Jadikan Iman Fondasi Utama bagi Pendidikan, DR. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al Abbad

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, di saat urutan pendidikan mulai dilupakan. Maka perlu ada pengingat tentang tahapan pendidikan. Oleh sebab itu di sini abanaonline.com akan memaparkan bagaimana urutan ilmu yang wajib dipelajari terlebih dahulu. Khususnya untuk anak anak usia dini.

Artikel ini kami tulis berdasarkan referensi yang kami baca di halaman awal dari kitab "Fiqih Asmaul Husna", Prof. DR. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-Abbad (Semoga Allah merahmatinya dan kedua orang tuanya). Darus Sunnah, Cet-15, Februari 2016.

Kedudukan Kurikulum Iman dalam Pendidikan Islam


Kedudukan Kurikulum Iman dalam Pendidikan Islam

Mempelajari nama-nama Allah mengimani sifat-sifat Allah dan mengimani apa saja dari rukun iman merupakan usaha termulia bagi setiap jiwa yang memiliki kecerdasan akal dan petunjuk. Ilmu iman adalah pintu ilmu yang mulia.

Baca juga: Mendidik Anak Usia Dini Jangan Sampai Gagal Pada Tahap Ini

Syekh Abdurrazzaq bin Muhsin Al Abbad mengatakan dalam bukunya, "Bangunan memiliki pondasi, dan fondasi agama ini adalah iman kepada Allah dan kepada nama-nama serta sifat-sifatNya. Jika pondasi kuat dia akan dapat menopang bangunan kokoh selamat dari guncangan dan kerobohan."

Iman kepada Allah dan kepada nama dan sifatNya merupakan salah satu kurikulum iman. Artinya, untuk membangun gedung pencakar langit perlu fondasi yang kuat. Sedangkan fondasi sendiri merupakan tahap awal dari pembangunan.

Sehingga apabila pondasi tersebut diibaratkan sebagai 'iman', maka iman harus menjadi kurikulum pertama yang diajarkan kepada anak anak usia dini. Itulah urutan pembelajaran.

Lalu di dalam kitabnya, Syaikh Abdurrazzaq mengutip perkataan Ibnu Al-Qayyim -rahimahullah-, "Barangsiapa yang menghendaki bangunan yang tinggi. Maka diharuskan baginya agar menguatkan pondasi. Dan harus benar-benar memperhatikannya. Sebab ketinggian bangunan tergantung pada kokoh dan kuat nya suatu pondasi."

Soal ini Ibnul Qayyim mengumpamakan amal sebagai bangunan dan iman sebagai fondasinya, "Amal dan derajat adalah bangunan sedangkan pondasinya adalah Iman. Apabila pondasinya kuat dia dapat memikul bangunan dan meninggikannya. Meskipun bangunan itu roboh maka bisa dengan mudah memperbaikinya.

Sebaliknya jika pondasi tidak kuat maka tidak akan tinggi bangunannya dan tidak akan kokoh.

أَفَمَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَىٰ تَقْوَىٰ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٍ خَيْرٌ أَمْ مَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَىٰ شَفَا جُرُفٍ هَارٍ فَانْهَارَ بِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

"Maka apakah orang-orang yang mendirikan bangunan (masjid) atas dasar takwa kepada Allah dan keridhaan(-Nya) itu lebih baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu (bangunan) itu roboh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka Jahanam? Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim." (Surat At-Taubah, Ayat 109)

MasyaAllah, jelas sudah. Itulah hakekat dari fondasi dan urutan pembelajaran. Menarik lagi, Ibnul Qayyim menyampaikan di kitabnya (Al Fawaid) bahwa orang yang bijak itu memiliki target membenarkan fondasi dan menguatkannya,

"Orang bijak memiliki target yaitu membenarkan fondasi dan menguatkannya. Sedangkan orang jahil adalah orang yang meninggikan bangunan tanpa mempedulikan pondasi. Sehingga tidak berselang lama bangunan itu akan roboh" [Al Fawaid hal 175, dikutip dari kitab, Fikih Asmaul Husna. DR. Abdurrazzaq bin Muhsin Al Abbad].

Dari perkataan Ibnul qoyyim di atas sudah jelas bahwasanya ada urutan dalam pendidikan. Dan urutan tersebut pernah diterapkan lembaga Kuttab pada masa dahulu. Di mana benar-benar menerapkan Iman sebelum Quran dan adab sebelum ilmu.

Hadits Jundub bin Abdillah radiyallahuanhu:

عن جُنْدُبِ بن عبد الله قال: كنا مع النبي صلى الله عليه وسلم ونحن فِتْيَانٌ حَزَاوِرَةٌ فتعلمنا الإيمان قبل أن نتعلم القرآن ثم تعلمنا القرآن فازددنا به إيماناً ) رواه ابن ماجة (61) والطبراني في المعجم الكبير (1678) والبيهقي في سننه الكبرى (5075) وهو حديث صحيح

Dari Jundub bin Abdillah beliau berkata:"Dahulu kami ketika remaja bersama Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam, kami belajar iman sebelum Al Qur'an kemudian setelah kami belajar Al Qur'an bertambahlah keimanan kami. Sedangkan kalian sungguh pada hari ini justru belajar Al Qur'an dulu sebelum belajar iman" (Riwayat At Thabrani, Al Baihaqi, Ibn Majah, dishahihkan Al Albani)

Baca juga: Maksud Kurikulum Iman sebelum Quran

Kebenaran 2 kurikulum mulia ini dibuktikan di banyak ayat dalam Al Quran. Yang mana hampir semua ayat Makkiyah (Wahyu penguatan fondasi para sahabat) menjelaskan kurikulum iman. Kebanyakan bercerita tentang kisah, iman kepada Allah, Malaikat, Nabi, kitab, hari akhir dan Qodha serta Qadar.

Selain itu DR. Abdurrazzaq bin Muhsin Al Abbad mengatakan, "Hampir semua ayat tidak lepas dari penyebutan nama Allah sifat-sifat kekuasaan Allah". [Fiqih Asmaul Husna, DR. Abdurrazzaq bin Muhsin, terjemahan Darus Sunnah, cet-15, februari 2016]

Simak juga artikel sebelumnya, Kurikulum Kuttab Al Fatih Pembangkit Peradaban Islam

Ini menunjukkan dengan jelas tentang pentingnya ilmu yang berkaitan dengan iman. Mengajarkan urutan ilmu. Silahkan baca juga konsep konsep pendidikan Islam yang sudah kami kumpulkan di label "Diskusi Pendidikan Islam". Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Perhatian: Jika Akhi/Ukhti ingin menyebarkan artikel abanaonline, kami izinkan (copy-paste). Namun, mohon untuk menyertakan sumber tanpa ada yang dirubah isinya. Kebijakan Iklan: Iklan yang ada di sini sudah diatur oleh pihak Google. Apabila Antum menemukan iklan yang kurang layak, bisa melaporkan ke no WA admin: 085809999008.
Buka KomentarTunggu...
Back To Top