3 Motivasi Guru Agar Semangat Mengajar, Ustadz Budi Ashari Lc

Bagaimana cara supaya guru tidak malas dan semangat mengajar?- Alhamdulillah segala puji bagi Allah Rabb Semesta Alam, pertama kami para guru di Kuttab Al-Fatih Bandar Lampung sangat bersyukur sekali atas kedatangan Ustadz Budi Ashari Lc di kota kami untuk memberi ilmu parenting di berbagai daerah, dan Alhamdulillah ternyata banyak sekali warga Lampung yang antusias untuk mengikutinya.

Motivasi Guru Agar Semangat Mengajar, Ustadz Budi Ashari Lc

Sebelum beliau hafidzahullah mengisi kajian umum di masjid-masjid besar, terlebih dahulu beliau mengisi dan memberi motivasi kepada guru-guru Kuttab Bandar Lampung pada Sabtu, 25-03-2017 Kemiling. Dan juga memberi motivasi ruhiyah kepada orangtua santri di hari yang sama namun di tempat yang berbeda.

Alhamdulillah dari kedua kajian di atas, (kajian khusus guru dan orangtua) berhasil kami rangkum meskipun mungkin tak selengkap isi kajiannya. Baiklah langsung saja berikut motivasi yang bisa menumbuhkan semangat para guru dalam mengajar:

1. Orang Kafir dan Orang Muslim Sama-Sama Bekerja Keras dan Juga Sama-Sama Capek, Tapi..


Bukan hanya guru yang bekerja keras mengajarkan anak-anak di sekolahnya, tapi orang kafir non muslim juga bekerja keras. Bahkan bukan hanya masalah mengajar namum semua perbuatan antara mereka dan kita sama, baik dari segi belajar, bekerja, sosial dan masih banyak lagi. Buktinya banyak sekali lembaga sosial yang didirikan oleh mereka malah bisa jadi jasa mereka kepada orang-orang lemah lebih banyak dibandingkan kita.

Sehingga antara kita dan mereka memiliki rasa capek yang sama, rasa semangat yang sama. Tapi ada hal besar yang membedakan antara kaum muslim dan kafir. Apa itu?

Kaum muslimin memiliki harapan besar terhadap Allah. Dalam Qs. An-Nisa 104 Allah telah berfirman:

وَتَرْجُونَ مِنَ اللَّهِ مَا لَا يَرْجُونَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

"...sedang kamu masih dapat mengharapkan dari Allah apa yang tidak dapat mereka harapkan. Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana."

Subhanaallah, berbahagialah kaum muslimin. Kita sebagai guru bekerja, beraktifitas, mengajar dan lain sebagainya bukan karena dunia semata, namun ada harapan besar terhadap Allah ta'ala. Dan orang beriman harus pandai memelihara harapannya di hadapan Allah ta'ala. Sehingga dari sini ada dua poin besar yang dialami kaum muslimin sedunia yaitu, (Lelah dan Harapan)

Artinya saat menjalani pekerjaan dengan letih lelah, kita dapat menikmatinya atas harapan kepada Allah. Subhanallah betapa mudahnya bahagia itu, bahagia tidak harus menunggu waktu luang tapi waktu sibuk pun kita bisa bahagia.

Wahai Guru Mari Kita Nikmati Prosesnya, Karena di Sana Ada Harapan..

Jika orang kafir saja bisa menikmati proses kerja kerasnya, maka kita sebagai orang Islam juga harus bisa menikmatinya, hanya saja orang kafir menikmati karena dunia sedangkan orang beriman karena berharap kepada Allah. Itulah bedanya..

Mengajar jangan terpaksa, tapi mengajar harus seperti orang yang memiliki suatu hobi. Misalnya, ada seseorang yang memiliki hobi memelihara burung tapi di lain sisi dia sedang bekerja di sebuah perusahaan. Kadang mereka lebih tahu tentang burungnya, perawatannnya atau yang lainnya ketimbang soal pekerjaannnya. Mengapa?

Ya, itu semua bisa terjadi karena dia mempunyai hobi memelihara burung namun tidak hobi terhadap pekerjaannya, atau dalam arti lain dia terpaksa bekerja.

2. Jika Sudah Berharap, Guru Harus Memantaskan Diri kepada Allah


Motivasi Guru Agar Semangat Mengajar, Ustadz Budi Ashari Lc

Poin kedua yang beliau sampaikan agar guru semangat mengajarkan anaknya di kelas ialah, sudahkanh kita memantaskan diri kepada Allah?

Seseorang yang selalu berharap kepada Allah pasti dia tau diri. Apakah kita ni orang yang pantas mengharap Allah subahanahu wa ta'ala atau tidak??

Kita berharap dunia pendidikan Islam bangkit, namun di sisi lain kita memiliki amalan yang tidak pantas di hadapan Allah, apakah sudah bisa disebut tahu diri?

 فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

"Maka barangsiapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan (amal shalih) dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya." (Qs. Al-Kahfi 110)

Selain dengan amal shalih, kita juga harus memantaskan diri saat berdoa. Misalnya harus merengek-rengek. Coba lihatlah bagaimana nabi Muhammad berdoa di perang Badar, yang mana doa beliau jelas dikabulkan, karena beliau seorang nabi yang paling shalih dan jelas keimanannya. Tapi lihat bagaimana isi doa beliau shalallahu alaihi wassalam,

اللَّهُمَّ أَنْجِزْ لِى مَا وَعَدْتَنِى اللَّهُمَّ آتِ مَا وَعَدْتَنِى اللَّهُمَّ إِنْ تَهْلِكْ هَذِهِ الْعِصَابَةُ مِنْ أَهْلِ الإِسْلاَمِ لاَ تُعْبَدْ فِى الأَرْضِ

"Ya Allah, penuhilah untukku apa yang Kau janjikan kepadaku. Ya Allah, berikan apa yang telah Kau janjikan kepadaku. Ya Allah, jika Engkau biarkan pasukan Islam ini binasa, tidak ada lagi yang menyembah-Mu di muka bumi ini." (HR. Muslim dan Ahmad)

Bacalah dengan cermat, beliau tidak berdoa dengan redaksi teks yang biasa-biasa saja, misalnya "Ya Allah menangkanlah kaum muslimim" padahal doa beliau jelas terkabul. Di sana beliau terkesan memaksa Allah, dan mengancam sesuatu, "Ya Allah, jika Engkau biarkan pasukan Islam ini binasa, tidak ada lagi yang menyembah-Mu di muka bumi ini."

Subhanaallah, yang nabi saja masih seperti itu. Bagaimana dengan kita? Bagaimana kita mendoakan anak-anak kita? sudahkah kita merengek-rengek. Lagi-lagi mari memantaskan diri kita, sebelum berdoa mari pantaskan dulu diri kita di hadapan Allah ta'ala. (Sebenarnya, ust Budi juga berkisah tentang cerita Hajjaj bin Yusuf namun kami tidak sempat menulisnya)

3. Mengajar Itu Amal Shalih, Jadi Penuhi Syarat Diterimanya Amal


Motivasi Guru Agar Semangat Mengajar, Ustadz Budi Ashari Lc

Bagi kami, poin ketiga ini merupakan poin yang sangat luar biasa. Kita tahu, mengajarkan anak-anak di sebuah lembaga Islam merupakan amal shalih yang mulai, maka kita pun harus memahami apa saja syarat diterimanya alam. Allah berfirman dalam Al-Quran,

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha perkasa, Maha Pengampun.

Dan juga Allah berfirman:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar). (Qs. Al-Bayyinah 5)

Dari ayat di atas, ada 2 syarat diterimanya amalan seorang hamba, yaitu ikhlas dan sesuai Sunnah Rasulullah (amalan yang paling baik)

A. Ikhlas

Ikhlas sangatlah penting, sampai-sampai dalam urusan niat para ulama selalu mengingatkan di awal kitabnya. Misalnya Imam Bukhari dengan Kitab Shahihnya, Imam Nawawi dengan Kitab Arbaiin dan Kitab Riyadus Shalihinnya.

Yang jelas, ilmu ikhlas perlu kalian buka kembali. Pelajarilah lebih dalam. Perlu diingat, ikhlas tidak identik dengan harta. Buktinya Abu Bakar meminta tambahan gaji saat mau diangkat jabatannya. Apakah Abu Bakar tidak ikhlas??

Tapi juga ini tidak sembarangan digunakan, kita juga harus melihat dengan keadaan kaum muslimin sekarang. Intinya ilmu ikhlas perlu kalian kaji ulang dengan serius.

B. Amalan yang paling baik dan benar


Jika ikhlas berurusan dengan hati manusia, maka amalan yang baik berurusan dengan Ilmu. Semua perlu ilmu, bagaimana yang sesuai sunnah Nabi Muhammad dan bagaimana yang tidak. Alhamdulillah di Kuttab Al-Fatih sendiri semua anggota mulai dari pihak guru, manajemen maupun orangtua tidak berhenti belajar. Tidak guru, tidak murid, semua harus belajar. Menghafal matan, hadits dan masih banyak yang lainnya.

Apabila ikhlas dan ilmu sudah mantap, maka selanjutnya ialah Allah taala yang bekerja dan akan muncul keajaiban (perkara mustahil bisa terjadi). Sebagaimana yang dialami oleh nabi-nabi terdahulu.

Di sini Ustadz Budi bercerita tentang kisah nabi Ibrahim, Zakariyya dan keluarga Maryam. Di mana nabi Zakaria yang terus berdoa kepada Allah dengan permintaan mustahil. Yakni meminta keturunan padahal saat itu dia sudah sangat tua, bahkan istrinya mandul. Dengan keshalihan dan keikhlasan nabi Zakariya, Allah pun bekerja dan muncul keajaiban.

Begitulah, Allah yang Maha Mampu atas Segalanya. Ya, meskipun kita di sini (Kuttab Al-Fatih) keimanannya dan keikhlasannya belum setingkat para nabi, tapi kami terus ikhlas dan beramal shalih dengan memenuhi syaratnya, Insyaallah akan muncul keajaiban dariNya. Masyaallah

Baca juga: Ruhiyah Guru Sangat Penting saat mengajar anak-anak, Mengapa?

Baiklah itu saja yang bisa kami sampaikan dari kajian Ustadz Budi Ashari Lc, motivasi guru untuk semangat mengajar. Ayo tatap generasi gemilang di usia belia. Share agar bermanfaat juga buat yang lain sehingga menjadi penyemangat mereka dalam mendidik. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarkatuh Wallahua'alam bi Shawab
Perhatian: Jika Akhi/Ukhti ingin menyebarkan artikel abanaonline, kami izinkan (copy-paste). Namun, mohon untuk menyertakan sumber tanpa ada yang dirubah isinya. Kebijakan Iklan: Iklan yang ada di sini sudah diatur oleh pihak Google. Apabila Antum menemukan iklan yang kurang layak, bisa melaporkan ke no WA admin: 085766619270.

0 Komentar 3 Motivasi Guru Agar Semangat Mengajar, Ustadz Budi Ashari Lc

Posting Komentar

Tulis komentar di sini dan centang tombol "Notify me" atau "Ingatkan kami" agar Antum bisa melihat balasannya. Syukran

Back To Top