Tahun Baru Menurut Pendidikan Islam Usia Dini

Assalamualaikum teman-teman, tidak terasa sebentar lagi kita akan meninggalkan tahun 2017 M dan akan memasuki tahun baru 2018 yang jatuh pada hari Minggu atau Ahad.

Saat ini, mungkin sebagian keluarga muslim se Indonesia sedang menyiapkan dompet beserta isinya demi menyambut datangnya tahun baru 2018. Bahkan ada juga orangtua yang mengajak anak serta istri keluar menuju kota-kota besar demi menyaksikan perayaan tahun baru yang lebih meriah.

Maka sebelum kita melangkah lebih jauh dalam menyikapi tahun baru (ket: mengajak anak-anak merayakan tahun baru) yang akan datang, sebaiknya kita berfikir dahulu, bagaimana pandangan Islam mengenai masalah tahun baru ini. Terlebih lagi jika membawa anak-anak.

Merayakan Tahun Baru Menurut Kacamata Pendidikan Islam Anak


Tahun Baru Menurut Pendidikan Islam Usia Dini

Bentuk perayaan tahun baru sangatlah banyak, mulai dari membeli petasan, begadang malam, mengucapkan selamat tahun baru dan masih banyak lagi. Dalam perayaan tahun baru, bukan hanya orang dewasa yang merayakannya namun banyak juga dari kalangan anak-anak yang diajak untuk menyaksikan malam tahun baru.

Baca juga: Pendidikan Islam Keluarga

Saudaraku yang budiman, perlu diketahui bahwa anak adalah peniru ulung. Apa yang dilakukan orangtua secara tidak langsung akan membentuk kebiasaan pada anak. Maka jika orangtua melakukan kebiasaan buruk di depan anak-anak, bukan tidak mungkin anak tersebut akan menirukannya sampai dewasa.

Apabila kita mengajarkan bermain petasan maka kita telah membentuk kebiasaan anak untuk hidup boros. Apabila kita mengajarkan anak begadang malam tanpa ada manfaatnya, maka secara tidak langsung kita telah mengajarkan anak kepada perbuatan yang sia-sia.

مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ

"Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya." (HR. Tirimidzi). Dan masih banyak lagi keburukan-keburukan yang akan didapatkan oleh anak.

Bagaimana hukum tahun baru menurut Islam?

Pada dasarnya tahun baru masehi datangnya bukan dari Islam. Ya, tahun baru pertama kali datangnya dari orang-orang yang enggan menyembah Allah semata. Pertama kali dirayakan pada tanggal 1 Januari 45 SM (sebelum masehi). Tidak lama kemudian, Julius Caesar diangkat sebagai kaisar Roma, dan ia memutuskan untuk mengganti penanggalan tradisional dengan kalender yang kita kenal sekarang. Kemudian dirayakan setiap awal tahun, 1 Januari. (wikipedia indo)

Dari sini kita melihat bahwa perayaan tahun baru dimulai dari orang-orang kafir, sama sekali bukan dari Islam. Sehingga, apabila kita merayakan tahun baru masehi bersama anak dan istri, maka kita telah meniru gaya dan perayaan orang kafir serta menerapkan pendidikan di luar Islam. Sedangkan Rasulullah melarang kita untuk mengikuti gaya dan kebiasaan mereka. Itulah mengapa Islam melarang merayakan tahun baru masehi.

Karena Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam dan para sahabatnya Radiyallahuanhum serta para ulama terdahulu tidak pernah malakukan hal ini. Maka untuk membangun generasi kualitas sahabat, dan generasi yang gemilang. Kita hanya perlu mengikuti jejak mereka, yaitu meninggalkan perayaan tahun baru dan menggantinya kepada yang lebih berguna.

Cara Supaya Tahun Baru 2018 Lebih Bermanfaat Menurut Islam


Tahun Baru Menurut Pendidikan Islam Usia Dini

Menggunakan tahun baru yang lebih bermanfaat menjadi impian setiap orangtua muslim yang sadar akan tanggung jawabnya, yaitu mendidik generasi yang bertaqwa dan menjauhkan dari api Neraka. Bagaimana supaya tahun baru lebih bermanfaat?


1. Mengingatkan Akan HidupKita di Dunia



Tahun Baru Menurut Pendidikan Islam Usia Dini

Dengan bergantinya tahun, umur manusia pun akan semakin berkurang. Usia manusia pada umumnya sekitar 60-70 an tahun, dan setiap detik yang kita lalui akan dihisab oleh Allah di hari akhir.

Maka sepantasnya kita bersedih dan merenunginya, bukan malah bersenang-senang. Kemudian hal ini ditanamkan kepada anak-anak kita. Lihatlah perkataan ulama tentang hidupnya di dunia:

Imam Ahmad berkata kepada pamannya:

"Wahai paman, apa yang masih tersisa dari umur kita? Seakan-akan engkau menghadapi urusan yang telah menimpa kita. Maka takutlah kepada Allah, takutlah kepada Allah. Sesungguhnya anak-anak kami hanyalah ingin makan melalui kami dan sesungguhnya ini hanyalah hari-hari yang sebentar di dunia. Bersabar sebentar, dan pahala yang panjang. Ini tidak lain hanyalah fitnah (ujian)."

Imam Syafii menjawab pertanyaan atas kebiasaannya yang selalu membawa tongkat, "Aku membawa tongkat untuk mengingatkanku bahwa aku hanyalah seorang yang sedang melakukan perjalanan menuju akhirat."

Umar bin Abdul Aziz saat berpesan kepada kaumnya sebelum meninggal:

"Sesungguhnya dunia ini bukanlah negeri tempat kalian tinggal, dunia ini adalah negeri yang telah Allah tetapkan sebagai negeri yang fana, dan bahwa penghuninya juga akan meninggalkannya. Karena itu, pergilah sebaik-baiknya dari dunia ini dengan membawa muatan yang terbaik, Berbekallah, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa."

Itulah beberapa pesan ulama terhadap kehidupan di dunia. Pesan ini kami ambil dari kitab Shuwaru min Hayatis Sahabah Dr. Abdurrahman, yang sudah kami tulis di web abana online ini. [nb: web abana, selain membahas mengenai pendidikan, di sini juga ada kisah-kisa yang kami sesuaikan dengan kebutuhan saat mendidik anak]

2. Menganggap Tahun Baru Seperti Hari-Hari Biasa



Perayaan Tahun baru 2017

Cara yang kedua supaya tahun baru lebih bermanfaat adalah menanamkan kepada diri anak-anak supaya menganggap tanggal 1 Januari bukan hari yang istimewa. Karena nabi dan para sahabat pun menganggap demikian. Hanya orang-orang bermaksiat lah yang menganggap tahun baru adalah tahun istimewa.

3. Mengenalkan Peristiwa Islam di Tahun Baru Masehi


Tahun Baru Menurut Pendidikan Islam Usia Dini

Kebetulan tahun baru kali ini jatuh pada bulan Rabiul Akhir dalam kalender Hijriyah. Maka langkah yang paling penting adalah menanamkan kisah-kisah dari peristiwa penting yang ada di sejarah Islam atau sirah nabi yang terjadi pada bulan rabiul akhir. Misalnya, pada bulan ini Allah menurunkan surat Al-Hasyr yang bermaksud pengusiran. Kemudian ambil lah hikmahnya dan pelajarannya. Lalu tanamkan karakter iman kepada mereka.

Baca: Pendidikan Islam vs Pendidikan Sekularisme, mana yang lebih baik?

Baiklah, sekian dari catatan kami yang berjudul tahun baru 2018 menurut pendidikan Islam. Semoga bermanfaat. Wassalamualaikum. Ditulis oleh Abu Zaid sumber wikipedia, Shuwaru min Hayatis Shabah dari web abana online dan saya mengambil dalil hadist dari web rumaisha.com
Perhatian: Jika Akhi/Ukhti ingin menyebarkan artikel abanaonline, kami izinkan (copy-paste). Namun, mohon untuk menyertakan sumber tanpa ada yang dirubah isinya. Kebijakan Iklan: Iklan yang ada di sini sudah diatur oleh pihak Google. Apabila Antum menemukan iklan yang kurang layak, bisa melaporkan ke no WA admin: 085766619270.

0 Komentar Tahun Baru Menurut Pendidikan Islam Usia Dini

Posting Komentar

Tulis komentar di sini dan centang tombol "Notify me" atau "Ingatkan kami" agar Antum bisa melihat balasannya. Syukran

Back To Top