8 Adab Menasehati Orang Lain yang Baik Dalam Islam

Adab Menasehati Orang Lain- Ketika ingin menasehati orang lain atau saudara kita. Hendaknya menggunakan adab yang baik sesuai ajaran Islam. Kita tidak boleh semena mena menasehatinya tanpa pandang bulu, tanpa melihat situasi dan kondisi. Karena Rasulullah sendiri telah mengajarkan umatnya untuk tetap memperhatikan etika dalam menasehati.

Ada sebuah ungkapan menarik dari situs rumaysho.com,

"Nasehat adalah cinta. Sebab dasar nasehat ialah menginginkan kebaikan pada orang lain atau dari saudara saudara terdekat kita. Bukan untuk merendahkan atau menyalahkan".

Dari ungkapan tersebut terkandung makna yang sangat dalam. Pertama menggambarkan betapa pentingnya sebuah nasehat untuk saudara kita seiman. Kedua, pentingnya mengetahui bagaimana cara menasehati orang lain agar tidak menyakiti atau merendahkan hati yang dinasehati.

Maka dari itu, mari kita melihat bagaimana adab Rasulullah shalallahu alaihi wassalam dan para sahabatnya dalam memberi nasihat. Sampai sampai bisa membuka banyak pintu hidayah bagi banyak orang.

Adab Menasehati Orang Lain yang Baik Dalam Islam


Adab Menasehati Orang Lain yang Baik Dalam Islam

Seperti yang abanaonline.com tulis di atas. Memperhatikan adab-adab memberi nasehat sangatlah penting. Sebab akan menentukan diterima atau ditolaknya sebuah nasehat. Berikut adab adab atau cara menasehati orang lain yang baik dalam Islam.

1. Niat Ikhlas Karena Allah


Dalam memberi nasehat hendaknya seorang muslim berniat ikhlas hanya karena Allah. Janganlah kalian menasehati orang lain, teman maupun saudara dengan niat agar dilihat (riya'), ingin didengar (sum'ah) oleh orang sekitar serta bermaksud untuk melukai hati orang tersebut atau mencelanya agar mendapatkan popularitas dari orang sekitar.

Tapi niatkan agar lepas dari tanggung jawab kelak saat ditanyai di akhirat dengan sebab saudara kita bersalah namun kita tidak menasehatinya.

2. Menggunakan Tutur Kata Yang Bagus


Apabila seseorang menasehati orang lain atau siapapun sebaiknya tidak dengan amarah, karena nasehat yang disertai dengan rasa marah, suara yang keras dan tinggi hanya akan membuat seseorang yang dinasehati semakin melonjak atau ikut marah juga. Maka Allah berfirman dalam surat An Nahl,

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

"Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik." (An Nahl: 125)

Ayat tersebut menjelaskan pada kita bahwasanya adab menasehati orang lain harus dengan tutur kata yang lemah lembut, mudah dicerna, kata kata yang baik, tidak njlimet dan penuh amarah. Sehingga dengan begitu, nasehat yang anda berikan akan mengena dan membekas pada orang yang kita nasehati. Serta tidak menimbulkan rasa marah pada diri seseorang yang kita nasehati.

3. Tidak Menasehati Depan Umum dan Mempermalukannya


Jika melihat orang lain melakukan kesalahan yang mengharuskan untuk dinasehati, sebaiknya tidak menasehatinya di depan khalayak umum. Inilah musibah yang sering terjadi pada banyak orang. Di mana mereka memberi nasihat pada orang lain di depan umum dengan nada keras dan kasar. Cara semacam ini bukan malah merubah keadaan tapi justru memperkeruh keadaan.

Maka Nabi hingga para ulama menyarankan agar menasehatinya secara diam diam (privasi). Al Hafizh Ibnu Rajab berkata:

"Apabila para salaf ingin memberikan nasehat pada seseorang, mereka menasehatinya secara rahasia. Barangsiapa yang menasehati saudaranya cukup berduaan saja maka itulah nasehat. Dan barangsiapa yang menasehatinya di depan orang banyak maka sebenarnya dia mempermalukannya." (Jami Al Ulum wa Al Hikam, halaman 77 dikutip dari muslimah.or.id)

Sehingga apabila anda mendapati ada seseorang yang bersalah, cukup panggil orang yang bersalah tersebut dan bicara berdua saja kemudian nasehati ia dengan lembut dan penuh kebaikan. Tidak menampakkan muka tidak suka dan sebagainya.

Mengapa harus privasi? Sebab nasehat anda akan jauh lebih membekas pada dirinya serta memperbagus citra dan harga dirinya. Namun sebaliknya, bila anda menasehatinya di depan umum hanya akan merusak citra, harga dirinya dan menimbulkan kebencian dalam diri orang tersebut dengan anda.

4. Berilmu Sebelum Beramal


Judul tersebut merupakan sebuah gambaran bahwa seorang muslim yang baik adalah yang mempunyai ilmu cukup memadai sebelum mengamalkan. Salah satunya dalam hal menasehati. Hendaknya sebelum menasehati orang lain, kita harus menggali ilmu atau materi yang akan dinasehatkannya dan mengecek kembali kebenaran sesuatu yang akan dibicarakan padanya.

Hal itu bertujuan agar anda mampu memberikan nasehat yang baik, sesuai dengan ilmu dalam Al Quran dan hadits serta mampu mengingkari yang mungkar atau memerintahkan yang ma'ruf (baik) berdasarkan ilmu yang jelas. Dengan begitu, nasehat anda akan lebih mudah diterima dan bisa memotivasi orang tersebut.

5. Mencari Waktu Yang Tepat


Tatkala anda melihat orang lain melakukan kesalahan, jangan terburu buru untuk menasehatinya. Biarkanlah sejenak terlebih dahulu, lalu katakan padanya bahwa lain waktu ingin berbicara dengannya. Carilah waktu yang tepat, sesuai dengan kondisi dan situasi orang yang akan dinasehati. Hindari menasehati orang lain ketika dia sedang sibuk dengan pekerjaannya, sedang berkumpul dengan teman, sanak saudara, sedang marah, sedang capek dan sebagainya.

Bila ia sudah terlihat tidak sibuk, santai dan perasaannya sedang mood, maka itulah kesempatan anda untuk menemuinya dan menasehatinya secara baik.

6. Menasehati dengan Lembut dan Tidak Kasar


Cara menasehati orang lain yang baik menurut Islam berikutnya adalah dengan ucapan lembut. Bersikap lemah lembut tidak kasar dalam menyampaikan nasehat dapat membuka pintu hidayah bagi orang lain. Sebagian nabi yang selalu menasehati dengan kelembutan dan banyak membuka pintu hidayah.
Beliau shallallaahualaihi wasallam bersabda,

إِنَّ الرِّفْقَ لاَ يَكُونُ فِى شَىْءٍ إِلاَّ زَانَهُ وَلاَ يُنْزَعُ مِنْ شَىْءٍ إِلاَّ شَانَهُ

Artinya, "Setiap kelembutan yang ada pada sesuatu, pasti akan menghiasinya. Dan tidaklah ia dicabut dari sesuatu, kecuali akan memperburuknya." (HR. Muslim)

Selain itu, sebaiknya kita harus bisa memahami hati, perasaan, kedudukan, ilmu dan masalah yang ia miliki. Tujuannya untuk menyesuaikan nasehat yang akan kita sampaikan padanya.

7. Mengatakan dan Menjalankan


Dosa besar bagi seorang Muslim yang mengatakan suatu kebaikan pada orang lain namun ia sendiri tidak menjalankannya. Allah telah berfirman melalui lisan Nabi Syuaib,

"Dan aku tidak berkehendak menyelisihi kalian (dengan mengerjakan) apa yang aku larang kalian darinya." (QS. Hud: 88)

Dari firman Allah tersebut, kita dituntut agar menjalankan apa apa yang kita nasehatkan pada orang lain. Bahkan jauh sebelum kita nasehatkan, kita sudah menjalankannya terlebih dahulu. Sehingga kita tidak termasuk orang yang menyuruh kebaikan atau berbuat baik, sementara kita lupa atau tidak melaksanakannya sendiri.

8. Bersabar Ketika Memberi Nasehat


Seorang pemberi nasehat hendaklah bersabar. Sebab, banyak pemberi nasehat bukannya mendapatkan penghormatan dari orang yang diberi nasehat tapi malah mendapatkan gangguan seperti dicela, dicaci, dihina, dan sebagainya. Sebab tidak semua orang yang diberi nasehat langsung bisa menerima dan hatinya terbuka untuk kembali ke jalan Allah.

Adakalanya mereka membutuhkan waktu yang panjang sambil mencela orang yang memberi nasehat, ada juga yang terlihat menerima namun tidak menjalankannya. Ada juga yang tidak menerima namun sama sekali tidak mengganggu pemberi nasehat. Sehingga anda harus bersabar, mintalah pertolongan pada Allah. Karena sesungguhnya hidayah itu hanya milikNya.

Sebagaimana firman Allah melalui lisan Luqman yang berkata pada anaknya saat menasehatinya, "Hai anakku, dirikanlah sholat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar, dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu." (QS. Luqman: 17)

Luqman memerintahkan kepada anaknya agar bersabar terhadap segala sesuatu yang bisa jadi akan menimpanya disebabkan amar ma'ruf dan nahi mungkar yang ia lakukan.

Alhamdulillah selesai sudah pembahasan mengenai adab menasehati orang lain yang baik dalam Islam. Insyaallah sekecil apapun kebaikan yang kita lakukan akan berbuah pahala. Sehingga jangan pernah takut, selama diberi kemampuan untuk menasehati orang lain, dan ber amar ma'ruf nahi mungkar. Wassalamualaikum wa rahmatullahi wa barakaatuh.

[Abu Zaid, referensi utama: Muntaqa al Adab asy Syar'iyyah (Adab dan Akhlak Islami), cetakan 1 Robi'ul tsani 1435 H. Penyusun : Majid Sa'ud Al Ausyan.]
Perhatian: Jika Akhi/Ukhti ingin menyebarkan artikel abanaonline, kami izinkan (copy-paste). Namun, mohon untuk menyertakan sumber tanpa ada yang dirubah isinya. Kebijakan Iklan: Iklan yang ada di sini sudah diatur oleh pihak Google. Apabila Antum menemukan iklan yang kurang layak, bisa melaporkan ke no WA admin: 085809999008.

0 Komentar 8 Adab Menasehati Orang Lain yang Baik Dalam Islam

Posting Komentar

Tulis komentar di sini dan centang tombol "Notify me" atau "Ingatkan kami" agar Antum bisa melihat balasannya. Syukran

Back To Top