Kisah Amirul Mukminin Umar bin Khattab Radiyallahuanhu Yang Penuh Hikmah

Kisah Umar bin Khattab Radiyallahuanhu


Kisah Umar bin Khattab -Khalifah kedua setelah Abu Bakar Ash Shiddiq Radiyallahuanhu.  Salah satu 10 sahabat yang dijamin masuk Surga. Beliau adalah sosok sahabat yang sangat berpengaruh untuk Islam dan keistimewaanya tidak diragukan lagi. Perjalanan hidupnya bagaikan lautan hikmah yang tak ada habisnya. Siapapun dapat menikmati di setiap ceritanya.

Latar Belakang dan Keluarga Umar bin Khattab Radiyallahuanhu


Dia adalah Umar bin Khattab bin Nufail bin Abdil Uzza bin Rabbah al-Qurasy. Dipanggil dengan Abu Hafsh, al-Adawi sampai al-Faruq. Lahir pada tahun ke 13 setelah tahun Gajah. (Imam An-Nawawi, Tarikh Khulafa Imam as Suyuthi).

Sifat dan Fisik Beliau: tubuhnya tinggi bahkan jauh melampui manusia seolah-olah sedang menunggangi kuda, kepala bagian depan botak, kedua matanya hitam, berkulit sawo matang dan giginya putih cemerlang. (diriwayatkan Ibnu Saad dan al-Hakim, Tarikh Khulafa as-Suyuti).

Beliau Radiyallahuanhu termasuk jajaran elit paling mulia dikalangan  Quraisy. Apabila terjadi perang antar kabilah, ia bertindak sebagai penengah. Pada masa jahiliyah, tepatnya saat Umar bin Khattab sebelum masuk Islam, beliau dikenal sebagai orang yang menjaga kehormatan serta memiliki watak yang temperamental. Setiap kali berpapasan dengan orang-orang muslim, dia akan menimpakan berbagai macam siksaan.

Saat itu hati Umar bin Khattab benar-benar bergejolak, berbagai perasaan saling bertentangan. Dia ingin menghormati tradisi-tradisi leluhur, kebebasan meneguk minuman keras hingga mabuk dan bercanda ria. Selain itu dia juga merasakan ketakjuban terhadap ketabahan kaum muslim dalam menghadapi cobaan-cobaan yang sangat keras demi mempertahankan aqidahnya. Terlebih lagi dia benar-benar ragu, karna dalam benaknya Islam jauh lebih baik daripada agama nenek moyangnya. Siapa yang lebih berakal? Apakah yang mengimani batu-batu atau tuhan Muhammad?. Umar bin Khattab benar-benar bingung hingga dia menjadi lemas sendiri. (ar-Rahiqul Makhtum, perkataan Imam al-Ghazali).

Kisah Umar bin Khattab Radiyallahuanhu Masuk Islam


Di tengah-tengah udara yang pengap karna dipenuhi dengan kedzaliman. Muncul cahaya terang menyegarkan mata, yaitu keislaman Umar bin Khattab.

Umar bin Khattab masuk Islam pada bulan Dzul Hijjah, tahun ke 6 kenabian. Tepatnya 3 hari setelah keislaman Hamzah bin Abdul Muthalib. Saat itu usianya 27 tahun. Sebelum itu Nabi telah berdoa kepada Allah untuk keislamannya, " Ya Allah, kokohkanlah Islam dengan salah satu dari dua orang yang paling engkau cintai. Umar bin al-Khattab atau Abu Jahal bin Hisyam." (HR.Tirmidzi). Ternyata yang paling Allah cintai adalah Umar.

Apa sebab Umar bin Khattab masuk Islam?

Dalam kitab Tarikh Khulafa karangan Imam as-Suyuthi menyebutkan riwayat-riwayat keislaman Umar bin Khattab. Di sana ada sekitar 7-8 riwayat. Namun di sini Abana akan menulis kesimpulan dari beberapa riwayat tersebut. Kami ambil dari kitab ar-Rahiqul Makhtum Syaikh Al-Mubarakfuri.

Suatu malam Umar keluar rumah dan bertemu dengan Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam yang sedang solat di Baitul-Haram. Saat itu Nabi Muhammad sedang membaca surat Al-Haqqah, dan Umar menyimak bacaan tersebut. Seketika Umar merasa takjub, kagum terhadap susunan bahasa yang dibacakan Nabi (Qs.Al-Haqqah). Lalu Umar berkata dalam hati, "Ah, ini hanyalah ucapan penyair". Lalu Rasulullah sampai di ayat 40-41 dari surat Al-Haqqah:

  إِنَّهُ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ
وَمَا هُوَ بِقَوْلِ شَاعِرٍ ۚ قَلِيلًا مَا تُؤْمِنُونَ

"Sesungguhnya Al Quran itu adalah benar-benar wahyu (Allah yang diturunkan kepada) Rasul yang mulia,(40) dan Al Quran itu bukanlah perkataan seorang penyair. Sedikit sekali kamu beriman kepadanya.(41).

Ayat tersebut seolah-olah menjadi jawaban pemikiran Umar bin Khattab, lalu Umar berkata lagi dalam hati, "Kalau begitu itu ucapan tukang tenun". Maka Rasulullah membaca ayat berikutnya Al-Haqqah 42:

وَلَا بِقَوْلِ كَاهِنٍ ۚ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ

"Dan bukan pula perkataan tukang tenun. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran daripadanya."(42)

Umar pun kaget, dia merasa apa yang dipikirkannya selalu terjawab oleh bacaan Nabi yang sedang solat. Mulai saat itulah Islam menyusup ke dalam hatinya. Namun, dia belum masuk Islam, karna fanatisme terhadap tradisi-tradisi jahiliyah sudah mendarah daging serta pengagungannya terhadap agama leluhur masih menjadi pilihan utama.

Suatu ketika Umar ingin membunuh Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam dia keluar rumah sambil menghunus pedangnya namun di tengah jalan ia berpapasan dengan Nu'aim bin Abdullah an-Nahham al-Adwi, "Hendak kemana engkau wahai Umar?" Umar menjawab, "Aku akan menghabisi Muhammad" "Apakah engkau bisa menjamin keamanan dirimu dari pembalasan dari bani Hasyim dan bani Zuhrah jika engkau membunuhnya." Tanya Nu'aim.

Umar menjawab, "Oh, rupanya engkau telah keluar dan meninggalkan agama leluhur kita." Lalu Nu'aim menjawab, "Bagaimana jika ku tunjukkan sesuatu yang membuatmu tercengang wahai Umar, sesungguhnya saudarimu dan iparmu telah mengikuti agama Muhammad."

Dengan terburu-buru Umar langsung menemui adik perempuannya yang bernama Fatimah dan iparnya yang bernama Said bin Zaid [Baca kisahnya di sini]. Saat itu ada Khabbab bin Art yang sedang membacakan lembaran berisi surat Thaha, tatkala Khabbab mendengar suara kedatangan Umar, dia langsung bersembunyi di belakang ruangan, sedangkan Fathimah menyembunyikan Shahifah Al-Qur'an. Namun, Umar sempat mendengar bacaan Khabbab di hadapan adik dan iparnya.

"Apa suara bisik-bisik yang sempat kudengar dari kalian tadi?" tanya Umar tatkala sudah masuk rumah.

"Hanya sekedar obrolan di antara kami." jawab keduanya.

"Kupikir kalian sudah keluar dari agama." Kata Umar.

"Wahai Umar." Kata adik iparnya, "Apa pendapatmu jika kebenaran ada dalam agama selain agamamu?"

Seketika Umar melompat ke arah adik iparnya dan menginjaknya keras-keras. Adiknya mendekat untuk menolong suaminya dan mengangkat badannya. Namun, Umar menonjok Fathimah hingga wajahnya berdarah. Menurut riwayat Ibnu Ishaq, Umar memukul Fathimah hingga terluka. Fathimah berkata dengan berang, "Wahai Umar, jika memang kebenaran itu ada dalam selain agamamu, maka bersaksilah bahwa tiada tuhan selain Allah dan bersaksilah bahwa Muhammad adalah Rasul Allah."

Umar mulai putus asa. Dia lihat darah yang menetes dari wajah adiknya, maka dia merasa menyesal dan malu, "Berikan al-Kitab yang tadi kalian baca." Kata Umar. Adiknya menjawab, "Engkau adalah orang yang najis, al-kitab ini tidak boleh disentuh kecuali orang-orang yang suci. Bangunlah dan mandilah jika mau."

Maka Umar segera mandi, setelah itu memegangi Al-Kitab. Dia mulai membaca isinya, "Bismillahirrahmanirrahim." Lalu dia berkata, "Nama-nama bagus dan suci." Kemudian dia membaca, "Thaha," Hingga berhenti pada firman Allah:

إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي

"Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Ilah selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingatKu." (Thaha: 14).

Setelah sampai di sini Umar berkata: "Alangkah indahnya dan mulianya kalam ini, tunjukkan padaku dimana Muhammad berada saat ini!"

Akhirnya, bertemulah Umar bin Khattab kepada Nabi Muhammad dan masuk Islam. Kejadian ini membuat angin segar bagi kaum muslim dan para sahabat mendapat kekuatan dan kemuliaan yang besar. Abdullah bin Mas’ud berkata, "Kami menjadi kuat sejak Umar bin Khattab masuk Islam."

Baca juga: Dengan Berkisah Anak Bisa Jadi Baik dan Soleh

Setelah masuk Islam, Umar bin Khattab menjadi seorang yang memiliki kepribadian yang tegas dalam urusan agama Allah dan jarang tertawa, bahkan tidak pernah bergurau dengan siapapun. Ada yang mengatakan di bagian pipi Umar bin Khattab ada dua garis berwarna hitam, hal itu disebabkan karena Umar bin Khattab lebih banyak atau sangat sering menangis karena Allah.

Umar bin Khattab mengikuti semua peperangan di masa Rasulullah bahkan pernah menjadi panglima perang. Umar bin Khattab juga memiliki ilmu yang sangat luas, hal ini membuktikan atas kebenaran mimpi Rasulullah. Kala itu Rasulullah bermimpi meminum susu dan beliau melihat mata air mengalir dari kuku-kuku beliau, kemudian beliau berikan kepada Umar bin Khattab. maka para sahabat pun bertanya, "Apa maksud dari mimpi tersebut wahai Rasulullah?"

Rasulullah menjawab, "Maknanya adalah Umar bin Khattab akan mendapatkan ilmu yang begitu luas dari ku."

Selain mimpi diatas, Rasulullah juga bermimpi sedang menimba air sumur, kemudian datang Abu Bakar, ia menimba air sumur hanya satu atau dua ember saja, setelah itu datang Umar bin Khattab yang juga ikut menimba air sumur dengan sangat banyak. Maka apa maksud dari mimpi tersebut? Yakni, Abu Bakar hanya mampu menaklukkan satu atau dua negara saja sedangkan Umar bin Khattab mampu menaklukkan banyak Negara yang mana mereka semua masuk Islam.

Ali bin Abi Thalib pernah memuji Umar bin Khattab dengan berkata, "Allah tidak meninggalkan seorangpun yang bisa menyamai amalan Umar bin Khattab, aku berharap semoga bisa menghadap Allah dalam kondisi seperti Umar bin Khattab, aku sering kali mendengar Nabi mengucapkan, ‘Aku pergi bersama Abu Bakar dan Umar, aku keluar bersama Abu Bakar dan Umar. Artinya kemanapun Rasulullah berada, di sana ada Abu Bakar dan Umar bin Khattab."

Kisah Umar bin Khattab Radiyallahuanhu


Sungguh Umar bin Khattab memiliki kemuliaan yang sangat tinggi di sisi Allah hingga ia dijamin masuk surga, ia juga mulia di mata manusia. Bahkan setan dan jin pun akan lari ketakutan saat bertemu dengan Umar bin Khattab.

Kepemimpinan Umar bin Khattab


Ketika Abu Bakar Ash Shiddiq sakit, beliau menulis surat wasiat yang berisi agar Umar bin Khattab menggantikannya sebagai Khalifah. Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan sahabat lainnya mentaati wasiat tersebut. Setelah Abu Bakar meninggal pada hari senin, para sahabat mengangkat Umar bin Khattab sebagai khalifah.

Umar bin Khattab ketika menjadi khalifah, ia tidak hidup dengan kemewahan. Biasanya pemimpin negara yang mereka pikirkan adalah kemewahan dengan harta yang melimpah. Namun kita perlu lihat kepemimpinan Umar bin Khattab yang harus kita jadikan panutan.

Umar bin Khattab hanya memiliki dua baju saja, satu baju musim panas dan satu baju musim dingin. Umar bin Khattab juga tidak memakan makanan mewah, ia makan seperti makannya masyarakat biasa, bukan makanan orang kaya. Begitu juga ketika Umar bin Khattab mengangkat seseorang menjadi gubernur atau pejabat, ia akan melarang mereka untuk menaiki kereta kuda, tidak makan makanan mewah, tidak boleh memakai pakaian bagus dan harus membantu masyarakat miskin. Jika ada pejabat yang melanggar, maka Umar bin Khattab akan menghukumnya.

Subhanallah, sangat berbeda dengan para pejabat zaman sekarang, mereka berebut mendapatkan jabatan dan menjadi khalifah atau pemimpin negara semata-mata hanya ingin menikmati kemewahan dan harta yang melimpah tanpa mempedulikan masyarakat miskin yang seharusnya menjadi tanggung jawab para pemimpin dan pejabat Negara.

Anas bin Malik mengatakan, "Di antara kedua pundak Umar bin Khattab terdapat empat tambalan, kain sarungnya juga ditambal dengan kulit, ia berkhutbah di atas mimbar mengenakan kain sarung dengan 12 tambalan."

Saat Umar bin Khattab pergi haji bersama putranya, ia menghabiskan uang sebanyak 12 dinar. Maka Umar berkata, "Kita telah berlebihan dalam menggunakan harta." Dalam perjalanan haji, Umar bin Khattab berteduh di bawah pohon dengan meletakkan bajunya di pohon dan berteduh dibawahnya, ia tidak memakai tenda mewah layaknya raja yang sedang perjalanan.

Meskipun Umar bin khattab seorang yang tegas dan kuat, ia memilik hati yang lembut. Ketika Umar mendengar bacaan ayat Al-Qur’an tentang adzab, tiba-tiba Umar jatuh pingsan beberapa hari. Orang-orang mengira bahwa Umar sedang sakit, padahal ia jatuh pingsan karena takut dengan adzab Allah.

Di dalam kesederhanaanya tersebut, Umar bin Khattab tetap merasa belum menjadi khalifah yang baik. Ia berkata, "Seburuk-buruk pemimpin adalah aku, aku kenyang sedangkan rakyat kelaparan."
Padahal Umar bin Khattab hanya makan roti dan minyak saja, sampai tubuhnya menghitam.

Umar bin Khattab juga selalu berkeliling untuk melihat kondisi rakyatnya. Dikisahkan dari Thalhah bin Ubaidullah, ia berkata, "Aku melihat Umar bin Khattab pada malam hari sedang berjalan menuju sebuah rumah dan masuk ke dalamnya. Maka aku penasaran, esok harinya aku mendatangi rumah tersebut dan ternyata di dalamnya ada seorang laki-laki buta yang sedang berbaring di atas tempat tidurnya. Lalu aku bertanya tentang apa yang dilakukan Umar di sini malam-malam. Orang tersebut menceritakan bahwa setiap hari Umar datang dengan membawakan makanan untuknya."

Pernah suatu malam Umar bin Khattab melakukkan ronda, ia berjalan bersama pembantunya yang bernama Aslam. Di perjalanan ia melihat api, Umar pun menuju arah api tersebut , sesampainya di sana, Umar memberi salam dan mendekat. Umar melihat seorang wanita dan beberapa anak kecil yang sedang menangis, mereka sedang menunggu masakan yang ada di depan mereka.

Umar bertanya, "Ada apa dengan kalian?"
Wanita itu menjawab, "Kami kemalaman dan kedinginan"
Umar kembali bertanya, "Lalu kenapa anak-anak itu menangis?"

"Mereka kelaparan" Jawab wanita tersebut.
Umar berkata, "Yang di masak itu apa?"
Wanita itu menjawab, "Air. Saya sengaja melakukannya agar anak-anakku tidur."

Umar bin Khattab menangis dan segera pulang ke tempat penyimpanan tepung dengan sedikit berlari. Umar mengeluarkan sekarung tepung dan lemak yang ia panggul sendiri di atas punggungnya. Umar bin Khattab tidak mau jika itu dibawakan pembantunya dengan mengatakan, "Memangnya kau yang akan memikul dosaku di hari kiamat?"

Umar bin Khattab kembali menghampiri wanita tersebut, kemudian ia memasaknya sendiri, dan menyiapkan serta menyajikan makanan tersebut untuk mereka hingga mereka kenyang. Wanita tersebut mendoakan Umar bin Khattab, tetapi dia tidak tahu bahwa yang melayaninya itu adalah Umar bin Khattab. umar bin Khattab menemani anak-anak itu hingga mereka tidur dan kemudian memberikan sejumlah uang dan kebutuhan pokok kepada mereka.

Masyaallah begitulah beberapa kisah seorang Khalifah (pemimpin negara) yang sangat peduli dan bertanggung jawab atas rakyatnya.

Kisah Wafatnya Umar bin Khattab


Umar bin Khattab wafat pada hari Rabu tanggal 1 Muharram tahun 24 H. Beliau meninggal karena ditusuk oleh seorang majusi yang bernama Abu Lu’luah sebanyak 6 tusukan, saat itu Umar bin Khattab sedang shalat shubuh. Tiga hari setelah itu, beliau wafat dan dimakamkan di samping kuburan Rasulullah dan Abu Bakar.

Penulis: Mujahid Pendidikan Abu Zaid

Referensi:

  • Ar-Rahiq Al-Makhtum Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri
  • Tarikh Khulafa Imam Suyuthi Terjemahan Qisthi Press
  • Serial 10 Sahabat Dijamin Masuk Surga Nizar Saad Jabal Lc


Tag Hafalan:

  1. Ciri-ciri Umar bin Khattab adalah tubuhnya tinggi, kepala bagian depan botak, kedua matanya hitam, berkulit sawo matang, dan giginya putih cemerlang.
  2. Umar bin Khattab seorang laki-laki yang tegas dalam urusan agama Allah, jarang tertawa dan tidak pernah bercanda dengan siapapun.
  3. Di bagian pipi Umar bin Khattab terdapat dua garis hitam karena seringnya menangis takut terhadap Allah dan adzabnya.
  4. Nasab beliau adalah Umar bin Khattab bin Nufail bin Abdil Uzza bin Rabbah Al-Qurasyi, beliau dijuluki Abu Hafsh, al-adawi sampai Al-Faruq.
  5. Umar bin Khattab lahir pada tahun 13 setelah tahun gajah.
  6. Umar bin Khattab masuk Islam pada bulan Dzulhijjah tahun keenam kenabian, tepatnya tiga hari setelah  masuk Islamnya Hamzah bin Abdul Muthalib, saat itu usianya 27 tahun.
  7. Umar memiliki sifat temperamental sehingga jin pun ketakutan jika bertemu dengan beliau.
  8. Selama menjadi Khalifah Umar hidup penuh kesederhanaan sehingga hanya makan roti dan minyak setiap harinya serta hanya memiliki dua baju saja.
  9. Umar bin Khattab termasuk sahabat yang dijamin masuk surga dengan mati syahid.
  10. Umar bin Khattab wafat pada tahun24 H, hari rabu tanggal 1 Muharram. Beliau wafat karena di bunuh oleh Abu Lu'luah dengan cara menusuknya sebanyak enam kali.


RPA


  1. Ayah Bunda mengenalkan sifat Maha Pengampunan Allah, dimana Umar yang dahulu terjerumus ke dalam kegelapan setelah ia bertaubat dan masuk Islam, Allah mengampuninya bahkan mengangkat derajatnya atas dasar Iman.
  2. Menjelaskan kebesaran dan kemuliaannya Al-Qur'an, karna bisa menuntun pendengarnya mendapat hidayah.
  3. Ayah Bunda menjelaskan meskipun Umar bersifat tempramental akan tetapi hatinya sangat lembut.

Mungkin hanya itu saja, Ayah Bunda bisa menambahkan sendiri. Sekian dari kami Kisah Amirul Mukminin Umar bin Khattab ra semoga menjadi siraman rahani dan tetesan hikmah untuk hati pendidik.
Perhatian: Jika Akhi/Ukhti ingin menyebarkan artikel abanaonline, kami izinkan (copy-paste). Namun, mohon untuk menyertakan sumber tanpa ada yang dirubah isinya. Kebijakan Iklan: Iklan yang ada di sini sudah diatur oleh pihak Google. Apabila Antum menemukan iklan yang kurang layak, bisa melaporkan ke no WA admin: 085766619270.

0 Komentar Kisah Amirul Mukminin Umar bin Khattab Radiyallahuanhu Yang Penuh Hikmah

Posting Komentar

Tulis komentar di sini dan centang tombol "Notify me" atau "Ingatkan kami" agar Antum bisa melihat balasannya. Syukran

Back To Top