3 Peristiwa Penting di Dalam Kisah Umar bin Abdul Aziz



3 Peristiwa Penting di dalam Kisah Umar bin Abdul Aziz

Peristiwa Penting dalam Kisah Umar bin Abdul Aziz- Assalamualaikum sahabat abana, perlu Antum ketahui bahwa Biografi Umar bin Abdul Aziz yang sudah pernah saya tulis mengundang detak kagum para pembaca abana. Karna di dalamnya tertulis perjalanan kisah yang penuh hikmah dan makna yang luar biasa.

Faktor yang menonjol dari biografinya adalah akhlak mulia, ilmu yang luas dan sifat adil yang dimilikinya. Ya, beliau memang terkenal adil dan bijaksana dalam memimpin.

Meskipun kepemimpinannya hanya 29 bulan atau 2 tahun, beliau sudah banyak meninggalkan prestasi. Baik dalam bidang ilmu pengetahuan, sosial, politik, ekonomi, militer dan perluasan dakwah Islam dan kekuasaan.

Tentunya banyak sekali peristiwa-peristiwa yang sudah beliau alami. Sehingga, saat saya menulis Biografi Khalifah Umar bin Abdul Aziz, rasanya ingin sekali menuliskan seluruh kejadian-kejadian beliau di masa hidupnya. Namun karna keterbatasan penulis, saya niatkan untuk menceritakannya dikesempatan lain.

Oleh karnanya, di sini kami akan menyajikan tiga kisah peristiwa penting bersama beliau. Yang belum saya tulis di dalam biografinya.

Kisah Pertama

Kisah ini berasal dari seorang yang Abid (ahli ibadah) dan Zahid (zuhud) yang bernama Ziyad bin Maisarah al-Makhzumi, beliau bercerita:

"Suatu ketika aku diutus oleh majikanku, Abdullah bin Ayyasy dari Madinah menuju Damaskus untuk menemui Amirul Mukminin, Umar bin Abdul Aziz karena suatu keperluan. Dahulu saat Umar bin Abdul Aziz masih menjadi gubernur madinah, antara aku dan beliau pernah ada hubungan dekat.

Saya pun sampai di kediamannya. Ketika aku masuk, beliau sedang bersama sekretarisnya di muka pintu maka aku memberi salam, ‘Assalamualaikum’ beliau menjawab, ‘Waalaikumussalam wa rahmatullahi wa barakatuhu, wahai Ziyad.’

Tiba-tiba aku merasa bersalah karena tidak memberi salam penghormatan terlebih dahulu kepada Amirul Mukminin, maka aku mengulangi salamku, beliau berkata, ‘Wahai Ziyad, kami telah menjawab salammu yang pertama, lalu apa perlunya Engkau mengucapkannya dua kali?’

Saat itu sekretarisnya sedang membacakan pengaduan-pengaduan yang dikirim dari Bashrah lewat surat. Beliau berkata, ‘Wahai Ziyad, duduklah sampai kesibukanku ini selesai.’

Akupun menuruti perintahnya, lalu sekretarisnya meneruskan membaca laporan, sementara nafas Khalifah naik turun karena gelisah mendengar pengaduan-pengaduan itu, ketika sekretarisnya menyelesaikan pekerjaannya dan pergi, Umar berdiri menghampiriku sambil berkata:

"Beruntunglah Engkau wahai Ziyad, Engkau bisa mengenakan baju taqwa mu dan terhindar dari kesibukan-kesibukan yang kami tangani saat ini."

Kebetulan saat itu aku memakai baju muslim. Kemudian beliau bertanya tentang orang-orang shalih di Madinah baik pria maupun wanita, tak ada nama orang satupun yang terlewatkan, semua beliau tanyakan kepada ku, termasuk bangunan-bangunan yang dibuatnya ketika beliau menjadi gubernur Madinah, dll. Maka aku menjawab semuanya dengan baik.

Setelah itu aku melihat beliau menghela nafas panjang lalu berkata, ‘Wahai Ziyad, tidakkah Engkau lihat bagaimana keadaan Umar sekarang?’ Aku menjawab, ‘Aku berharap pahala dan kebaikan bagi Anda.’
Beliau menjawab, ‘Alangkah jauh..’ lalu beliau menangis sampai aku merasa kasihan melihatnya, lalu aku berkata, ‘Wahai Amirul Mukminin, tenangkanlah hati Anda, aku mengharapkan kebaikan bagi Anda.’

Beliau menjawab:

"Alangkah jauhnya diriku dari yang kamu harapkan, telah datang kewenanganku untuk memaki, namun tak boleh ada yang memakiku, ada kewenangan aku untuk memukul orang namun orang lain tak boleh memukulku, aku boleh menyakiti manusia sedangkan tak satupun yang berani menyakitiku."

Beliau menangis lagi sampai aku tak tahan melihatnya karena iba dan terharu.
Aku berada di tempat Khalifah selama tiga hari hingga semua urusan yang diamanatkan majikanku selesai.
Ketika aku hendak pulang, Khalifah menitipkan surat untuk majikanku, meminta agar majikanku mau menjual diriku kepada Amirul Mukminin.

Kemudian dari bawah bantalnya, Amirul Mukminin mengambil uang sebesar 20 dinar dan diberikan kepadaku, "Pakailah untuk meringankan kehidupanmu, seandainya Engkau punya hak atas sebagian fai’, niscaya akan aku berikan untukmu."

Awalnya aku menolak pemberian Umar bin Abdul Aziz, tetapi beliau mendesaknya, "Terimalah, ini bukan dari harta kaum muslimin atau kas negara, ini adalah uang pribadiku." Aku tetap menolaknya dan beliau terus mendesaknya hingga akhirnya aku menerimanya, kemudian aku pamit untuk pulang.

Sesampainya aku di Madinah, kuserahkan surat pribadi Amirul Mukminin kepada majikanku, setelah dibaca, dia berkata, "Dia ingin aku menjualmu kepadanya semata-mata untuk memerdekakan dirimu. Maka mengapa bukan aku saja yang menjadi seperti dia dan membebaskanmu?"

Lalu aku dimerdekakan oleh majikanku. Masya'Allah, sangat bijaksana sekali beliau.

Kisah Kedua

Peristiwa penting kedua yang ada dalam kisah Umar bin Abdul Aziz adalah kisah yang diceritakan oleh seorang Qadhi Mushi Yahya Al-Ghassani, beliau bercerita:

"Suatu hari Umar bin Abdul Aziz berjalan-jalan di pasar Himsha untuk memantau situasi perdagangan dan mengamati harga-harga, tiba-tiba ada seseorang yang berpakaian merah menghadangnya.

Dia berkata:

'Wahai Amirul Mukminin, saya mendengar berita bahwa barangsiapa mempunyai keluhan, dia boleh mengadukannya kepada mu langsung.'

Umar bin Abdul Aziz menjawab, 'Benar.'
Orang tersebut kembali berkata, 'Di hadapan Engkau telah ada seorang yang teraniaya dan jauh dari rumahnya.'

Beliau bertanya, 'Di mana keluargamu?'
'Di Aden' Jawab orang tersebut.

Umar berkata, 'Demi Allah rumahmu benar-benar jauh dari rumah ku.'

Maka Umar bin Abdul Aziz turun dari kudanya dan berdiri di depan orang tersebut lalu bertanya, 'Apa keluhanmu? '
Dia berkata, 'Barang saya hilang karena diambil oleh orang yang mengaku pengawal Anda, lalu dia merampas barang saya.' Umar bin Abdul Aziz segera menulis surat kepada gubernur Aden, Urwah bin Muhammad, yang isinya adalah:

'Jika suratku ini telah sampai kepadamu, maka dengarkanlah keterangan dari pembawa surat ini, bila terbukti dia memiliki hak, segera tunaikanlah haknya kembali.' Surat tersebut di stempel kemudian diserahkan kepada orang itu.

Ketika orang itu hendak pergi, Umar berkata, 'Tunggu sebentar, Engkau datang dari tempat yang sangat jauh, pasti Engkau telah mengeluarkan biaya banyak untuk perjalanan ini, mungkin baju baru mu menjadi usang, bisa jadi pula kendaraan mu mati di jalan.'

Kemudian beliau menghitung seluruhnya dan mencapai 11 dinar, lalu diberikan kepada orang itu sebagai ongkos ganti rugi.
Umar bin Abdul Aziz berpesan, 'Beritahukan kepada orang-orang supaya tidak segan-segan melapor dan mengadu kepadaku meski rumahnya jauh."

Kisah Ketiga

Kisah ini diceritakan oleh Dukain bin Sa’id Ad-Darimi, seorang penyair yang terkenal, dia berkata:

"Suatu ketika saya mendatangi Umar bin Abdul Aziz sewaktu masih menjadi gubernur Madinah, aku diberi hadiah 15 ekor unta pilihan. Setelah berada di tanganku, aku memperhatikannya, aku merasa kagum melihatnya, aku menjadi khawatir membawanya pulang ke desaku seorang diri, sedangkan aku merasa sayang untuk menjualnya.

Ketika aku masih dalam kebingungan, beberapa kawan datang kepadaku, mereka hendak kembali ke perkampunganku di Najad, maka aku menawarkan diri sebagai kawan perjalanan, mereka berkata, 'Silakan, kami akan berangkat malam ini, bersiap-siaplah untuk berangkat bersama kami.'

Kemudian aku segera menemui Umar bin Abdul Aziz untuk berpamitan, saat itu ada dua orang tua yang tak ku kenal di majelisnya, tatkala aku hendak beranjak pulang, gubernur Madinah itu menoleh kepadaku lalu berkata:

'Wahai Dukain, sesungguhnya aku memiliki ambisi besar. Bila kau dengar aku lebih jaya daripada sekarang, maka datanglah, aku akan memberimu hadiah.'

Lalu aku mengatakan datangkanlah saksi untuk janji mu itu, Umar bin Abdul Aziz menjawab, 'Allah adalah saksi yang paling baik.'
Aku kembali mengatakan bahwa aku ingin saksi dari makhluq Nya. Beliau berkata, 'Baiklah dua orang ini yang menjadi saksinya.'

Lalu aku menghampiri salah satu orang tersebut dan bertanya siapakah namamu agar aku bisa mengenalmu? Orang itu menjawab 'Aku Salim bin Abdullah bin Umar bin Khattab.'
Maka aku menoleh kepada Umar bin Abdul Aziz dan berkata, 'Aku percaya dengan orang ini sebagai saksi.'

Kemudian aku menghampiri orang satunya dan menanyakan namanya, maka ia menjawab, 'Aku Abu Yahya, pembantu Amir.'

Aku berkata, 'Aku setuju dia sebagai saksi.'

Lalu aku pergi dengan membawa unta-unta ke perkampunganku. Allah memberkahiku sehingga aku bisa membeli unta-unta dan budak-budak yang lebih banyak lagi.'

Hari berganti hari, tiba-tiba aku mendengar kabar kematian Sulaiman bin Abdul Malik, saat itu aku berada di gurun Falaj Yamamah, aku bertanya kepada pembawa berita, 'Siapakah Khalifah penggantinya?' Dia menjawab, 'Umar bin Abdul Aziz.'

Mendengar jawaban orang itu, aku bergegas menuju ke Syam. Ketika sampai di Damaskus aku berjumpa dengan Jarir yang baru kembali dari tempat Khalifah, aku ucapkan salam kepadanya lalu bertanya,
'Dari manakah Engkau wahai Abu Hazrah?'

Dia menjawab, 'Dari Khalifah yang pemurah kepada fakir miskin dan menolak penyair, sebaiknya anda pulang saja karena itu lebih baik bagi Anda.' (Karena aku penyair).

Aku katakan, 'Aku memiliki kepentingan pribadi yang berbeda dengan kepentingan Anda semua.' Dia menjawab, 'Jika demikian, terserah Anda.'

Lalu aku menuju ke tempat Khalifah, ternyata beliau sedang berada di serambi, dikerumuni anak-anak yatim, para janda dan orang-orang teraniaya. Aku ingin menerobos namun aku tidak bisa, maka aku berteriak, 'Wahai Umar nan bijak dan dermawan, Umar nan sarat pemberian, aku seorang Qathn dari suku Darim, menagih hutang saudara yang dermawan.'

Ketika itu Abu Yahya memperhatikan aku dengan seksama, kemudian menoleh kepada Amirul Mukminin dan berkata, 'Saya adalah saksi dari orang dusun ini.' Umar menjawab, 'Aku tahu itu.' Lalu menoleh kepadaku dan berkata, 'Mendekatlah kemari wahai Dukain.'

Setelah aku berada di dekatnya, beliau berkata lagi:

"Ingatkah engkau kata-kataku sewaktu berada di Madinah? Bahwa aku punya ambisi besar dan menginginkan hal yang lebih besar dari apa yang sudah aku miliki."

Aku berkata:

"Benar wahai Amirul Mukminin."

Beliau menjawab:

'Sekarang aku telah mendapatkan yang tertinggi di dunia, yaitu kerajaan, maka hatiku menginginkan sesuatu yang tertinggi di akhirat, yaitu Surga dan berusaha meraih kejayaan berupa ridha Allah. Bila para raja menggunakan kerajaannya sebagai jalan untuk mencapai kebahagiaan di dunia, maka aku menjadikannya jalan untuk mencapai kehormatan di akhirat.

Wahai Dukain, aku tidak pernah menggelapkan harta kaum muslimin walau satu dinar atau satu dirham pun sejak aku berkuasa di sini. Yang aku miliki tidak lebih dari 1000 dirham saja, Engkau boleh mengambil separuhnya dan tinggalkan separuh lagi untukku.'

Maka aku mengambil apa yang beliau berikan kepadaku. Demi Allah, aku belum pernah melihat uang yang lebih berkah dari pemberian itu."

Itulah 3 peristiwa penting yang ada di dalam kisah Umar bin Abdul Aziz. Semoga bisa kita ambil pelajarannya dan ibrahnya.

Baca Juga :
Cara Menghukum Anak Dalam Islam yang Mendidik
Penulis: Admin

Rujukan:
Kitab Shuwaru min hayati at-tabiin, Dr.Abdurrahman Rafat Basya edisi indo cetakan at-Tibyan 2014

Tag Hafalan:


  1. Peristiwa penting yang pertama diceritakan oleh seorang abid dan zahid yang bernama Ziyad bin Maisarah al-Makhzumi
  2. Ziyad menemui Umar bin Abdul Aziz atas perintah majikannya.
  3. Ziyad datang kepada Umar bin Abdul Aziz dengan memakai pakaian taqwa.
  4. Umar menanyakan kabar dan keadaan orang-orang Madinah satu persatu tanpa terlewatkan satu pun baik pria maupun wanita.
  5. Ziyad berada di tempat Umar bin Abdul Aziz selama 3 hari.
  6. Sepulang dari tempat Khalifah, Ziyad dimerdekakan majikannya.
  7. Peristiwa kedua diceritakan oleh Qadhi Mushi Yahya Al-Ghassani.
  8. Yahya melihat ada laki laki Aden yang mengadukan masalahnya kepada Umar saat beliau sedang berjalan-jalan di pasar.
  9. Umar menulis surat untuk gubernur Aden agar memberikan hak penuh kepada laki-laki tersebut.
  10. Umar bin Abdul Aziz memberikan ongkos perjalanan kepada laki-laki Aden itu sebesar 11 dinar.
  11. Peristiwa ketiga di ceritakan oleh Dukain bin Sa'id ad-Darimi
  12. Dukain adalah seorang penyair
  13. Umar bin Abdul Aziz memberi hadiah sebanyak 15 ekor unta kepada Dukain
  14. Umar memberi janji kepada Dukain akan memberi hadiah lagi jika beliau sudah jaya.
  15. Saksi atas janji tersebut adalah Salim bin Abdullah bin Umar bin Khattab dan Abu Yahya.
  16. Saat Umar sudah jaya yakni menjadi Khalifah di Syam, Dukain diberi hadiah separuh dari harta milik Khalifah Umar bin Abdul Aziz.



RPA

Apa RPA? Baca Bonus Abana RPA dan Tag Hafalan


  • Karna ini berkaitan dengan 3 peristiwa mulia Umar bin Abdul Aziz, maka Ayah/Bunda cukup menekankan 3 sifat dalam diri beliau yang ada dalam kisah ini. 
  • Orang yang takut akan tanggung jawab, beliau mengetahui keadaannya kaumnya.
  • Amanah, bahkan beliau sangat takut jika ingkar janji, meskipun beliau raja. Kahlifah Umar bin Abdul Aziz ingin mencapai kedudukan yang lebih tinggi di Surga. 
  • Dermawan, selalu memberikan kebutuhan masyarakat dan menggunakan uang pribadinya. Beliau juga perhatian dan menghormati orang yang sudah menempuh perjalanan jauh. Dimana beliau turun dari kuda demi mendengarkan keluhan rakyatnya yang dari jauh. bahkan beliau memberi uang perjalanan.
Silahkan Ayah/Bunda/Guru membaca kisah perjalanan beliau. Biografi Khalifah Umar bin Abdul Aziz
Perhatian: Jika Akhi/Ukhti ingin menyebarkan artikel abanaonline, kami izinkan (copy-paste). Namun, mohon untuk menyertakan sumber tanpa ada yang dirubah isinya. Kebijakan Iklan: Iklan yang ada di sini sudah diatur oleh pihak Google. Apabila Antum menemukan iklan yang kurang layak, bisa melaporkan ke no WA admin: 085766619270.

0 Komentar 3 Peristiwa Penting di Dalam Kisah Umar bin Abdul Aziz

Posting Komentar

Tulis komentar di sini dan centang tombol "Notify me" atau "Ingatkan kami" agar Antum bisa melihat balasannya. Syukran

Back To Top