Kisah Hidup Fathimah binti Muhammad Shallallahualaihi Wassalam


Jika kita yang membicarakan tentang pemimpin di Surga bagi kalangan wanita, pasti akan teringat dengan kisah Fatimah az-Zahra putri Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam. Fathimah merupakan salah satu putri Rasulullah yang paling dicintai dan disayangi oleh beliau Shalallahu alaihi wassalam.

Nama aslinya ialah Fatimah az-Zahra binti Muhammad bin Abdul Muthalib. Beliau lahir dari ibunya yang sangat mulia, yaitu Khadijah binti Khuwailid, istri dari Rasulullah yang pertama.

Ketika Fatimah hendak dilahirkan dari perut Khadijah, saat itu Nabi Muhammad sedang sibuk mendamaikan suku-suku Quraisy yang berselisih tentang peletakan Hajar Aswad setelah ka'bah diperbaiki. Kemudian Rasulullah pulang ke rumah dan mendapati istrinya yancvg hampir melahirkan. Setelah beberapa lama, Khadijah pun melahirkan seorang bayi perempuan yang cantik dan mungil. Rasulullah memberinya nama Fathimah.

Fathimah binti Muhammad dilahirkan di Makkah pada hari jum'at, bertepatan pada tanggal 20 Jumadil akhir yaitu 5 tahun sebelum masa kenabian. Pada waktu kelahiran Fathimah, Rasulullah berusia 35 tahun. Sebelumnya, Rasulullah memiliki 3 anak perempuan yang pertama adalah Zainab, Ruqayyah dan Ummu Kultsum.

Kemuliaan Fatimah az-Zahra di Sisi Nabi Muhammad


Kisah hidup Fatimah benar-benar menggambarkan kemuliaannya di sisi ayahnya, Muhammad bin Abdullah. Dimana semenjak beliau dilahirkan, Fatimah ditempatkan di rumah yang paling mulia. Bahkan, tidak ada rumah yang paling mulia di kota Makkah melebihi rumah yang ditempati Fatimah.

Di sisi lain, Fatimah menjadi anak yang paling dekat dengan ayah dan ibunya. Setiap hari beliau melihat dengan jelas perilaku dan keseharian Rasulullah. Ia juga melihat bagaimana akhlak, ketakwaan dan keimanan Rasulullah. Fatimah juga melihat secara langsung perilaku wanita yang paling mulia. Wanita yang hebat dan sangat terhormat serta dijamin masuk surga. Wanita itu adalah ibunya sendiri, Khadijah.

Dengan demikianlah Fatimah mendapat sentuhan langsung dari Rasulullah dan Khadijah hingga ia tumbuh sebagai perempuan yang mulia.

Kemuliaan dan keutamaan Fatimah di sisi nabi bukan hanya itu saja, masih ada kisah kemuliaannya di sisi ayahnya yang sangat agung, yaitu julukan az-Zahra dari sang ayah. Fatimah dijuluki az-Zahra bukan karena tanpa alasan, penyebutan az-Zahra itu disebabkan Rasulullah sangat mencintai dan menyayanginya serta sangat memperhatikannya. Itulah simbol kasih sayang Rasulullah dan kecintaan beliau terhadapnya.

Rasulullah pernah bersabda, "Fatimah itu bagian dari diriku, barangsiapa yang membencinya maka dia telah membenciku."

Aisyah, istri Rasulullah pernah berkata, "Saya tidak pernah melihat seorangpun yang mirip sekali dengan Rasulullah melebihi Fatimah. Gerak-geriknya dan penampilannya mirip dengan Rasulullah, baik ketika duduk maupun ketika berdiri."

Jika Fatimah menemui  Rasulullah, beliau berdiiri dan menemuinya lalu menciumnya dan meletakkannya di pangkuan beliau. Begitu pula jika Rasulullah datang menemui Fatimah, ia langsung berdiri dan mencium Rasulullah serta meminta beliau agar duduk di tempat duduk Fatimah. Subhanallah, alangkah besarnya kasih sayang Rasulullah terhadap putrinya ini.

Kisah Fatimah dan Turunnya Wahyu


Cerita ini dimulai ketika Fatimah berusia 5 tahun, dikisahkan bahwa saat itu Fatimah sering melihat ayahnya pergi meninggalkan rumah, bahkan sampai berhari-hari Rasulullah tidak pulang. Sedangkan Fatimah dan saudari-saudarinya tinggal bersama ibunya di rumah.

Ketika Rasulullah pulang, Khadijah menyambutnya dengan penuh bahagia, begitu juga Fatimah menyambut kedatangan ayahnya penuh dengan kegembiraan. Tetapi, kepulangan Rasulullah itu hanya untuk mengambil bekal makanan saja, setelah itu beliau pergi lagi selama beberapa hari. (pen. perginya ke gua Hira)

Dari sinilah Fatimah mulai berfikir, apa yang terjadi dengan ayahnya, sehingga beliau pergi meninggalkan mereka selama beberapa hari. Padahal dirinya senantisa rindu untuk bertemu dan duduk-duduk kembali bersama ayahnya. Rasa penasaran yang ada pada diri Fatimah itu akhirnya terjawab juga. Ternyata ayahnya pergi ke gua hira untuk menjauh dari kehidupan masyarakat Makkah yang banyak menyembah berhala dan banyak dipenuhi dengan kebiasaan-kebiasaan jahiliyyah.

Pada suatu hari, Rasulullah pulang kembali kerumhnya, namun ternyata tidak untuk mengambil bekal, akan tetapi Ayah Fatimah pulang dengan penuh ketakutan dan mengatakan kepada istrinya, Khadijah, "Selimutilah aku, selimutilah aku." Khadijah pun menyelimutinya. Pada saat itu, Fatimah menyadari bahwa ayahnya mendapat wahyu dari Allah melalui malaikat Jibril di gua Hira.

Fatimah menyakini bahwa ayahnya adalah seorang Nabi dan Rasul utusan Allah. Fatimah menyaksikan langsung bagaimana kondisi ayahnya ketika wahyu yang pertama itu turun. Artinya, Fatimah, ibunya dan saudari-saudarinya adalah manusia pertama yang masuk Islam.

Kisah Kedekatan Fatimah dengan Islam


Setelah kejadian itu, turunlah wahyu Allah sedikit demi sedikit kepada Rasulullah. Sehingga setiap wahyu itu turun, Fatimah selalu mengetahuinya dan mendengarnya. Dia juga dapat mendengarkan ayat-ayat al-Quran yang dibacakan Rasulullah dan ibunya setiap saat. Fatimah belajar Islam dan al-Quran beserta kandungan maknanya langsung dari ayahnya sendiri, Rasulullah shallallahualaihi wassalam.

Rasulullah mulai mendakwahkan Islam ke seluruh penduduk Makkah. Namun, Abu Jahal dan kelompoknya selalu menghina dan mencaci beliau. Fatimah selalu menyaksikan bagaimana ayahnya dihina dan dicaci.

Fatimah merasakan bagaimana beratnya mendakwahkan Islam pada waktu itu. Terkadang ia menangis melihat ayahnya dihina. Namun Rasulullah selalu menasehatinya bahwa Allah akan melindungi keluarganya. Fatimah pun tegar dan bersabar atas apa yang menimpa keluarganya.

Fatimah Membersihkan Kotoran Dari Punggungnya Nabi


Setelah dihadapi berbagai ujian dan cobaan, kali ini Fatimah benar-benar diuji oleh Allah atas perbuatan kafir Quraisy. Kisah ini bermula saat dimana Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam pergi ke Ka'bah hendak melaksanakan shalat, namun, di sana ada Abu Jahal dan kelompoknya yang sedang menyembelih binatang, lalu Abu Jahal berkata kepada teman-temannya, "Siapa yang berani meletakkan kotoran dan isi perut binatang ini ke punggung Muhammad?"

Nah, ketika Rasulullah sedang sujud, datanglah Uqbah bin Abu Mu'id, dia meletakkan kotoran dan isi perut binatang di atas punggung Rasulullah. Saat kejadian itu Fatimah benar-benar menyaksikan perbuatan mereka itu dan beliau pun langsung menghampiri ayahnya, lalu menyingkirkan kotoran itu dari punggung Rasulullah. Betapa sedihnya hati Fatimah yang melihat ayahnya diperlakukan seperti itu oleh kafir Quraisy. Betapa sabarnya hati Rasulullah dan putrinya Fatimah az-Zahra radiyallahuanha. Subhanallah..

Kesedihan Fatimah az-Zahra Putri Muhammad


Ujian yang dijalani keluarga nabi semakin berat, orang-orang kafir Makkah melarang penduduk Makkah menjual makanan kepada kaum muslimin dan keluarga Rasulullah. Kejadian ini berlangsung selama 3 tahun. Fatimah, ibunya dan saudari-saudarinya terpaksa pindah ke rumah Abu Thalib, karena tidak ada makanan sama sekali.

Hari demi hari dilalui putri nabi, Fatimah tanpa makanan, kelaparan, perut yang kosong dan anak-anak kecil yang menangis. Ibunda Fatimah, Khadijah juga mengalami hal yang sama. Tubuh Khadijah semakin hari semakin lemah. Akhirnya Khadijah jatuh sakit dan tidak bisa banyak bergerak.

Setelah merasakan sakit berhari-hari, di tahun ke sepuluh kenabian, Ibunya Fatimah, Khadijah binti Khuwailid wafat. Sedangkan Fatimah saat itu masih berusia 15 tahun. Kejadian ini menjadi tahun kesedihan bagi Rasulullah dan Fatimah.
Sejak Khadijah wafat, Fatimah tinggal di rumah bersama Rasulullah. Fatimah merawat, mengurusi dan menyiapkan segala kebutuhan ayahnya. Fatimah bukan hanya sekedar anak, tetapi ibarat seorang ibu sehingga Rasulullah menjulukinya Ummu Abiha (Ibu bagi ayahnya).

Fatimah Hijrah ke Madinah

Kisah Hidup Fathimah binti Muhammad Shallallahualaihi Wassalam

Ketika Allah mengizinkan Rasulullah dan ummatnya untuk hijrah ke Madinah, maka Rasulullah dan para sahabat bergegas meninggalkan Makkah menuju Madinah, namun, Fatimah dan Ummu Kultsum masih berada di Makkah.

Setelah beberapa hari Rasulullah tinggal di Madinah beliau mengutus Zaid bin Haritsah dan Abu Rafi' dengan membawa 2 ekor unta dan uang sejumlah 500 dirham untuk menjemput kedua putri beliau.

Akhirnya Zaid bin Haritsah dan Abu Rafi' menjemput Fatimah dan Ummu Kultsum untuk berhijrah ke Madinah. Keduanya pergi dengan menaiki unta yang telah dibawa dari Madinah.

Di pertengahan jalan, seseorang yang bernama Huwairits bin Nafid menghadang perjalanan mereka dan memukul kedua unta itu hingga terjatuh. Kemudian dia mencuri salah satu unta tersebut. Akhirnya Fatimah dan Ummu Kultsum bergantian menaiki unta. Hal ini yang mengakibatkan Fatimah keletihan karena ia harus berjalan kaki. Tidak lama kemudian, mereka pun sampai ke Madinah dan Rasulullah menyambut kedua putrinya tersebut.

Rasulullah pernah bersabda, "Fatimah itu bagian dari diriku, barangsiapa yang membencinya maka dia telah membenciku."

Kisah Cinta Fatimah az-Zahra dengan Ali bin Abi Thalib

Kisah Hidup Fathimah binti Muhammad Shallallahualaihi Wassalam

Kisah cinta Fatimah dan Ali bin Abi Thalib merupakan salah satu kejadian besar dalam hidup Fatimah Radiyallahuanha. Ketika itu sahabat Abu Bakar, Umar bin Khattab dan sebagian sahabat lainnya menyarankan kepada Ali bin Abi Thalib untuk meminang putri Rasulullah. Dengan malu-malu Ali pun memberanikan diri untuk datang ke rumah Rasulullah. Sesampainya di rumah Rasulullah, Ali berkata, "Wahai Rasulullah, apakah engkau berkenan untuk menikahkanku dengan Fatimah?"

Rasulullah tersenyum, lalu masuk ke dalam dan bertanya kepada Fatimah, "Wahai putriku, Ali meminangmu, apakah engkau menerimanya?"

Fatimah pun menerima pinangan Ali bin Abi Thalib. Rasulullah bergembira dan berseri-seri atas rencana pernikahan putri kesayangan dengan lelaki kesayangan beliau pula.

Rasulullah datang menemui Ali bin Abi Thalib dan bertanya, "Apa yang kamu miliki wahai Ali?"

Ali seorang pemuda yang miskin, tidak memiliki banyak harta. Sehingga ia menjawab, "Saya tidak memiliki apa-apa wahai Rasulullah."

Rasulullah berkata, "Di mana baju perangmu?"

Lalu Rasulullah dan Ali menjual baju perangnya dengan harga empat ratus ribu dirham, dan setelah itu uang tersebut digunakan sebagai mahar Fatimah putri Rasulullah.

Rasulullah menyarankan agar uang tersebut digunakan untuk membeli minyak wangi dan perabotan rumah. Rasulullah memerintahkan Anas bin Malik agar mengundang Abu Bakar, Umar, Utsman, Thalhah, Zubair dan beberapa sahabat lainnya dari kalangan Anshar (penduduk Madinah).

Akhirnya Ali menikah dengan Fatimah pada bulan Dzulqa'dah tahun ke 2 hijriyah setelah perang Badar.

Pernikahan Ali dengan Fatimah diadakan dengan sangat sederhana. Saad bin Muadz datang dengan membawa seekor kambing dan sebagian sahabat juga membawanya.
Pada hari itu, Rasulullah dan keluarganya serta para sahabat dari Muhajirin dan Anshar diliputi kegembiraan. Mereka makan dan minum dari hidangan yang sangat sederhana.

Dua keluarga mulia ini, (Ali dan Fatimah) tinggal di rumah sendiri. Sebuah rumah yang tidak banyak perabotan tetapi hanya berisikan kasur, bantal terbuat dari anyaman pelepah kurma, bejana, tempat minum, alat untuk menumbuk gandum dan handuk. Pada awalnya, rumah Fatimah jauh dari rumah Rasulullah. Namun setelah itu ditukarlah rumah Fatimah dengan rumah Harits bin Nu'man yang dekat dengan Rasulullah. Tujuannya supaya Rasulullah dapat menjenguk putrinya setiap hari.

Dari pernikahan Ali dengan Fatimah, lahirlah empat anak. Yaitu Hasan, Husain, Zainab dan Ummu Kultsum. Anak yang pertama adalah Hasan lalu Husain, yang ketiga Zainab dan yang terakhir Ummu Kultsum.

Fatimah Pemimpin Kaum Perempuan di Surga


Di sini,  hidup Fatimah terasa berat, dan menyenangkan, sebab ia sedang dihadapi keadaan yang berlawanan arah.

Pada suatu hari, Rasulullah didatangi oleh Malaikat. Beliau bersabda, "Malaikat ini tidak pernah turun ke bumi sebelum malam ini. Malaikat meminta izin kepada Allah untuk mengucapkan salam kepadaku dan memberitahukan kabar gembira kepadaku bahwa Fatimah akan menjadi pemimpin kaum perempuan di Surga, sedangkan Hasan Husain menjadi pemimpin anak muda di Surga."

Ketika Rasulullah sakit, Fatimah datang menemui ayahnya. Lalu ayahnya membisikkan sesuatu kepada Fatimah, ia pun menangis. Kemudian Rasulullah membisikkan sesuatu lagi hingga Fatimah tertawa. Inilah yang disebut 2 keadaan yang berlawanan. Lalu apa isi dari bisikan sang ayah kepada putrinya?

Fatimah berkata, "Aku menangis karena aku diberitahu bahwa ayahku akan meninggal, lalu aku tertawa karena aku diberitahu bahwa kelak aku akan menjadi pemimpin kaum wanita di Surga." Subhanallah.. Semoag kita juga dikumpulkan di Surga bersama mereka.

Kisah Wafatnya Fatimah Putri Nabi


Enam bulan setelah Rasulullah wafat, Fatimah menderita sakit. Dia yakin bahwa kematiannya telah dekat karena Rasulullah telah memberitahunya bahwa dia adalah keluarga Rasulullah yang pertama menyusulnya.

Ketika Fatimah sakit, Abu Bakar menjenguknya. Dia datang ke rumahnya dan disambut Ali. Fatimah mempersilakan Abu Bakar masuk ke kamarnya lalu Abu Bakar meminta maaf kepada Fatimah jika terdapat kesalahan, Fatimah pun memaafkannya.

Fatimah, putri Rasulullah meninggal dunia pada hari Senin, malam Selasa tanggal 3 Ramadhan tahun 11 hijriyah. Ali bin Abi Thalib sendiri yang memandikan Fatimah.

Abbas bin Abdil Muthalib bertindak sebagai imam pada shalat jenazah Fatimah. Fatimah dimakamkan di malam hari, Ali bin Abi Thalib dan Abbas bin Abdul Muthalib yang membantu menurunkan jenazah ke liang lahat.

Baca juga: Cara Bercerita pada Anak yang Baik dan Benar

Referensi: Wanita-Wanita Penghuni Surga, Nizar Saad Jabal Lc.Mpd, Qids.
Tag Hafalan

  1. Fathimah az Zahra adalah putri Rasulullah yang ketiga dari Khadijah binti Khuwailid.
  2. Fatimah az Zahra dilahirkan pada tanggal 20 Jumadil akhir, 5 tahun sebelum kenabian.
  3. Saat Fatimah berusia 15 tahun, Khadijah meninggal dunia.
  4. Fatimah menikah dengan Ali bin Abi Thalib pada bulan Dzulqa'dah tahun kedua hijriyah.
  5. Mahar Ali saat menikahi putri nabi berupa uang sebesar 400.000 dirham.
  6. Pernikahan Ali dan Fatimah menghasilkan empat anak, Hasan, Husain, Zainab dan Ummu Kultsum.
  7. Fatimah az Zahra wafat pada hari Selasa tanggal 3 Ramadhan tahun 11 hijriyah.


RPA

Apa RPA? Baca Bonus Abana RPA dan Tag Hafalan

  1. Ayah Bunda menanamkan iman kepada hari akhir, tentang Surga. Yaitu "siapa yang shalihah maka dia akan berkumpul dengan pemimpin kaum wanita, Fatimah putri Rasulullah"
  2. Ayah Bunda menceritakan kecintaan Rasulullah kepada Fatimah sampai-sampai dijuluki az-Zahra, maka pendidik harus mengarahkan anak-anak untuk mencintainya agar dicintai juga oleh nabi Muhammad.
  3. Ayah Bunda menanamkan anak tentang rasa berbakti kepada orangtua, cinta kepada orangtua, sebagaimana Fatimah dengan Rasulullah, sampai dia rela membersihkan kotoran yang ada di punggung nabi.
Baiklah, itu saja Kisah Hidup Fathimah binti Muhammad Shallallahualaihi Wassalam beserta RPAnya. Semoga Allah meridhoi Fatimah dengan menjadikannya pemimpin kaum wanita di Surga.
Perhatian: Jika Akhi/Ukhti ingin menyebarkan artikel abanaonline, kami izinkan (copy-paste). Namun, mohon untuk menyertakan sumber tanpa ada yang dirubah isinya. Kebijakan Iklan: Iklan yang ada di sini sudah diatur oleh pihak Google. Apabila Antum menemukan iklan yang kurang layak, bisa melaporkan ke no WA admin: 085809999008.

0 Komentar Kisah Hidup Fathimah binti Muhammad Shallallahualaihi Wassalam

Posting Komentar

Tulis komentar di sini dan centang tombol "Notify me" atau "Ingatkan kami" agar Antum bisa melihat balasannya. Syukran

Back To Top