Kisah Sahabat Mulia Arqam bin Abil Arqam

Mungkin masih banyak kaum muslimin yang belum mengenal sahabat Arqam bin Abil Arqam. Padahal beliau memiliki sejarah panjang selama hidupnya bersama Rasulullah shalallahu alaihi wassalam. Dan rumahnya dikenal sebagai madrasah Islam pertama kali. Baiklah bagaimana kisahnya? Mari kita baca bersama-sama.

Biografi Arqam bin Abil Arqam


Kisah Sahabat Mulia Arqam bin Abil Arqam

Nama Asli Arqam adalah Abdu Manaf bin Asad bin Abdullah bin Amr bin Makhzum. Ia dipanggil Abu Abdillah dan tinggal di Makkah.

Kehidupan jahiliyah adalah kehidupan yang dipenuhi dengan berbagai macam kemusyrikan. Masyarakat yang hidup di masa itu mengalami berbagai macam kedzaliman. Sehingga kehidupan mereka dipenuhi dengan banyak keburukan.

Orang orang kuat menindas yang lemah, orang kaya menghina dan merendahkan orang miskin, terjadi pembunuhan karena masalah masalah kecil dan tidak jelas. Kemudian muncullah cahaya Islam untuk menerangi bangsa Arab yang hidup dalam kegelapan jahiliyah dan menjadi rahmat bagi semua manusia di muka bumi. Allah mengutus Muhammad sebagai RasulNya.

Rasulullah shalallahu alaihi wassalam diutus untuk mengeluarkan manusia dari jalan yang gelap gulita menuju cahaya keimanan yang terang. Nabi shalallahu alaihi wassalam mulai mendakwahkan ajaran Islam ini kepada penduduk Makkah.
Beliau memulai dengan mengajak keluarganya, teman teman dekatnya di masa jahiliyah dan orang orang penting dari suku Quraisy. Sahabat dekat beliau Abu Bakar, orang pertama yang menerima ajaran Islam.

Abu Bakar pun mulai mendakwahkan Islam kepada para sahabatnya. Beliau mengajak Utsman, Thalhah, Zubair, Saad bin Abi Waqash. Mereka semua juga ikut masuk Islam. Sahabat yang lain yang diajak Abu Bakar adalah Arqam bin Abil Arqam. Mereka berdua menjadi sahabat sudah lama sebelum datangnya Islam. Maka ketika Abu Bakar mengajaknya masuk Islam, tanpa ada keraguan sedikitpun dalam hatinya, dia langsung masuk Islam.

Arqam bin Abil Arqam al Makhzumy adalah sahabat yang memeluk Islam pada hari hari pertama didakwahkannya Islam, bersamaan dengan Abu Ubaidah bin Jarrah, Bilal bin Rabah, Abu Salamah dan yang lainnya. Mereka disebut As Sabiqunal Awwalun, mereka telah dijamin memperoleh keridhoan Allah, sebagaimana disebutkan dalam surat At Taubah ayat 100 yang maknanya memperoleh jaminan masuk surga.

Ketika kaum Quraisy makin meningkatkan penyiksaan kepada para pemeluk Islam, Rasulullah shalallahu alaihi wassalam memerintahkan para sahabat untuk menyembunyikan keIslaman mereka termasuk segala aktivitas ibadah. Seperti berdakwah, menyebarkan agama Islam dan lain sebagainya.

Madrasah Pertama dalam Islam, Rumah Arqam yang Diberkahi


Kisah Sahabat Mulia Arqam bin Abil Arqam

Kisah ini merupakan keutamaan sendiri bagi sahabat Arqam bin Abil Arqam. Karena Rasulullah shalallahu alaihi wassalam memutuskan memilih tempat tinggalnya sebagai tempat berkumpul beliau dan para sahabat dalam menyebarkan Islam. Hal itu disebabkan karena tempatnya agak terpencil di atas bukit Shafa, sehingga lebih aman dari gangguan kafir Makkah Quraisy.

Saat itu orang orang Quraisy benar-benar tidak mengetahui tempat itu dan tidak akan mengira bahwa rumah Arqam sebagai tempat berkumpulnya Rasulullah dan para sahabat. Jika kaum musyrikin Makkah mengetahuinya maka bisa berbahaya.

Dari sinilah rumah Arqam dijuluki sebagai madrasah pertama bagi kaum muslimin untuk mempelajari ilmu-ilmu Islam dari Rasulullah shalalallahu alaihi wassalam. Mereka yang baru masuk Islam berbondong bondong datang ke sana. Sahabat-sahabat yang datang ke rumah Arqam adalah sahabat yang masih kecil atau yang sudah dewasa.

Seperti budak Bilal bin Rabbah, Ammar beserta keluarganya dan juga sahabat dari kalangan yang terpandang dan terhormat seperti Abu Bakar, Utsman, Ali dan yang lainnya. Mereka semua berkumpul dengan tujuan yang sama, yakni mempelajari dengan dalam apa yang dibawa Rasulullah shalalallahu alaihi wassalam.

Rasulullah mendidik dan membentuk jiwa-jiwa yang tangguh dalam berdakwah dan membela Islam. Terhitung ada 40 sahabat yang aktif hadir di rumah Arqam, dari yang termuda usia 8 tahun hingga yang berusia 50 tahun seperti Ubaidah bin Harits.

Ketika Hamzah bin Abdul Muthalib memeluk Islam, yang disusul oleh Umar bin Khattab, tiga hari kemudian kegiatan ibadah dan pengajaran mulai bisa dilaksanakan di luar rumah Arqam, termasuk halaman masjidil haram. Kaum muslimin lebih berani, karena adanya paman nabi Hamzah dan Umar.

Meskipun demikian rumah Arqam tetap menjadi tempat pertemuan Rasulullah untuk memberikan pengajaran Islam. Subhanaallah, lihatlah betapa berkahnya rumah beliau. Di mana Rasulullah shalallahu alaihi wassalam masih tetap mengunjungi rumahnya meskipun tidak sesering sebelumnya.

Nah, maka akan timbul pertanyaan dalam hati, "mengapa rumah Arqam yang dijadikan sebagai tempat Rasulullah shalallahu alaihi wassalam dalam memulai berdakwah?" Setidaknya ada tiga alasan:

  1. Ketika Arqam masuk Islam tidak ada kaum musyrikin yang tahu.
  2. Arqam berasal dari suku Makhzum yang merupakan musuh keluarga besar Rasulullah shalallahu alaihi wassalam (suku Hasyim) pada masa jahiliyah. Sehingga kaum kafir tidak mencurigainya.
  3. Dan yang ketiga, Arqam masuk Islam dalam usia masih sangat muda, antara16 tahun, sehingga kaum Quraisy tidak curiga jika nabi berkumpul di rumah anak muda.


Oleh karena itu, kita dapat mengetahui bahwa memilih rumah Arqam sebagai Madrasah pertama itu pilihan yang benar dan tepat. Itulah ketajaman firasat nabi Muhammad dalam menentukan serta memutuskan sesuatu.

Perintah Hijrah dari Rasulullah kepada Kaum Muslimin


Kisah Sahabat Mulia Arqam bin Abil Arqam

Pada awal munculnya Islam, kaum muslimin mengalami banyak tekanan dan siksaan dari kaum Quraisy, namun mereka tetap tegar dan teguh memegang agama Islam bahkan menambah keimanan mereka.

Kondisi seperti ini membuat Rasulullah prihatin dengan keadaan mereka, terutama dari kalangan orang lemah yang tidak memiliki perlindungan, seperti Bilal, keluarga Ammar dan lainnya. Maka Rasulullah pun berusaha melakukan upaya perlindungan kepada kaum muslimin yang lemah.

Akhirnya nabi mengijinkan kaum muslimin untuk hijrah ke Habasyah demi melindungi jiwa dan agama mereka yang tertindas di Makkah. Arqam bin Abil Arqam juga ikut serta dalam hijrah ke Habasyah. Tapi setelah kaum muslimin pulang dari Habasyah, kaum musyrikin masih saja menyiksa kaum muslimin di Makkah, maka tiba saatnya Rasulullah shalalallahu alaihi wassalam mengijinkan semuanya hijrah ke Madinah untuk menjaga agama Islam dan bebas berdakwah di sana tanpa tekanan dan siksaan.

Setelah hijrah ke Madinah, Arqam dipersaudarakan dengan Zaid bin Sahl. Beliaupun merasakan ketentraman yang luar biasa di Madinah, karena ibadahnya tidak diganggu dan dihalangi lagi oleh kaum musyrikin Makkah. Kaum Anshar sangat memuliakan saudara-saudara seiman mereka yang datang dari Makkah. Mereka menjadikan kaum Muhajirin seperti saudara kandung mereka sendiri.

Ketaatan Arqam bin Abil Arqam Terhadap Rasulullah


Kisah Sahabat Mulia Arqam bin Abil Arqam

Tidak diragukan lagi, Arqam adalah sahabat yang sangat taat kepada nabi. Mungkin cerita di bawah ini sudah cukup dijadikan bukti atas ketaatan Arqam kepada Nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam:

Pada suatu hari, Arqam menyiapakan perbekalan untuk perjalanan ke Baitul Maqdis. Kemudian dia menemui Rasulullah shalallahu alaihi wassalam untuk berpamitan. Maka Rasulullah bersabda kepadanya, "Apa yang membuatmu hendak melakukan perjalanan ini wahai Abu Abdillah? Apakah suatu keperluan ataukah perniagaan?"

Arqam menjawab, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya ingin shalat di baitul Maqdis."

Rasulullah bersabda, "Shalat di masjidku ini lebih baik daripada seribu shalat di masjid lain kecuali masjidil Haram."

Arqam pun kembali ke rumahnya dengan penuh ketaatan melaksanakan perintah Rasulullah. Arqam pun kembali beribadah seperti biasanya di Madinah. Padahal sebelumnya ia sudah menyiapkan barang-barang atau perbekalan untuk perjalanan. Subhanaallah..

Kisah Arqam bin Abil Arqam dalam Peperangan


Sebagaimana as-Sabiqunal Awwalun lainnya, Arqam bin Abil Arqam selalu bertempur dengan gagah berani, melawan kaum musyrikin yang maju menyerangnya. Setelah terjadi pertempuran dahsyat, maka korban berjatuhan dari kedua belah pihak.
Beliau selalu mengikuti perang bersama Rasulullah dan sahabat lainnya, seperti perang Badar perang Uhud atau perang besar lainnya bersama nabi.

Kisah Wafatnya Sahabat Nabi Arqam bin Abil Arqam


Arqam terus berjihad di jalan Allah baik dengan harta, jiwa dan waktunya hingga ia sakit di zaman khalifah Muawiyah bin Abu Sufyan. Tatkala dia merasa ajalnya telah dekat, dia berwasiat agar Saad bin Abi Waqash yang menyalatinya. Tidak lama berselang, Arqam meninggal. Tapi kebetulan waktu itu Saad bin Abi Waqash sedang tida berada di Madinah.

Ketika itu Marwan bin al Hakam gubernur Madinah ingin menyalatinya, tetapi Ubaidillah bin Arqam menolaknya. Marwan berkata,

"Apakah jenazah sahabat Rasulullah akan ditahan hanya karena seorang yang tidak hadir?" Abdullah bin Arqam menolak siapapun yang menyalatinya sampai Saad bin abi waqash datang.

Arqam bin abil Arqam dimakamkan di Aqiq pada tahun 55 H. Ia meninggal pada usia 80 tahun lebih. Semoga Allah meridhainya dan membalas jasanya terhadap Islam dan umat Islam dengan sebaik baik balasan.

Subhanaallah, Allahuakbar. Itulah kisah Arqam bin Abil Arqam yang mulia, penuh hikmah dan penuh ibrah. Mari ceritakan kisah sahabat yang jarang dikenal ini kepada anak-anak di rumah maupun di sekolah. :)
Perhatian: Jika Akhi/Ukhti ingin menyebarkan artikel abanaonline, kami izinkan (copy-paste). Namun, mohon untuk menyertakan sumber tanpa ada yang dirubah isinya. Kebijakan Iklan: Iklan yang ada di sini sudah diatur oleh pihak Google. Apabila Antum menemukan iklan yang kurang layak, bisa melaporkan ke no WA admin: 085809999008.

2 Komentar Kisah Sahabat Mulia Arqam bin Abil Arqam

Tulis komentar di sini dan centang tombol "Notify me" atau "Ingatkan kami" agar Antum bisa melihat balasannya. Syukran

Back To Top