Kisah Hidup Imam Bukhari Yang Mengagumkan

Kisah Imam Bukhari

Pada masa kekhalifahan, dahulu para ulama berusaha mengumpulkan hadits-hadits Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam yang kemudian dihafalkan supaya hadits tersebut tidak hilang, mereka rela keluar kota dengan jalan kaki atau naik unta hanya untuk bertemu dengan ulama dan mencatat hadits yang ia dapatkan. Namun, pada hari ini, ketika hadits sudah sangat mudah ditemukan, sedikit sekali kaum muslimin yang menghafal hadits nabi.

Oleh sebab itu, di sini kita akan bercerita tentang ulama Imam Bukhari dalam menuntut ilmu serta kisah perjalan hidupnya ketika menghadapi musibah dan cobaan. Semoga dengan ini kita bisa meneladani beliau dan mendapat suntikan semangat dalam belajar ilmu.

Biografi Imam Bukhari

Biografi dan Latar Belakang Imam Bukhari

Nama asli Imam Bukhari adalah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin al Mughirah bin Bardizbah. Beliau disebut Imam Bukhari karena dia lahir dari Bukhara yang sekarang disebut Uzbekistan. Imam Bukhari lahir pada bulan Syawwal tahun 194 Hijriyah.

Kota Bukhara dahulu adalah kekuasaan Persia yang menganut agama Majusi (penyembah api.) Oleh sebab itu kakek buyut Imam Bukhari yang bernama Bardizbah adalah seorang Majusi. Namun, setelah kota Bukhara ditaklukkan oleh kaum muslimin pada masa kekhalifahan Bani Umayyah, para penduduknya langsung memeluk Islam. Kemudian kakek Imam Bukhari yang bernama al Mughirah juga masuk Islam.

Setelah al Mughirah masuk islam, keluarga Imam Bukhari menjadi keluarga muslim. Bahkan keluarga beliau menjadi keluarga ulama. Ayahnya yang bernama Ismail bin Ibrahim seorang ulama yang terkenal di kota Bukhara. Sedangkan Ibu Imam Bukhari adalah seorang wanita ahli ibadah, memiliki banyak karomah.

Ciri-Ciri Imam Bukhari


Abdullah bin Adi mengatakan bahwa ia mendengar al Hasan bin al Husain al Bazzar di Bukhara berkata, "Aku melihat Muhammad bin Ismail bin Ibrahim sebagai syaikh yang bertubuh kurus, tidak tinggi dan tidak pula pendek."

Kisah Imam Bukhari dalam Menuntut Ilmu


Perjalanan Imam Bukhari dalam Menuntut Ilmu

Tidak diragukan lagi bahwa bagusnya asal keturunan al Bukhari menjadi sebab terbesar kesegeraan Imam Bukhari dalam menuntut ilmu. Sebagian ulama mengatakan, "Dia dididik dalam asuhan ilmu hingga tumbuh dewasa (dalam ilmu) dan menyusu pada payudara keutamaan lalu disapih dalam kondisi yang baik." Bagaimana kisah Imam Bukhari menuntut Ilmu?

Walaupun ayahnya seorang ahli hadits, Imam Bukhari tidak sempat belajar dengannya. Sebab ayah beliau meninggal sejak ia masih kecil. Namun hal itu tidak menurunkan semangatnya dalam belajar. Ia belajar dalam bimbingan serta kasih sayang ibunya.

Pada usia 10 tahun, beliau sudah mulai menghafal hadits-hadits. Bahkan suatu ketika beliau pernah ditertawakan oleh murid-murid yang lebih tua, karena ia hanya bisa menulis dua hadits, kemudian gurunya berkata, "Mungkin suatu hari nanti Muhammad (Imam Bukhari) akan menertawakan mereka" atas Izin Allah, Imam Bukhari mampu menghafal hadits dengan cepat.

Al Khathib al Baghdadi meriwayatkan dari Abu Ja'far Muhammad bin Abu Hatim, " Aku bertanya kepada Imam Bukhari, 'Bagaimana permulaan urusanmu dalam mencari hadits?' Bukhari menjawab, 'Aku diberi ilham untuk menghafalkan hadits saat masih di bangku sekolah.' Aku bertanya lagi, 'Berapa usiamu ketika itu?' Bukhari menjawab, 'Sepuluh tahun atau kurang dari itu. Kemudian aku lulus dari sekolah setelah Ashar lalu aku bolak balik kepada keluargaku dan selainnya."

Sejak saat itu, ia mulai dikenal dengan kemampuan hafalannya. Bahkan pada usia 11 tahun, beliau pernah membetulkan hafalan gurunya yang salah. Namun, kejadian itu tak membuatnya menjadi sombong. Imam Bukhari terus belajar dan menghafal hadits beserta menghafal nama-nama orang yang meriwayatkannya.

Perjalanan Imam Bukhari dalam Menuntut Ilmu ke Kota Makkah, Madinah, Bashrah, Kufah, Baghdad, Syam dan Mesir


Sudah menjadi kebiasaan ulama, bahwa mereka tak hanya belajar kepada ulama yang ada di daerah asal mereka. Begitu juga Imam Bukhari, saat berusia 16 tahun, dia pergi ke Makkah dengan ibunya untuk menunaikan haji. Namun, Imam Bukhari tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Dia ingin sekalian belajar kepada para ulama di Makkah.

Lalu Imam Bukhari izin kepada ibunya untuk menetap di Makkah dan tidak ikut kembali ke Bukhara. Akhirnya ibunya mengizinkannya. Imam Bukhari pun belajar dengan penuh semangat. Beliau belajar ilmu hadits kepada ulama Makkah selama dua tahun.  Kemudian ia menguasai tulisan-tulisan dari para ulama yang terkenal dan telah hafal kitab Ibnu al Mubarak dan Waki' serta mengetahui ucapan mereka.

Setelah menetap di Makkah dua tahun, ia melanjutkan belajarnya di Kota Nabi, Madinah. Kemudian belajar dengan para ulama di kota tersebut. Imam Bukhari masih belum puas, ia pun melanjutkan perjalannya ke kota Bashrah di Irak. Di sana beliau bertemu banyak ulama besar. Kemudian melanjutkan perjalanan menuntut ilmunya ke kota Kufah yang tidak jauh dari Bashrah. Setelah selesai belajar di sana, Imam Bukhari melanjutkan perjalanannya ke kota Baghdad yang saat itu menjadi ibu kota kekhalifahan Abbasiyah.

Di kota Baghdad, Imam Bukhari bertemu dengan Imam Ahmad. Beliau mendapat banyak ilmu dari Imam Ahmad. Beliau juga menjadi salah satu murid kesayangan Imam Ahmad. Setelah selesai, beliau pergi ke Syam dan terakhir ke kota Mesir. Setelah itu Imam Bukhari kembali ke Bashrah.

Itulah perjalanan hidup beliau keliling kota hanya untuk menuntut ilmu dan mengumpulkan hadits-hadits nabi.

Kecerdasan dan Keilmuan serta Ibadah Imam Bukhari


Setelah usahanya dalam menuntut ilmu, Imam Bukhari dianugrahi kecerdasan oleh Allah dengan kecerdasan yang luar biasa. Beliau dikaruniai penguasaan yang besar dalam hafalan, di samping itu beliau juga dikaruniai fiqih, zuhud, wara' dan ibadah.

Beliau telah hafal 100.000 hadits sohih dan 200.000 hadits tidak sohih, sebagaimana yang dikatakan oleh Muhammad bin Khamirwaih, "Aku mendengar Bukhari mengatakan bahwa beliau telah hafal 100.000 hadits shohih dan 200.000 hadits tidak shohih."

Selain cerdas, pintar dan dijadikan sebagai pemimpin ahli hadits, Imam Bukhari juga seorang yang ahli ibadah, zuhud dan dermawan. Sebab pepatah mengatakan, "Ilmu tanpa amal itu seperti pohon tanpa buah. Jadi beliau tak hanya belajar dan menghafal namun juga beramal.

Pernah suatu ketika Imam Bukhari sedang solat dan membaca ayat yang panjang. Setelah selesai solat, ternyata di kakinya ada banyak bekas sengatan kumbang, namun beliau tidak merasa sakitnya sengatan tersebut karena khusyunya dalam solat. Subhanallah.

Muhammad bin Hatim berkata, "Muhammad bin Ismail di undang ke kebun milik salah seorang sahabatnya. Ketika waktu dhuhur tiba, beliau sholat menjadi imam kaum itu, kemudian beliau berdiri untuk melakukan shalat sunnah dengan memperlama diri. Setelah selesai shalat, beliau mengangkat gamisnya seraya berkata, 'Lihat, apakah kalian melihat sesuatu di bawah gamisku?'

Ternyata ada kumbang besar yang sudah menyengatnya di 16 atau 17 tempat. Sehingga membuat tubuhnya bengkak karenanya. Maka salah seorang dari mereka mengatakan, ' Mengapa engkau tidak keluar dari shalat sejak awal dia menyengatmu?'

Beliau menjawab, 'Aku sedang membaca surat, lalu aku ingin menyelesaikannya."

Buku-Buku Karya Imam Bukhari

Sebagai ulama hadits yang terkenal, buku-buku Imam Bukhari kebanyakan membahas tentang hadits. Buku yang paling terkenal adalah Shahih Bukhari atau Jami' Sohih Bukhari. Dalam buku tersebut terdapat ribuan hadits sohih, bahkan para ulama menyebut Sohih Bukhari sebagai buku paling benar di atas muka bumi ini setelah al-Quran.

Selain itu, ada Tarikh al-Kabir, Tarikh al-Ausath dan Tarikh ash-Shagir, ketiga buku ini membahas nama-nama orang yang meriwayatkan hadits dan sifat-sifatnya. Dan juga kitab ini ditulis saat beliau berusia 18 tahun saat di Madinah.

Kemudian ada al-Adab al-Mufrad, kitab hadits yang membahas tentang adab dan akhlak.

Guru-Guru Imam Bukhari dan Murid-Muridnya

Perjalan hidupnya saat menuntut ilmu membuat ia memiliki banyak guru, jumlahnya kira-kira seribu lebih. Adapun guru-guru Imam Bukhari diantaranya ada:

  1. Muhammad bin Salam al-Baikandy dari kota Bukhara
  2. Abu Bakar bin Abdullah bin Zubair dari kota Makkah
  3. Mutharrif bin Abdullah saat Imam Bukhari belajar di Madinah
  4. Muhammad bin Sinan, Shafwan bin Isa dan Imam Ahmad di Iraq kota Baghdad dan lainnya.
  5. Utsman bin Saighah di kota Mesir
  6. Yusuf al-Faryabi saat di kota Syam

Murid-Murid Imam Bukhari:

  1. Imam Muslim
  2. Imam at-Tirmidzi
  3. Imam an-Nasa'i
  4. Imam ad-Darimy
  5. Abu Hatim ar-Razzi

Dan masih banyak lagi yang lain.

Kisah Imam Bukhari Difitnah

Sebagaimana yang sudah kami tulis, bahwa setelah Imam Bukhari belajar keluar kota, Makkah, Madinah dan lain-lain, beliau kembali ke Bukhara. Di sana beliau mengajarkan ilmu agama dan hadits-hadits nabi. Sampai-sampai membuat gubernur Bukhara yang bernama Khalid bin Ahmad adz-Dzahly tertarik ingin belajar untuknya dan anak-anaknya.

Kemudian Khalid pun mengirim utusan untuk memanggil Imam Bukhari ke istananya, namun Imam Bukhari tidak mau, sebab ilmu itu didatangi bukan mendatangi. Akhirnya gubernur pun marah dan Khalid bin Ahmad ini memfitnah Imam Bukhari. Beliau juga mengusir Imam Bukhari dari Bukhara.

Imam Bukhari pindah ke kota Samarqandi dan tinggal di sana bersama kerabatnya di desa Khortank. Namun, meskipun sudah pindah, Khalid bin Ahmad masih terus memfitnah Imam Bukhari, sehingga ia kesulitan menyebarkan ilmunya.

Kisah Wafatnya Imam Bukhari


Imam Bukhari wafat pada malam Idul Fitri tahun 253 Hijriyah dan dikuburkan di kota Samarkandi. Setelah dikubur, tanah kuburan Imam Bukhari mengeluarkan bau harum atau wangi, sehingga banyak orang-orang yang datang untuk mengambilnya.

Akhirnya, dibangunlah pagar di sekeliling kuburan Imam Bukhari agar mereka tidak bisa mengambil tanahnya.

Muhammad bin Hatim, "Sebelum meninggal, Imam Bukhari telah mengatakan kepada kami, 'Kafanilah aku dengan tiga kain kafan dengan tanpa baju dan sorban.' Kami pun melakukannya, kami mengkafaninya lalu menshalatkannya dan kami menguburkannya. Ternyata di dalam kuburnya keluar aroma harum seperti kasturi dan itu berlangsung selama beberapa hari. Orang-orang pun berdatangan ke kuburnya selama beberapa hari untuk mengambil tanahnya hingga kami buatkan jaring (untuk menghalanginya."

Itulah Kisah Imam Bukhari Yang Mengagumkan, semoga Allah merahmati Imam Bukhari dan semoga kita bisa meneladani semangat beliau dalam menuntut ilm.

Tag Hafalan:

  1. Nasab Imam Bukhari yakni Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin al Mughirah bin Bardzizbah.
  2. Dipanggil Imam Bukhari karena dia lahir dari Bukhara yang sekarang disebut Uzbekistan. 
  3. Imam Bukhari lahir pada bulan Syawwal tahun 194 Hijriyah.
  4. Imam Bukhari mulai menghafal hadits-hadits sejak usia 10 tahun.
  5. Imam Bukhari hafal 100.000 hadits shohih dan 200.000 hadits tidak shohih.
  6. Imam Bukhari wafat pada malam Idul Fitri tahun 253 Hijriyah dan dikuburkan di kota Samarkandi.

RPA

Apa RPA? Baca Bonus Abana RPA dan Tag Hafalan


  1. Ayah Bunda menyemangati anak-anak dalam menuntut ilmu, upaya mencontoh Imam Bukhari
  2. Ayah Bunda menyampaikan kepada anak bahwa harumnya kuburan beliau karna amal solihnya, dan kita pun tidak boleh meminta berkah kepada yang sudah meninggal
  3. Ayah Bunda menjelaskan di mana Makkah, Madinah, Baghdad dll, supaya anak benar benar merenungi jauhnya perjalanan Imam Bukhari dalam menuntut ilmu
Perhatian: Jika Akhi/Ukhti ingin menyebarkan artikel abanaonline, kami izinkan (copy-paste). Namun, mohon untuk menyertakan sumber tanpa ada yang dirubah isinya. Kebijakan Iklan: Iklan yang ada di sini sudah diatur oleh pihak Google. Apabila Antum menemukan iklan yang kurang layak, bisa melaporkan ke no WA admin: 085809999008.

0 Komentar Kisah Hidup Imam Bukhari Yang Mengagumkan

Posting Komentar

Tulis komentar di sini dan centang tombol "Notify me" atau "Ingatkan kami" agar Antum bisa melihat balasannya. Syukran

Back To Top