bin Zaid berhenti dan menunggu kepastian kabar tentang keadaan Nabi Muhammad Shallahu alaihi wassalam.

Lalu Usamah berkata:

"Manakala sakit beliau semakin berat, aku menjenguknya bersama orang banyak dan aku melihat beliau hanya diam saja, karena sakitnya yang berat, beliau mengangkat tangannya ke langit kemudian menunjuk kepadaku, aku tahu beliau telah berdoa untukku."

Guru Terbaik Usamah bin Zaid Menemui Rabb Nya


Tidak lama setelah itu, Nabi Muhamad Shallahu alaihi wassalam wafat dan ini menjadi kesedihan yang mendalam bagi Usamah bin Zaid.

Setelah wafatnya Rasulullah Shallahu alaihi wassalam, Baiat Abu Bakar disepakati, dan menjadi Khalifah pertama dalam Islam. Salah satu progam Abu Bakar adalah, melanjutkan Amanah Nabi Muhammad Shallahu alaihi wassalam dengan mengirim pasukan Usamah bin Zaid melawan pasukan Ramawi.

Kisah Usamah bin Zaid dan Usulan orang orang Anshar

Namun, beberapa orang Anshar mendatangi Umar bin Khathab untuk berkata kepada Abu Bakar, jika menginginkan pasukan ini tetap berangkat, maka Abu Bakar harus mengganti panglima perang, dikarenakan Usamah bin Zaid masih sangatlah muda belia untuk menjadi panglima perang.

Umar pun mendatangi Abu Bakar dan mengatakan apa yang diusulkan orang-orang Anshar, namun apa yang terjadi?? Abu Bakar justru marah sembari menggenggam janggut Umar bin Khattab dan berkata:

"Celaka Kamu!! Nabi telah mengangkatnya menjadi panglima lalu kau malah memintaku untuk mencopotnya?   Demi Allah, tidak akan pernah terjadi(aku tidak akan mengganti orang yang telah diangkat Rasul menjadi panglima)”

Lalu Umar bin Khattab kembali kepada orang Anshar dengan membawa berita tentang keputusan Abu Bakar, lalu berkata, “Celaka Kalian!! Aku telah mendapat Amarah dari Khalifah Rasulullah Shallahu alaihi wassalam karena usulan kalian !!”

Keberangkatan Pasukan Usamah bin Zaid


Akhirnya pasukan ini berangkat dibawah pimpinan Usamah bin Zaid.

Abu Bakar mengantarkannya dengan berjalan kaki dan Usamah bin Zaid diatas kuda, karna rasa hormatnya Usamah bin Zaid terhadap Abu Bakar, maka Usamah bin Zaid meminta Abu Bakar As-Shiddiq untuk naik diatas tunggangan dan Usamah bin Zaid akan turun dan berkata:

"Wahai Khalifah Rasulullah Shallahu alaihi wassalam, demi Allah naiklah atau aku akan turun"

Namun apa jawaban Abu Bakar? 

"Demi Allah jangan turun, dan aku tidak akan naik, Demi Allah, tidak mengapa bagiku mengotori ke dua kakiku dengan debu di Jalan Allah"

Begitulah Abu Bakar Ash-Shiddiq ingin memberikan kepercayaan kepada Remaja. Subhanallah .. sikapnya yang merendahkan hati dan tidak sombong terhadap rakyatnya. Kemudian Abu Bakar melanjutkan perkataannya kepada Usamah:

"Aku menitipkan agamamu, amanatmu, dan penutup amalmu kepada Allah, aku berwasiat kepadamu dengan apa yang Nabi Shallahu alaihi wassalam perintahkan kepadamu."

Bisikan Abu Bakar dan Meminta Izin kepada Panglima

"Jika Kamu berkenan untuk tidak membawa Umar ke medan perang, Umar bisa membantuku menemaniku di Madinah, biaraka dia tinggal bersamaku" Abu Bakar menginginkan agar Umar tetap tinggal di madinah agar membantu Abu Bakar, maka Usamah bin Zaid mengizinkan Umar untuk tidak ikut berperang.

Peperangan Pasukan Usamah bin Zaid


Saatnya Usamah bin Zaid mulai maju dan melaksanakan perintah Rasulullah Shallahu alaihi wassalam. Usamah bin Zaid membawa pasukannya ke perbatasan Al-Balqa’ dan benteng Ad-Darum di bumi Palestina

Begitu bijaksana dan semangat yang membara dari sang panglima muda, Usamah bin Zaid telah mencabut rasa takut kaum muslimin terhadap Ramawi yang kuat dan besar. Membentang jalan di hadapan mereka untuk membuka Negri-Negri Syam, Mesir dan Utara Afrika seluruhnya.

Perang terus bergejolak, dan akhirnya pasukan muslimin pulang membawa kemenangan.

Usamah bin Zaid dan pasukannya pulang membawa banyak harta rampasan bahkan harta tersebut melebihi diatas jumlah perkiraan.Sampai sampai ada sahabat yang berkata, "Tidak ada pasukan yang lebih selamat dan banyak harta rampasannya melainkan dari pasukan Usamah bin Zaid."

Kemuliaan Usamah bin Zaid


Seperti itulah panglima muda yang dicintai Nabi Shallahu alaihi wassalam, sampai-sampai kaum muslimin mencintai dan menghormati Usamh bin Zaid sepanjang hidupnya. Sampai suatu ketika Umar ini menggaji Usamah bin Zaid dengan gaji yang lebih besar daripada gaji anaknya sendiri (Abdullah bin Umar), sehingga Abdullah bin Umar bertanya:

"Kenapa gaji saya hanya 3 ribu dirham sedangkan Usamah 4 ribu dirham?"

Umar bin Khattab menjawab: "Karna dia adalah panglimaku, Rasulullah Shallahu alaihi wassalam lebih mencintai bapaknya daripada aku, dan lebih mencintai Usamah bin Zaid daripada kau."

Seperti inilah Usamah di mata para sahabat, mereka semua mencintai dan menghormati panglima muda yang ditunjuk langsung oleh Rasululloh Shallahu alaihi wassalam.

Kalimat terakhir – Sejarah Akan Berulang, Akan tumbuh Usamah-Usamah baru-

Ya Allah, bimbinglah Kami! Referensi: Shuwaru Min Hayatis Shahabah Dr.Abdurrahman Ra’fat Basya


Tag Hafalan:
  1. Usamah bin Zaid Lahir di tahun 7 Sebelum Hijrah
  2. Perang Khandaq adalah perang Pertama kali bagi Usamah bin Zaid (Umur 15 Tahun)
  3. Belum genap 18 Tahun, Usamah bin Zaid mengikuti peperangan Mu’tah dan menyaksikan kematian Ayahnya
  4. Hasan dan Usamah bin Zaid pernah di atas pangkuan Nabi
  5. Dalam perang Uhud Nabi tidak mengizinkan Usamah bin Zaid Ikut berperang
  6. Penyiapan pasukan Usamah bin Zaid untuk melawan Ramawi terjadi 11 Hijriyah.
  7. Usamah bin Zaid berumur kurang 20 Tahun, saat ditunjuk sebagai komandan Perang.
  8. Usamah membawa Rampasan Perang paling banyak.
  9. Umar bin Khattab sangat menghormati Usamah bin Zaid


RPA 

Apa RPA? Baca di sini  Abana Online Menyajikan Kisah Penuh Bonus

  1. Mengajarkan ke anak, tentang keberanian Usamah bi Zaid dan keshalehan Usamah bin Zaid.
  2. Anak mendengarkan sifat-sifat Usamah bin Zaid di masa kecilnya
  3. Anak Mendengarkan penjelasan tentang "kesedihan Usamah saat tidak bisa ber Amal shaleh"
  4. Anak mendengarkan penjelasan, Amanahnya Abu Bakar Ash-Shiddiq terhadap tugas Nabi
  5. Anak mendengarkan penjelasan, tentang Kesolehan Usamah, Sampai-sampai dipilih sebagai Panglima perang melawan pasukan Ramawi.
  6. Anak mendengarkan sifat-siaft Usamah bin Zaid, Cerdas, Kuat, Motivator handal dan Sangat Sholeh, dan mengajak Anak supaya meniru Usamah bin Zaid


Demikian kisah Usamah bin Zaid Pemuda sentuhan Nabi, beserta tag hafalan dan RPA, jangan lupa ceritakan kisah singkat ini kepada peserta didik kita atau anak kita. Semoga akan menjadi pemimpin yang bertaqwa. Amiin
Perhatian: Jika Akhi/Ukhti ingin menyebarkan artikel abanaonline, kami izinkan (copy-paste). Namun, mohon untuk menyertakan sumber tanpa ada yang dirubah isinya. Kebijakan Iklan: Iklan yang ada di sini sudah diatur oleh pihak Google. Apabila Antum menemukan iklan yang kurang layak, bisa melaporkan ke no WA admin: 085809999008.

2 Komentar Kisah Dahsyat Usamah bin Zaid Pemuda Sentuhan Nabi

  1. "Anak mendengarkan penjelasan, tentang Kesolehan Usamah, Sampai-sampai dipilih sebagai Panglima perang pasukan Ramawi."

    Mungkin maksud antum adalah: ".......Panglima perang MELAWAN pasukan Ramawi."

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener Shihih, jazakumullah khoiran koreksinya.

      Hapus

Tulis komentar di sini dan centang tombol "Notify me" atau "Ingatkan kami" agar Antum bisa melihat balasannya. Syukran

Back To Top