Cara Menasehati Anak Dengan Metode Analogi yang Baik


Assalamualaikum. Pada kesempatan kali ini abanaonline.com akan membahas mengenai metode menasehati atau komunikasi seorang pendidik saat menjumpai si anak melakukan suatu kesalahan. Ditulis dari kajian Ustadz Hafi Lc di saat kegiatan kajian guru Kuttab al-Fatih.

Cara Menasihati Anak dalam Pendidikan Islam dengan Analogi


Cara Menasehati Anak Dengan Metode Analogi yang Tepat

Mengetahui cara menasihati anak sesuai Islam bagi seorang pendidik sangatlah penting. Karena dalam mendidik anak usia dini, seorang guru atau orangtua harus memiliki sikap yang tidak saklek atau kaku dalam mengajar sebuah generasi gemilang di usia belia ini. Kaku dalam artian dia hanya menggunakan metode komunikasi itu-itu saja dalam mengajar atau mengarahkan anak-anak.

Padahal, Rasulullah Shalalallahu alaihi wassalam pun tidak demikan. Nabi tahu bahwa setiap sahabat tidak mempunyai satu karakter yang sama, begitu juga dengan apa yang terjadi pada anak-anak, yaitu tidak semua anak di sekolah atau di kelas memiliki satu karakter yang sama pula, sehingga dibeberapa kesempatan kita pun kadang perlu menggunakan metode intraksi yang berbeda dalam menghadapi prilaku si anak.

Misalnya kita melihat ada salah satu murid yang tidak tertib di kelas atau ribut saat solat, kemudian kita menegurnya dengan cara berintraksi yang biasa-biasa saja, "Nak, solat jangan ribut" "Nak, kata Allah sholat harus tenang" nah hal seperti ini mungkin akan sangat berpengaruh bagi anak yang pendiam atau dia tidak masih tergolong mudah diingatkan, adapun bagi orang yang hiperaktif atau yang lainnya, kita perlu merubah intraksi kita dengan cara lain.

Baca: Cara Mengatasi Anak Hiperaktif Dalam Islam

Di situlah kita harus pintar dalam menyusun sebuah kata-kata untuk si anak, agar nasehat kita dapat memberi sentuhan di hati si anak. Lihatlah apa yang Nabi Muhammad lakukan kepada salah seorang yang dia meminta sesuatu, namun permintaannya itu bisa dibilang amat-amat keterlaluan:



عن أبي أمامة ـ رضي الله عنه ـ قال: (إن فتى شابا أتى النبيَّ ـ صلى الله عليه وسلم ـ فقال: يا رسول الله، ائذن لي بالزنا!، فأقبل القوم عليه فزجروه، وقالوا: مه مه، فقال: ادنه، فدنا منه قريبا، قال: فجلس، قال: أتحبه لأمك؟، قال: لا واللَّه، جعلني اللَّه فداك، قال: ولا الناس يحبونه لأمهاتهم، قال: أفتحبه لابنتك؟، قال: لا واللَّه، يا رسول اللَّه جعلني اللَّه فداك، قال: ولا الناس يحبونه لبناتهم، قال: أفتحبه لأختك؟ قال: لا واللَّه، جعلني اللَّه فداك، قال: ولا الناس يحبونه لأخواتهم، قال: أفتحبه لعمتك؟ قال: لا واللَّه، جعلني اللَّه فداك، قال: ولا الناس يحبونه لعماتهم، قال أفتحبه لخالتك؟ قال: لا واللَّه جعلني اللَّه فداك، قال: ولا الناس يحبونه لخالاتهم قال: فوضع يده عليه وقال: اللَّهمّ اغفر ذنبه وطهر قلبه، وحَصِّنْ فرْجَه، فلم يكن بعد ذلك الفتى يلتفت إلى شيء) رواه أحمد

(وفي رواية أخرى: وقال: (اللهم طهر قلبه، واغفر ذنبه، وحَصِّنْ فرْجَه، فلم يكن شيء أبغض إليه منه - الزنا

Dari Abu Umamah: Telah datang seoramg pemuda kepada Nabi dan berkata:

"Wahai Rasulullah izinkan aku berzina," Lantas permintaan pemuda ini membuat para sahabat marah. Mereka hendak memukuli pemuda itu.

Namun, tidak demikian dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Setelah mendengarnya beliau -shalallahu alaihi wassalam-bersabda "Mendekatlah," (Beliau memanggil pemuda tersebut. Wajah Rasulullah tetap teduh, tak ada kemarahan, tak ada kata-kata kasar.)

Lalu pemuda tersebut duduk, dan Rasulullah melanjutkan sabdanya,

"Apakah engkau suka jika hal itu dilakukan kepada ibumu?" tanya Rasulullah.

"Tidak, demi Allah wahai Rasulullah. Semoga Allah menjadikanku sebagai tebusanmu" Jawab pemuda itu.

Nabi pun menjawab lagi "Demikian juga orang lain, mereka tidak ingin hal itu menimpa ibu-ibu mereka."

"Apakah engkau suka jika hal itu dilakukan kepada putrimu?" Rasulullah melanjutkan pertanyaannya.

Pemuda itu menjawab "Tidak, demi Allah wahai Rasulullah"

Rasulullah mengulang kalimat pertama, "Demikian juga orang lain, mereka tidak ingin hal itu menimpa putri-putri mereka."

Rasulullah, "Apakah engkau suka jika hal itu dilakukan kepada bibi-bibimu, saudari ayahmu?"

Pemuda, "Tidak, demi Allah wahai Rasulullah"

Rasulullah, "Demikian juga orang lain, mereka tidak ingin hal itu menimpa bibi-bibi mereka."

Rasulullah, "Apakah engkau suka jika hal itu dilakukan kepada bibi-bibimu, saudari ibumu?"

Pemuda, "Tidak, demi Allah wahai Rasulullah"

Rasulullah, "Demikian juga orang lain, mereka tidak ingin hal itu menimpa bibi-bibi mereka."

Setelah pemuda tersebut menyadari bahwa tak ada seorang pun yang rela ibu, putri dan kerabatnya dizinai sebagaimana dirinya sendiri juga tidak rela jika hal itu terjadi pada ibu, putri dan kerabatnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lantas meletakkan tangan beliau kepada pemuda itu sambil mendoakannya:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ ذَنْبَهُ وَطَهِّرْ قَلْبَهُ وَحَصِّنْ فَرْجَهُ

"Ya Allah… ampunilah dosanya, sucikanlah hatinya, dan jagalah kemaluannya."

"Setelah itu," kata Abu Umamah yang menceritakan kisah pemuda tersebut dalam hadits, "pemuda tersebut tidak pernah melirik apapun." Perbuatan zina menjadi hal yang paling dibencinya.

Masyaallah, lihatlah sang guru terbaik dari seluruh dunia ini, sang murobbi panutan para pendidik saat ini, Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wassalam. Bagaimana beliau mencabut kebatilan sang pemuda dengan cara komunikasi secara akal yang dapat melenyapkan keinginan dalam berzina. Lalu kemudian beliau mendoakan sang pemuda tersebut dengan kebaikan.

Perbuatan zina adalah kemungkaran yang amat besar, dosanya membawa kebinasaan. Banyak dalil-dalil ancaman mengenai perbuatan yang keji ini di dalam al-Quran. Namun apa? Rasulullah sama sekali tidak mengatakan suatu ancaman sedikit pun kepada pemuda tersebut, padahal kalau antum mau membaca dalil-dalil tentang bahaya zina, akan ada banyak sekali ancaman-ancaman yang mengerikan bagi pelakunya.

Maka seorang pendidik, guru atau orangtua kadang diperlukan juga menggunakan metode seperti ini, misalnya kita mendapati anak dengan adab yang jelek, cukup kita katakan, "Nak, maukah jarimu ustadz bakar dengan korek api?" pasti jawabannya, 'Tidak' lalu sang guru, "Api ini hanya sedikit panas dari pada api neraka yang panasnya berlipat-lipat, anak shalih masuk Surga, anak nakal masuk neraka, pilih mana?"

Insyaallah hanya dengan itu, bisa membuat anak berfikir untuk memperbaiki adabnya, sebagaimana yang nabi ajarkan, hanya dengan komunikasi secara akal, tapi sudah melenyapkan keinginan pemuda untuk berzina.

Jangan lupa setelah menasihati kita juga harus mendoakan kebaikan kepadanya, karena doa menjadi hal terpenting dalam dunia pendidikan, silahkan baca penjelasan lengkapnya di sini:  Pentingnya Doa Pendidik bagi Sang Anak

Selain itu, Rasulullah juga pernah mengingatkan kesalahan anak dengan metode pertanyaan, dan tidak memarahi sang anak.

Cara Menasehati Anak Dengan Metode Analogi yang Tepat

Hal ini dialami oleh sahabat Anas bin Malik, beliau berkata, "Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam adalah orang yang paling baik akhlaqnya, paling lapang dadanya dan paling besar kasih sayangnya. Suatu hari beliau mengutusku untuk suatu keperluan, aku berangkat, tetapi aku menuju anak-anak yang sedang bermain di pasar dan bukan melaksanakan tugas Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam, aku ingin bermain bersama mereka.

Beberapa saat setelah itu aku merasa ada seseorang yang berdiri di belakangku dan memegang bajuku, aku menoleh, ternyata dia adalah Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam dengan tersenyum, beliau bersabda, "Wahai Unais, apakah kamu telah pergi seperti yang aku perintahkan?" Maka aku pun salah tingkah, aku menjawab, "Ya, aku berangkat sekarang ya Rasulallah."

Jauh sekali dengan yang terjadi saat ini, dimana para orangtua akan memarahi sang anak apabila ia lupa mengerjakan tugasnya, "Nak, kamu sudah pikun ya? Bukannya suruh beli telor malah main?!" Padahal anak kita bukanlah generasi pikun.

Maka banyak sekali pelajaran yang dapat kita ambil dari kisah-kisah beliau di atas. Kisah di atas menunjukkan betapa pentingnya seorang guru agar mengolah kata tanpa harus saklek dengan 1 cara atau satu metode berinteraksi. Masih banyak cara lain dalam menasehati dan melarang. Dan lebih parah lagi apabila orangtua tidak mengingatkan kesalahan anak dan tidak mendoakannya.

Itulah cara menasihati anak dengan metode analogi yang tepat. Semoga kita diberi kemudahan dalam mendidik generasi Islam yang gemilang. Amiin Wallahualam. Ustadz Hafi Lc, kitab ar-Rasul al-Muallim.
Perhatian: Jika Akhi/Ukhti ingin menyebarkan artikel abanaonline, kami izinkan (copy-paste). Namun, mohon untuk menyertakan sumber tanpa ada yang dirubah isinya. Kebijakan Iklan: Iklan yang ada di sini sudah diatur oleh pihak Google. Apabila Antum menemukan iklan yang kurang layak, bisa melaporkan ke no WA admin: 085809999008.

0 Komentar Cara Menasehati Anak Dengan Metode Analogi yang Baik

Posting Komentar

Tulis komentar di sini dan centang tombol "Notify me" atau "Ingatkan kami" agar Antum bisa melihat balasannya. Syukran

Back To Top