Biografi Umar bin Abdul Aziz Sifat Kepemimpinannya Menggetarkan Hati Manusia

Biografi Umar bin Abdul Aziz, Sifat Kepemimpinannya Menggetarkan Hati Manusia


Biografi Umar bin Abdul Aziz ini adalah kiriman pembaca Abana, yang namanya tidak ingin disebut. Beliau mengambil dari kitab Biografi 60 Ulama Ahlus Sunnah Syaikh Ahmad Farid Cetakan Darul Haq. Semoga biografi Umar bin Abdul Aziz ini bisa menambah keilmuan kita terhadap ulama dan orang soleh.

Bagi Anda yang ingin mengirim kisah kepada kami bisa melalui E-Mail Abana atau halaman facebook Abana.

Biografi Perjalanan Hidup Khalifah Umar bin Abdul Aziz, Penuh Hikmah


Biografi Umar bin Abdul Aziz ini penuh dengan perjalanan yang mengesankan dan penuh hikmah. Setiap Anda selesai membaca satu lembar kisah hidupnya, maka hati akan tergerak untuk mengetahui lembar berikutnya. Lembar-lembar yang semakin kaya akan keindahan.

Dia adalah Umar bin Abdul Aziz hidup pada masa Khalifah Bani Umayyah. Nama aslinya adalah Umar bin Abdul Aziz bin Marwan bin al-Hakam bin Abu al-Ash bin Umayyah bin Abdu Syams bin Abdu Manaf bin Qushai bin Kilab.

Umar bin Abdul Aziz lahir di Hulwan, sebuah desa di Mesir pada tahun 61, ayahnya adalah gubernur di sana pada tahun antara 61 dan 63H, dan ibunya adalah Ummu Ashim binti Ashim bin Umar bin Khattab. Ada yang mengatakan bahwa kelahiran Umar bin Abdul Aziz tersebut di tahun terbunuhnya Husain yakni tahun 61 H.

Sedangkan ciri-ciri fisik Umar bin Abdul Aziz adalah berkulit coklat, berwajah lembut, bertubuh kurus dan berjenggot bagus. Di dekat matanya terdapat bekas luka tendangan hewan saat ia kecil dan masuk ke kandang hewan milik ayahnya.

Kisah Hidup Umar bin Abdul Azizi

Saat ayah Umar bin Abdul Aziz menjadi gubernur Mesir, dan saat itu Umar masih berusia belia, namun apakah saat itu Umar sudah Baligh atau belum masih ikhtilaf (ada perbedaan antara ahli sejarah).

Ketika itu ayahnya ingin membawanya keluar, Umar bin Abdul Aziz berkata, “Wahai ayah, mungkin lebih bermanfaat bagiku dan bagimu jika Engkau mengirimku ke Madinah, sehingga aku bisa duduk di majelis bersama para ahli fiqih, dan beradab dengan adab-adab mereka.” Ayahnya pun menyetujui permintaan Umar, maka ia mengirim Umar ke Madinah. Di sana Umar bin Abdul Aziz menjadi masyhur (terkenal) dengan ilmu dan akalnya, meskipun usianya masih sangat muda.

As-Suyuthi berkata:

"Umar bin Abdul Aziz sudah hafal qur’an sejak usia masih kecil, ayahnya mengirimkannya ke Madinah agar belajar di sana, dia pergi bolak-balik ke rumah Ubaidullah bin Abdullah untuk mendengarkan ilmu darinya. Maka ketika ayahnya meninggal dunia, Abdul Malik sebagai saudara Abdul Aziz (beliau sebagai paman Umar bin Abdul Aziz) memintanya untuk pulang yang kemudian ia dinikahkan dengan putri Khalifah Abdul Malik bin Marwan yang bernama Fathimah."

Kisah Umar bin Abdul Aziz Diangkat Sebagai Khalifah

Setelah kepemimpinan paman Umar bin Abdul Aziz yaitu Abdul Malik bin Marwan selesai, Abdul Malik bin Marwan menyerahkan kekhalifahan kepada anaknya al-Walid bin Abdul Malik.

Ketika al-Walid memegang tampuk kekhalifahan, dia mengangkat Umar bin Abdul Aziz sebagai gubernur Madinah. Dia menjabat selama 7 Tahun, dari tahun 86 sampai 93 H. Setelah jabatannya dicopot oleh al-Walid, Umar bin Abdul Aziz pergi ke Syam. Tidak lama kemudian, al-Walid mengangkat saudara kandungnya, Sulaiman bin Abdul Malik (dia sebagai adik al-Walid, anak Abdul Malik paman Umar bin Abdul Aziz).

Namun, belum lama kemudian Sulaiman bin Abdul Malik merasakan sakit. Ketika itu adalah hari Jum’at, setelah solat Jum’at, Sulaiman merasa tubuhnya mulai panas. Ketika tubuhnya semakin berat, dia menulis surat yang isinya pengangkatan khalifah untuk putranya Ayyub. Namun, pada saat itu putra Sulaiman belum baligh.

Karna, anaknya yang belum baligh, Sulaiman terus mempertimbangkan suratnya. Beliau terus beristikharah kepada Allah. Maka beliau pun berdiam diri 1-2 hari untuk mencermati suratnya. Setelah mendapat keputusan, beliau memanggil Raja’ bin Haiwah dan bertanya:

"Aku hendak mengangkat pemimpin setelahku, bagaimana pendapatmu tentang Dawud bin Sulaiman (Putranya yang sudah baligh)?"

Raja’ menjawab, "Wahai Amirul Mukminin, dia hilang di Konstatinopel sementara engkau tidak tahu, apakah masih hidup atau sudah mati"

Mendengar jawabannya, Sulaiman malah bertanya kepada Raja’: "Wahai Raja’ lalu siapa yang engkau pilih?"

Raja’ menjawab lagi: "Saya hanya menilai pilihanmu wahai Amirul Mukminin"

Sulaiman berkata: "Bagaimana kalau Umar bin Abdul Aziz?"

Raja’ menjawab : "Demi Allah, aku mengetahuinya sebagai orang yang utama, terbaik"

Maka setelah terjadi percakapan dengan Raja’, Sulaiman mempertimbangkan Umar bin Abdul Aziz. Yang menjadi pertimbangannya adalah, Umar bin Abdul Aziz adalah Putra Abdul Aziz, bukan dari keturunan Abdul Malik. Jika Sulaiman mengangkatnya, ditakutkan akan timbul fitnah.

Akhirnya, Sulaiman memiliki ide. Beliau akan mengangkatnya, namun dia juga akan berwasiat kepada Umar bin Abdul Aziz bahwa kepemimpinan selanjutnya harus diserahkan kepada saudaranya yang masih hilang di Mausim, yaitu Yazid bin Abdul Malik. Hal itu supaya dia mendapat ridho dari masyarakatnya.

Dengan keputusan di atas, akhirnya Sulaiman menyerahkan kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz dan menulis surat yang akan diberikan kepada Umar.

Kisah Kemuliaan Umar bin Abdul Aziz Setelah Menjadi Khalifah


Singkat cerita, Sulaiman pun meninggal dan dikuburkan. Umar bin Abdul Aziz ikut menguburkan jenazahnya. Saat hendak kembali kerumahnya, terdengar suara tanah bergemuruh, lalu dia bertanya:

"Ada apa ini?" Mereka menjawab, "Ini adalah kendaraan khalifah, yang sudah disiapkan agar engkau menaikinya" Umar bin Abdul Aziz memandanginya setengah pandangan, beliau berkata, "Singkirkan benda ini, ini semua tidak ada urusannya dengan saya. Dekatkan saja keledai kepadaku"

Belum sempat meluruskan posisi punggungnya di atas keledai, tiba-tiba datanglah para prajurit yang mengawal sambil berbaris dan membawa tombak di samping Umar. Beliau berkata kepada mereka, "Menjauhlah kalian, aku tidak butuh pengawalan, aku adalah manusia biasa. Aku akan berjalan sebagaimana kalian berjalan. Aku hanya membutuhkan perlindungan dari Allah."

Setelah itu, beliau menuju masjid, dan orang-orang yang di belakangnya mengikutinya sampai semua memasuki masjid. Lalu Umar bin Abdul Aziz berkhutbah: "Wahai manusia, sesungguhnya aku diuji dengan urusan yang besar, aku tidak memintanya dan perkara ini tanpa musyawarah dari kaum muslimin. Maka aku berlepas diri dari tanggunganku, silahkan kalian pilih yang lain"

Mendengar khutbahnya, orang-orang berteriak dengan teriakan yang sama, "Kami telah memilihmu wahai Amirul Mukminin, kami ridha kepadamu, maka pimpinlah urusan kami dengan penuh keberkahan" Akhirnya, Umar bin Abdul Aziz bershalawat kepada Nabi, seraya berkata dan memberi nasehat dengan khutbah yang cukup panjang.

Isinya adalah:
  1. Anjuran untuk bertaqwa kepada Allah ta’ala
  2. Mengingatkan kematian
  3. Anjuran zuhud di dunia dan berharap kenikmatan akhirat
Nasehat itu semua telah membuat orang-orang meneteskan air matanya. Sadar akan dosa-dosanya. Masyaallah .. Allahuakbar.

Pujian Para Ulama’ kepada Umar bin Abdul Aziz

Inilah beberapa kalimat pujian dari sebagian Ulama kepada Umar bin Abdul Aziz.
  • Ulama Terbaik Setiap Penghujung 100 Tahun
Dari Abu Said al-Firyabi berkata, "Imam Hambal mengatakan sesungguhnya Allah mendatangkan kepada manusia pada setiap penghujung seratus tahun (satu abad) orang yang mengajarkan sunnah-sunnah kepada mereka, dan menghilangkan kedustaan dari Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam. Kami memperhatikan ternyata di penghujung seratus tahun (pertama) adalah Umar bin Abdul Aziz dan seratus tahun (kedua) adalah Imam asy-Syafi’i."
  • Memiliki Adab yang Amat Mulia
Adz dzahabi berkata, "Umar bin Abdul Aziz adalah orang yang bagus fisik dan akhlaqnya, sempurna akalnya, bagus sifatnya, bagus kepemimpinannya, berusaha menegakkan keadilan dan kepahamannya, senantiasa bertaubat, taat kepada Allah lagi lurus, zuhud meskipun menjadi khalifah, berbicara dengan kebenaran meskipun sedikit pendukung dan banyak pejabat yang dzalim yang merasa jemu terhadapnya dan tidak suka bila dia menyelidiki mereka.

Dia mengurangi jatah mereka, dan mengambil banyak dari apa yang ada di tangan mereka yang telah mereka ambil tanpa hak. Mereka tetap demikian hingga mereka meracuni beliau sehingga beliau meraih syahadah (mati syahid) dan kebahagiaan. Sementara para ahli ilmu mengkategorikannya termasuk di antara Khulaf’ur Rasyidin dan ulama’ yang beramal."

Sifat Khauf (rasa takut) Umar bin Abdul Aziz kepada Allah Subhanahu Wata’ala

Umar bin Abdul Aziz meski seorang pejabat yang tinggi, beliau juga memilik rasa takut yang luar biasa kepada Rabb nya.

Pernah dikisahkan dari Atha’ bin Abu Rabah, dia berkata, "Fathimah istri Umar bin Abdul Aziz menceritakan kepadaku bahwa suatu saat ia masuk rumah dan ingin menemui suaminya, Umar bin Abdul Aziz. Saat ditemui ternyata Umar bin Abdul Aziz sedang berada di tempat shalatnya, sementara tangannya pada pipinya, dan air mata beliau mengalir, maka Fathimah bertanya, 'Wahai suamiku, apakah ada sesuatu yang terjadi?'

'Wahai Fathimah, sesungguhnya aku memikul urusan umat Muhammad, lalu berpikir mengenai orang yang fakir lagi kelaparan, orang yang sakit lagi tersia-siakan, orang yang tidak berpakaian lagi kesusahan, orang yang terdholimi lagi tertekan, orang yang asing lagi tertawan, orang yang sudah tua renta dan orang-orang yang memiliki kebutuhan di berbagai penjuru bumi.

Aku tahu bahwa Rabb ku akan bertanya kepadaku tentang mereka dan yang memperkarakanku untuk membela mereka adalah Muhammad Shallallahu alaihi wassalam, maka aku takut jika argumenku tidak mampu menghadapi tuntutan beliau, maka aku kasihan pada diriku lalu aku menangis." Jawab Umar bin Abdul Aziz.

Selain memiliki rasa takut yang sangat besar terhadap Rabb nya, Umar bin Abdul Aziz juga seorang ulama’ yang sangat zuhud, padahal ia adalah seorang Khalifah yang mana harta dan kekayaan gemerlapan di hadapannya, akan tetapi semua itu ia singkirkan dan sama sekali tidak tergiur dengannya.

Ia lebih mengutamakan kebutuhan rakyatnya dan mengutamakan akhiratnya sehingga ia menjadi seorang khalifah yang zuhud, wara’ dan tawadhu. Sifat tawadhu yang dimiliki Umar bin Abdul Aziz sungguh luar biasa, ia tidak ingin setiap amal baiknya diketahui siapapun.

Pernah ada seorang laki-laki yang memuji Umar bin Abdul Aziz di hadapannya, maka Umar berkata kepada laki-laki tersebut, "Wahai laki-laki, seandainya Engkau mengetahui diriku sebagaimana aku mengetahuinya, maka Engkau tidak akan memandang wajahku."

Umar bin Abdul Aziz sangat gigih dalam menjalankan sunnah Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam.

Umar bin Abdul Aziz berkata, "Seandainya setiap bid’ah yang dimatikan oleh Allah lewat tanganku dan setiap sunnah yang dihidupkan lewat tanganku dengan imbalan sepotong dari dagingku hingga tiba yang terakhir adalah jiwaku, maka itu adalah sedikit dalam (berjuang di jalan) Allah."

Guru-guru dan Murid-murid Umar bin Abdul Aziz

Selain sifat tawadhu dan wara’ nya Umar bin Abdul Aziz yang sangat terkenal, beliau juga memiliki guru-guru dan murid-muridnya yang luar biasa. Hal itu tidaklah aneh. Karna sebagai ulama yang mulia, wara’ dan zuhud, sudah tentu beliau memiliki guru yang hebat, melalui guru-guru itu lah Allah menyalurkan ilmuNya untuk Umar bin Abdul Aziz.
Siapakah guru-guru yang hebat itu?

Beberapa di riwayatkan bahwa guru Umar bin Abdul Aziz sangatlah banyak, di antara nya adalah Anas bin Malik, Abdullah bin Ja’far bin Abu Thalib, Amir bin Saad bin Abi Waqash, Abu Salamah bin Abdurrahman bin Auf, Yahya bin al-Qasim bin Abdullah bin Amr bin Al-Ash dan lain sebagainya. Mayoritas guru-guru Umar bin Abdul Aziz adalah para tabi’in.

Adapun murid-murid yang menimba ilmu dari Umar bin Abdul Aziz juga tak kalah banyaknya, di antaranya adalah az-Zuhri, Ghailan bin Anas, Sakhr bin Abdullah bin Harmalah, Sulaiman bin Dawud, Umar bin Abdul Malik, Laits bin Abu Ruqayyah, Ya’qub bin Utbah al-Mughirah dan masih banyak lagi.

Kapan Wafatnya Umar bin Abdul Aziz?


Umar bin Abdul Aziz wafat di Dair Sam’an, salah satu wilayah bagian Himsh, beliau wafat pada akhir bulan Rajab tahun 101 H, saat itu usia beliau masih belum tua, yakni 39 tahun lebih 6 bulan.
Umar bin Abdul Aziz wafat karena racun yang diberikan salah satu budak Bani Umayyah atas perintah bani Umayyah. Mereka menjanjikan akan memerdekakannya dengan syarat memberi minum yang beracun kepada Umar bin Abdul Aziz.

Ketika Umar bin Abdul Aziz sedang sekarat, beliau meminta semua orang agar tidak ada bersamanya, meskipun itu istrinya sendiri.

Maka orang-orang pun meninggalkan Umar sendirian di dalam rumah, sehingga istrinya mendengar Umar membaca ayat dalam surat al-Qashash ayat 83.
Setelah membaca ayat itu tiba-tiba saja beliau terdiam maka istrinya meminta seseorang untuk melihat keadaannya dan ternyata beliau sudah wafat dalam keadaan menghadap kiblat dan tangannya menutupi mata dan mulutnya.

Sebelum Umar bin Abdul Aziz wafat, beliau sering memberikan petuah-petuah yang indah kepada kaumnya, di antara pesan-pesan tersebut adalah:
"Sesungguhnya dunia ini bukanlah negeri tempat kalian tinggal, dunia ini adalah negeri yang telah Allah tetapkan sebagai negeri yang fana, dan bahwa penghuninya juga akan meninggalkannya. Karena itu, pergilah sebaik-baiknya dari dunia ini dengan membawa muatan yang terbaik, Berbekallah, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.
Takwa itu hanyalah laksana awan yang menyusut lalu hilang. Sesungguhnya dunia ini menyenangkan sedikit dan membawa kesedihan yang panjang."
Subhanallah semoga Allah merahmati beliau. Baik, sekian biografi Umar bin Abdul Aziz. Kisah perjalanan hidup Umar bin Abdul Aziz yang sangat mulia dan penuh hikmah.

Penulis: Hamba Allah. Inisial L
Editor : Admin Abana

Referensi:

Shuwaru Min Hayati at-Tabi’in Dr.Abdurrahman Ra’fat Basya Edisi Indonesia Mereka Adalah Para Tabi’in, at-Tibyan
Min A’lam As-Salaf Syaikh Ahmad Farid, Biografi 60 Ulama Ahlus Sunnah Cetakan Darul Haq

Tag Hafalan:
  1. Nama beliau adalah Umar bin Abdul Aziz bin Marwan bin al-Hakam bin Abu Al-Ash bin Umayyah bin Abdu Syams bin Abdu Manaf bin Qushai bin Kilab.
  2. Umar bin Abdul Aziz lahir di Hulwan, sebuah desa di Mesir pada tahun 61 H.
  3. Ayah Umar adalah seorang Gubernur di Mesir pada tahun 61-63 H
  4. Ibunya bernama Ummu Ashim binti Ashim bin Umar bin Khattab.
  5. Sifat fisik beliau memiliki kulit coklat, berwajah lembut, bertubuh kurus, dan berjenggot bagus serta di dekat matanya ada bekas luka tendangan hewan peliharaan ayahnya.
  6. Umar bin Abdul Aziz menikah dengan putri Abdul Malik yang bernama Fathimah.
  7. Beliauz pernah menjabat menjadi gubernur Madinah sejak tahun 86 sampai 93 H.
  8. Umar bin Abdul Aziz wafat di Dair Sam’an, salah satu wilayah Hims.
  9. Beliau wafat pada akhir bulan Rajab tahun 101 H, dan berusia 39 tahun lebih 6 bulan.


RPA

Apa RPA? Baca Bonus Abana RPA dan Tag Hafalan
  1. Katakan ke anak-anak, meskipun memiliki kedudukan tinggi di dunia dan memiliki banyak harta. Itu semua tidak lebih penting dari mengingat Allah ta’ala. Bagi Umar bin Abdul Aziz, dunia ini bukanlah tempat kita tinggal. Dunia ini adalah tempat yang Allah janjikan sebagai kehidupan yang fana. Janganlah terlena.
  2. Katakan juga, dengan kesolehan pemimpinnya. Bisa menjadi solusi bagi negrinya. Lihatlah 2 tahun Umar bin Abdul Aziz memimpin. Sudah bisa menjadikan masyarakatnya makmur.

Semoga 2 RPA ini, bisa menumbuhkan keimanan anak-anak
Perhatian: Jika Akhi/Ukhti ingin menyebarkan artikel abanaonline, kami izinkan (copy-paste). Namun, mohon untuk menyertakan sumber tanpa ada yang dirubah isinya. Kebijakan Iklan: Iklan yang ada di sini sudah diatur oleh pihak Google. Apabila Antum menemukan iklan yang kurang layak, bisa melaporkan ke no WA admin: 085809999008.

2 Komentar Biografi Umar bin Abdul Aziz Sifat Kepemimpinannya Menggetarkan Hati Manusia

  1. Moga kt bisa meneladani kepribadian dan kesolehannya. Amin. Nice info gan

    BalasHapus

Tulis komentar di sini dan centang tombol "Notify me" atau "Ingatkan kami" agar Antum bisa melihat balasannya. Syukran

Back To Top