Belajar Dari Anak Anak Kecil Usia Dini

Bila kita amati, pada dunia anak-anak terdapat sisi kehidupan yang penuh arti dan pesan. Di sana ada sikap bijak yang penuh makna untuk diteladani. Maka dari itu di kesempatan ini, kami akan bercerita tentang salah satu perilaku anak yang sangat mengagumkan dan tidak bisa dijangkau oleh otak manusia hari ini. Bahkan sampai-sampai Sang Guru terharu dan malu terhadap dirinya sendiri yang keimanannya justru tidak bisa seperti muridnya.

Saya Ingin Cepat Meninggal?


Belajar Dari Anak Anak Kecil Usia Dini

Sebelum anak-anak menutup kelasnya, terdengar kabar duka atas meninggalnya salah satu murid Kuttab al-Fatih yang usia masih 5-7 tahun. Maka seketika Sang Guru pun menyampaikan nasihat dan menanamkan karakter Iman pada anak didiknya di kelas, "Nak, apa saja yang ada di dunia ini akan kembali kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Dan sebaik-baik orang yang kembali kepada Allah adalah mereka yang membawa bekal kebaikan paling banyak...bla..bla"

Setelah berbicara panjang lebar tentang iman kepada hari akhir, kemudian Sang Guru memberikan nasehat terakhir untuk meraka, "Nak, seseorang tidak akan bertemu dengan Allah sebelum ia meninggal. Jadi teman kita yang baru meninggal dunia ini sekarang sudah menghadap Allah Subhanahu Wa Ta'ala, Sudah dibawa oleh malaikat Allah yang mulia dan tentunya diberikan nikmat yang lebih mulia daripada di dunia"

Spontan sang guru bertanya, "Siapa yang ingin bertemu dengan Allah lebih cepat??" tiba-tiba mereka semua angkat tangan, "Saayaa Ust, pengin di Surga" salah satu lagi ada yang menyambung, "Iya, ingin sama sahabat nabi, orang shalih di Surga" (kurang lebih seperti itu).

"Masya Allah anak-anak sudah siap meninggal semua. Lalu bagaimana dengan saya?" ujar sang guru dalam hati.

Meminta Tolong Kepada Allah Dulu Baru yang Lainnya..


Belajar Dari Anak Anak Kecil Usia Dini

Kisah berikutnya terjadi di Kuttab al-Fatih Depok, saat jam istirahat setelah kudapan ada 1, 2, atau 3 anak yang terkunci di dalam kelas (jumlahnya ana lupa). Tidak lama kemudian pintu tersebut dibuka oleh pekerja kebersihan Kuttab al-Fatih.  Setelah kejadian itu Sang Guru bertanya pada mereka yang terkurung di dalam kelas, "Nak, apa yang kamu lakukan? kenapa kamu begitu tenang dan tidak dobrak-dobrak?"

"Saat terkurung saya hanya berdoa kepada Allah, meminta tolong kepada Allah dan berdzikir kepada Allah". Jelas salah satu anak. (Syauqi).

Subhanallah saya pun malu terhadap diri saya pribadi. Saat saya mengalami masalah, seringkali mengedepankan pertolongan manusia sebelum berdoa dan meminta tolong kepada Allah. Kenapa saya tidak seperti anak-anak yang masih polos, penuh fitrah? Mereka sudah tahu bagaimana sikap seorang manusia jika dihadapi sebuah masalah yang besar. Yaitu mengedepankan Allah sebelum lainnya. Dalam hati tertanam, "Kita ini punya Allah yang Maha Mampu, masa harus takut dengan situasi seperti ini?!" Subhanaallah..

Sebenarnya masih banyak kisah lain yang menunjukkan gambaran perilaku iman yang hadir secara alami dan spontanitas. Saat Sang Guru terus mengajarkan karakter Iman pada muridnya melalui konsep "Iman sebelum Quran" "Adab sebelum Ilmu" dan "Ilmu sebelum Amal" ternyata apa yang disampaikannya telah menusuk ke dalam hatinya dan menjadikan perilaku si anak di luar dugaan para gurunya.

Baca: Pengertian Iman sebelum Quran dan Adab sebelum Ilmu.

Inilah yang disebut dengan penyejuk pandangan mata, menangis karena terharu. Bukan malah menangis karena sedih melihat perilaku anaknya yang bandel, nakal dan suka membantah orang tua.

Inilah salah satu visi keluarga muslim yaitu harus menumbuhkan anak-anak yang bisa menyejukkan pandangan mata, menjadi pemimpin bagi orang yang bertaqwa dan menghantarkan anaknya ke Surga.

Inilah standar kesuksesan keluarga muslim (Masuk Surga). Bukan sekedar harta yang melimpah. Sebab kalau hanya harta, niscaya Firaun lebih kaya daripada orang-orang sekarang, tapi apakah Firaun bisa disebut sukses?

فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh kesuksesan (kemenangan). (Qs. Al Imran: 185)

Akhir kata dari kami, mari tanamkan terus karakter-karakter Iman pada anak yang sudah banyak dituliskan di ayat-ayat Makkiyah seperti juz 30-23. Karena di sana ada banyak sekali hal yang bisa menumbuhkan karakter iman mereka. Insyaallah jika Antum sudah menerapkan kurikulum Iman sebelum Quran, nanti Antum akan melihat tingkah laku anak yang itu di luar pemikiran Antum sendiri.

Baca juga: cara mendidik anak yang baik dalam Islam.

Belajar Dari Anak Anak Kecil Usia Dini

Didiklah anakmu dengan pendidikan Islam, karena Konsep Islam lebih baik daripada pendidikan sekuler.

Alhamdulillah kurikulum Iman sebelum Quran ini sudah banyak dibahas di situs abanaonline.com atau situs resmi Kuttab Al Fatih seperti parentingnawabiyah.com, kuttabalfatih.com dan situs resmi kuttab lainnya. Baiklah Sekian dari kami, semoga kita (guru atau orang tua) bisa belajar dari anak-anak kecil, karena banyak sekali sikap bijak yang dimiliki anak-anak dan patut kita teladani.
Perhatian: Jika Akhi/Ukhti ingin menyebarkan artikel abanaonline, kami izinkan (copy-paste). Namun, mohon untuk menyertakan sumber tanpa ada yang dirubah isinya. Kebijakan Iklan: Iklan yang ada di sini sudah diatur oleh pihak Google. Apabila Antum menemukan iklan yang kurang layak, bisa melaporkan ke no WA admin: 085766619270.

0 Komentar Belajar Dari Anak Anak Kecil Usia Dini

Posting Komentar

Tulis komentar di sini dan centang tombol "Notify me" atau "Ingatkan kami" agar Antum bisa melihat balasannya. Syukran

Back To Top