18 Adab Puasa dari Sahur hingga Berbuka Lengkap Disertai Dalilnya

Adab adab puasa- Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Kurang dua pekan lagi kaum muslimin akan kehadiran tamu yang sangat mulia yaitu bulan suci Ramadhan. Bulan tersebut merupakan bulan yang penuh berkah, di dalamnya terdapat amalan amalan khusus yang memiliki ganjaran besar di sisi Allah ta'ala. Sehingga tidaklah heran apabila bulan Ramadhan disebut juga dengan bulan penuh berkah, rahmat dan ampunan.

Salah satu amalan agung yang terdapat di bulan suci Ramadhan adalah puasa. Puasa Ramadhan itu wajib bagi kaum muslimin yang  dewasa, berakal, sehat dan dalam keadaan muqim atau bukan musafir. Artinya selama sebulan penuh kita harus menahan diri dari apa-apa yang bisa membatalkan puasa.

Allah ta'ala berfirman: "Wahai orang orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS. Al Baqarah: 183)

Apabila puasa Ramadhan dikerjakan dengan iman dan ikhlas maka Allah berikan banyak pahala di antaranya akan dihapuskan dosa-dosanya yang telah lalu. Dari Abu Hurairah radiyallahuanhu, Rasulullah-shalallahu alaihi wassalam- bersabda,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

"Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena keimanan dan hanya mengharapkan pahala dari Allah Taala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." [HR. Bukhari (II/228)]

Berhubung puasa merupakan ibadah yang agung dan bisa mendekatkan diri kepada Allah. Maka tidak selayaknya kaum muslimin melewati begitu saja tanpa memperhatikan adab-adab berpuasa.

Insyaallah di sini abanaonline.com sudah menulis lengkap terkait adab adab puasa yang sesuai sunnah disertai dalil-dalilnya. Bukan cuman puasa Ramadhan, tapi juga membahas puasa puasa lainnya dari sahur hingga berbuka.

Adab Puasa dalam Islam Beserta Dalilnya


Adab Puasa dalam Islam Beserta Dalilnya

Adab puasa di bawah ini sudah diurutkan secara rapih. Di poin poin pertama membahas puasa secara umum. Kemudian di poin selanjutnya tentang adab berbuka puasa dan adab adab sahur.

1. Niat Puasa yang Baik dan Ikhlas


Hendaklah orang yang berpuasa berniat untuk mencari ridho Allah semata. Untuk mencari pahala dan balasan yang dijanjikan atas orang yang berpuasa. Sebagaimana yang tertera dalam hadits Bukhari di atas.

Tidaklah sah apabila seseorang meniatkan puasanya sekadar untuk melatih diri dari lapar, menguatkan keinginan, menurunkan berat badan, atau tujuan tujuan lainnya yang lebih parah seperti ingin dilihat manusia (riya).

Soal niat tidak musti diucapkan. Sebab niat letaknya ada di dalam hati. Bahkan kita makan sahur pun sudah terhitung niat. Tapi pada umumnya niat dilakukan di malam hari sebelum berpuasa.

2. Menjaga Anggota Tubuh Ketika Berpuasa Wajib maupun Sunnah


Adab puasa yang kedua adalah menahan diri dari yang mencederai ibadah puasa. Sejatinya puasa bukan hanya menahan makan dan minum, tetapi juga menahan nafsu, syahwat dan menjaga seluruh anggota tubuh dari kemaksiatan.

Ketika berpuasa hendaknya seseorang menjaga anggota tubuhnya terutama mata. Karena di zaman ini sudah banyak tersebar para wanita yang memamerkan aurat meskipun berada di negeri negeri Islam. Seolah olah api fitnah sudah tidak terbendung lagi.

Untuk itu bagi yang sedang berpuasa wajib menundukan pandangan dari apa apa yang diharamkan oleh Allah. Jika tidak bisa menjaga maka akan merusak ibadah puasa anda dan akan merusak tujuan atau hikmah disyariatkannya puasa (ketaqwaan). Orang orang seperti ini yang dimaksud dalam sabda Nabi -shalallahu alaihi wassalam-,

رُبَّ صَاىِٔمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوْعُ وَالْعَطَشُ

"Berapa banyak orang yang berpuasa namun tidak mendapatkan bagian apapun dari puasanya kecuali rasa lapar?" [HR. Ibnu Majah no. 1690 dari Abu Hurairah, Syaikh Albani: Hadits Hasan Shahih]

Bukan hanya mata saja, tapi seluruh anggota tubuh kita harus dijaga. Menjaga mata, tangan, lisan, telinga, kemaluan, dan kaki dari apa apa yang diharamkan Allah selama berpuasa. Misalnya menjaga lisan dari ghibah (menggunjing), namimah (mengadu domba) dan perkataan dusta (bohong).

Sebagaimana seseorang juga harus menjaga telinganya dari apa apa yang diharamkan Allah, menjaga hidungnya dari mencium apa apa yang diharamkan Allah, menjaga tangannya dari menggapai sesuatu yang buruk dan menjaga kakinya dari melangkah ke tempat tempat yang tidak baik.

Di samping itu hendaknya seseorang menjaga kemaluannya, menyibukkan pikirannya dengan tadabbur, meneliti, dan selalu menghadirkan rasa dekat kepada Allah setiap saat. Jika ia melakukan hal tersebut, maka tidak diragukan lagi ia akan meraih derajat takwa. Sebagaimana juga puasanya akan mendatangkan keridhoan Allah.

3. Sabar dan Tidak Berbuat Jahat


Ketahuilah bahwa puasa itu untuk melatih diri seseorang dalam mengendalikan hawa nafsunya. Dengan demikian puasa juga melatih diri seseorang untuk sabar dan tabah, serta merasakan rasa lapar yang dirasakan oleh orang fakir.

Janganlah seseorang membalas perbuatan jahat dengan yang semisalnya. Jangan pula membalas orang yang mencacinya, tetapi hendaklah ia tabah dan sabar serta menahan diri ketika marah. Rasulullah bersabda,

"Jika salah seorang di antara kalian sedang berpuasa, janganlah ia berbuat keji dan jahat. Namun jika ada yang mencaci atau mengganggunya, hendaklah ia berkata, 'Aku sedang berpuasa, aku sedang berpuasa." (HR. Bukhari no. 1904 dan Muslim no. 1151 dari Abu Hurairah)

Sementara kita melihat di zaman sekarang orang yang mencaci, memaki, marah, dan emosi pada siang hari di bulan Ramadhan. Lebih parah lagi dia menganggap bahwa penyebab marahnya adalah karena sedang puasa. Seolah olah puasa itu melegalkannya untuk marah marah, mencaci maki dan mencerca.

Padahal harusnya puasa dapat melembutkan hati dan membersihkan jiwa serta menghapuskan dosa dosa. Hal itu dapat diraih jika seorang Muslim menjalankannya sesuai dengan cara yang disyariatkan dan memperhatikan adab adabnya.

4. Menjaga Lisan dari Perbuatan Sia Sia


Adab puasa keempat ini sebenarnya masih ada kaitannya dengan poin kedua. Hanya saja di sini lebih ditekankan agar menjaga lisannya dari ucapan keji dan sia sia. Karena lisan itu sangat berbahaya. Di antara dalil wajibnya menjaga lisan adalah yang telah disebutkan dalam sabda Nabi,

لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الأَكْلِ وَالشَّرَبِ ، إِنَّمَا الصِّيَامُ عن اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ ، فَإِنْ سَابَّكَ أَحَدٌ أَوْ جَهُلَ عَلَيْكَ فَلْتَقُلْ : إِنِّي صَائِمٌ ، إِنِّي صَائِمٌ

"Puasa itu bukan hanya menahan diri dari rasa lapar dan dahaga, tetapi juga menahan diri dari perbuatan sia sia dan perkataan keji. Jika ada yang memakimu atau berbuat jahat kepadamu maka katakanlah, "Aku sedang berpuasa, aku sedang berpuasa." (HR. Al Hakim no. 430-431)

5. Memperbanyak Amal Kebaikan saat Berpuasa


Ketika seseorang sedang berpuasa, dianjurkan untuk mengisi waktunya dengan berdzikir dan berdoa, memohon ampun, membaca Al Quran, memperbanyak sedekah, menyediakan makanan berbuka semata mata untuk mencari balasan pahala, menyambung tali silaturahmi, melakukan kebaikan serta amalan shalih lainnya.

6. Menjauhkan Diri dari Hal Hal yang Dapat Merusak Puasa


Di samping diperintahkan mengerjakan amal solih, orang yang berpuasa juga diperintahkan menjaga diri dari apa saja yang bisa merusak puasa. Misalnya seseorang yang berlebihan memasukkan air ke dalam mulut/berkumur kumur saat berwudhu. Sebaiknya hal itu dihindari sebab khawatir air akan masuk ke dalam rongga tenggorokan sehingga dapat membatalkan puasanya. Nabi shalallahu alaihi wassalam bersabda,

وَبَالِغْ فِى الاِسْتِنْشَاقِ إِلاَّ أَنْ تَكُونَ صَائِمً

"Bersungguh sungguhlah memasukkan air ke dalam hidung kecuali jika engkau sedang berpuasa." [HR. Ahmad no. 33, Abu Dawud no. 142, an Nasa'i no. 66]

Selain kumur-kumur sebaiknya berhati hati juga saat memakai sikat gigi, infus dan lain sebagainya.

7. Bertakwa Kepada Allah


Bertakwa kepada Allah adalah inti dari adab adab puasa. Karena takwa merupakan perkara yang sangat agung bagi seorang hamba dalam mendekatkan diri kepada Allah. Siapa yang mampu mewujudkan takwa dan pendekatan diri kepada Allah dalam setiap keadaan, maka sesungguhnya ia telah mendapatkan faedah dari puasanya. Sebagaimana firman Allah yang sangat familiar di telinga kita,

Artinya, "Hai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa" [Qs. Al-Baqarah, 183]

8. Memperbanyak Puasa di Setiap Tahunnya


Selain puasa Ramadhan masih ada puasa-puasa lainnya yang pernah dilakukan Nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam. Sehingga seseorang diperbolehkan memperbanyak puasa jika dia memang mampu untuk mengerjakannya.

Namun harus dipastikan kalau puasa tersebut tidak membahayakan badannya, tidak membawa madharat dan tidak merugikan hak keluarganya. Dalam hal itu terdapat pahala yang sangat besar. Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda,

إِنَّ فِى الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّاىِٔمُوْنَ يَوْمَ القِيَامَةِلاَ يَدْخُلُ مَعَهُمْ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ يُقَالُ أَيْنَ الصَّاىِٔمُوْنَ فَيَدْ خُلُوْنَ مِنْهُ فَإِذَا دَخَلَ آخِرُهُمْ أُغْلِقَ فَلَمْ يَدْخُلْ مِنهُ أَحَد

Artinya, "Sesungguhnya di dalam surga terdapat sebuah pintu yang bernama ar Rayyan. Yang masuk dari pintu itu pada hari kiamat hanyalah orang orang yang rajin puasa. Tidak akan masuk bersama mereka melainkan orang orang yang berpuasa.

Ada suara yang mengatakan, 'Di manakah orang orang yang berpuasa?' Maka mereka pun masuk dari pintu itu. Jika yang terakhir dari mereka sudah masuk, maka pintu tersebut akan ditutup, tidak ada seorangpun yang masuk lagi dari pintu itu selama lamanya." [HR. Bukhari no. 1896 dan Muslim no. 1152 dari Sahal]

Oleh sebab itu dibolehkan memperbanyak puasa di setiap tahunnya. Seperti mengerjakan puasa Daud, puasa senin kamis dan lain sebagainya.

Baca: 8 Puasa Sunnah dalam Islam Lengkap dengan Keistimewaannya

9. Seorang Wanita Dilarang Berpuasa Sunnah Tanpa Izin Suaminya


Istri tidak diperkenankan berpuasa tanpa seizin suaminya. Poin ini harus ditaati apabila suaminya ada di sisinya atau saat suaminya tidak sedang safar. Sebab kalau istri puasa ada kemungkinan suaminya akan mengajaknya berhubungan intim, sementara ia tidak boleh menahan diri dengan menolaknya.

Rasulullah bersabda, "Tidak halal bagi seorang wanita berpuasa sementara suaminya berada di rumah kecuali dengan seizinnya." [HR. Bukhari no. 5195 dari Abu Hurairah]

Adab ini berlaku untuk puasa puasa sunnah, sedangkan puasa wajib tidak perlu meminta izin dalam hal ini.

11. Bersahur Walau Hanya dengan Seteguk Air


Adab Puasa dari Sahur hingga Berbuka Lengkap Disertai Dalilnya

Sekarang memasuki adab adab sahur. Nabi shalallahu alaihi wassalam menganjurkan bersahur. Dari Anas bin Malik beliau shalallahu alaihi wassalam bersabda,

تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِى السَّحُورِ بَرَكَةً

"Bersahurlah karena pada makan sahur terdapat berkah." [HR. Bukhari no. 1923 dan Muslim no. 1095]

Nabi juga pernah bersabda,

فَصْلُ مَا بَيْنَ صِيَامِنَا وَصِيَامِ أَهْلِ الْكِتَابِ أَكْلَةُ السَّحَرِ

"Perbedaan antara puasa kami dengan puasa Ahlul Kitab adalah makan sahur." (HR. Muslim no. 1097 dari Amr bin Ash)

Apabila tidak ada yang dimakan saat sahur, hendaklah ia bersahur walaupun hanya sekadar memakan beberapa butir kurma atau hanya meminum seteguk air. Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda,

"Makan sahur itu adalah suatu berkah, maka janganlah kalian meninggalkannya, sekalipun salah seorang dari kalian meneguk seteguk air, karena sesungguhnya Allah dan para malaikatNya bershalawat atas orang orang yang makan sahur." [HR. Ahmad, dishahihkan al Bani]

12. Adab Puasa Mengakhirkan Sahur


Di Indonesia biasanya lebih banyak yang sahur pada awal waktu dibandingkan akhir waktu. Padahal mengakhirkan sahur termasuk sunnah Rasulullah shalallahu alaihi wassalam. Dari Anas bin Malik, beliau bersabda,

"Bersegeralah berbuka dan berakhirkanlah makan sahur." [HR. Ibnu Adiy]

13. Tidak Berlebihan dalam Makan Sahur


Makan sahur berlebihan dapat memudhoratkan diri sendiri. Dapat menyebabkan sakit perut, terasa berat mengerjakan ibadah dan mungkin membuatnya tidur hingga waktu dhuhur. Sehingga jelas hal itu bertentangan dengan hikmah puasa. Sebab tujuan orang yang puasa adalah membiasakan diri untuk lapar dan tabah. Namun mengapa ia justru memenuhkan perutnya ketika makan sahur.

Sebagian orang melakukan hal itu supaya tidak merasakan lapar di siang hari. Inilah persangkaan mereka yang keliru. Alasan tersebut adalah sebuah kejahilan mereka karena perbuatan tersebut jelas sangat bertentangan dengan hikmah berpuasa.

14. Sahur dengan Kurma


Adab puasa berikutnya adalah dianjurkan sahur dengan memakan kurma. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi shalallahu alaihi wassalam, "Sebaik baik makan sahur seorang mukmin adalah kurma." [HR. Abu Dawud, dishahihkan al Bani]

Adab Berbuka Puasa


Adab Berbuka Puasa

Berbuka puasa juga terdapat adab adabnya. Supaya hikmah dari puasa tidak hilang sebaiknya kita semua memperhatikan adab adab berbuka sesuai sunnah nabi shalallahu alaihi wassalam. Inilah beberapa point adab berbuka puasa:

15. Menyegerakan Berbuka Puasa


Menyegerakan berbuka termasuk sunnah nabi shalallahu alaihi wassalam, sebagaimana sabda Rasulullah dari sahabat Sahal bin Saad,

"Segerakanlah berbuka....." Sabda beliau juga, "Manusia tetap berada di dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka." (HR. Bukhari: 1957 dan Muslim: 1098)

Hal itu akan mendatangkan kebahagiaan bagi orang yang berpuasa, akan meringankannya dan meringankan badannya setelah ia letih dan menahan dari apa apa yang ia kehendaki karna Allah semata. Nabi menyegerakan berbuka sebelum sholat maghrib dan nabi tidak mengerjakan sholat Maghrib hingga beliau berbuka walaupun hanya dengan meminum seteguk air. (HR. Al Hakim no. 432)

16. Berdoa Ketika Berbuka


Hendaklah orang orang yang berpuasa berdoa sebagaimana yang dilakukan nabi saat berbuka di sore hari. Adapun doa berbuka puasa yang sahih adalah apa yang pernah nabi katakan saat berbuka. Yaitu,

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوْقُ وَثَبَتَ اْلأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللهُ

"Telah hilang rasa haus, telah basah urat urat dan telah tetap pahala insyaAllah." (HR. Abu Dawud no. 2357 dan Al Hakim no. 422)

Doa tersebut mengandung pengakuan terhadap karunia Allah yang telah menghilangkan rasa lapar dan dahaga serta memberikan kenikmatan berupa makanan dan minuman. Segala puji hanya bagi Allah, Rabb langit dan bumi serta sekalian alam.

17. Berbuka dengan Ruthab (Kurma Basah) atau Tamr (Kurma Kering)


Adab berbuka puasa berikutnya adalah berbuka dengan buah kurma. Karena bisa merupakan sunnah Rasulullah dan disamping itu bisa lebih meringankan pencernaan dan memberikan lebih banyak manfaat. Rasulullah apabila beliau memiliki ruthab (kurma basah), maka beliau tidak akan berbuka kecuali dengannya. Jika tidak ada ruthab, maka beliau tidak akan berbuka kecuali dengan tamr (kurma kering).

Rasulullah bersabda,

"Jika salah seorang di antara kalian berpuasa, maka berbukalah dengan kurma dan jika tidak ada kurma maka minumlah air, karena air itu membersihkan." (HR. Ahmad no. 25, Abu Dawud no. 2355, at Tirmidzi no. 695)

Hendaklah seseorang ketika sedang berbuka puasa mencukupkan diri dengan beberapa butir ruthab atau kurma, susu atau air. Kemudian setelah sholat ia makan malam jika mau. Adapun kebanyakan orang saat ini menghidangkan berbagai jenis makanan dan minuman lalu langsung menyantapnya begitu mendengar seruan adzan. Ini sangat memudhorotkan badan sebagaimana yang disebutkan oleh ahli kesehatan. Perbuatan tersebut juga akan membuatnya berat mengerjakan sholat, bahkan hal itu bertentangan dengan sunnah.

18. Tidak Makan Berlebihan Ketika Berbuka


Puasa akan mempersempit saluran pencernaan dan membiasakan diri seseorang untuk menahan lapar. Jika seseorang mengejutkan lambung dan penceranaannya dengan aneka makanan setalah berpuasa, maka hal itu sangat memudharatkan kesehatannya. Selain itu ia juga akan kehilangan hikmah puasa.

Misalnya ia akan merasa berat untuk beribadah dan kemungkinan besar ia tidak dapat memanfaatkan waktunya pada malam hari untuk beribadah.

19. Menyediakan Makanan Bagi Orang yang Berbuka


Siapa saja yang memberikan makanan berbuka puasa bagi orang yang berpuasa, maka ia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang melakukannya tanpa mengurangi sedikitpun pahala orang yang berpuasa tersebut.

Rasulullah telah bersabda,

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا

"Barangsiapa yang memberikan (makanan) buka puasa kepada seorang yang berpuasa maka dia mendapatkan pahala seperti pahala orang berpuasa (tersebut) bahkan dia tidak mengurangi pahala orang berpuasa sedikitpun." (HR. Ahmad, Syaikh Albani menshahihkan hadits ini)

Untuk itu seorang muslim antusias memberikan makanan buka puasa bagi orang lain.

20. Boleh Berbuka/Membatalkan di Tengah Hari untuk Puasa Sunnah


Rasulullah bersabda, "Orang yang sedang berpuasa sunnah adalah pemimpin bagi dirinya. Apabila ia ingin meneruskan puasanya, maka dipersilakan dan jika mau berbuka, maka dipersilakan ia berbuka." (HR. Ahmad no. 424, Abu Dawud no. 2456, at Tirmidzi no. 732, al Hakim no. 439)

Kalau ada yang mengundangnya makan sedangkan anda dalam keadaan puasa sunnah, maka dibolehkan meneruskan puasa sunnah dan boleh berbuka dan tidak mendapat dosa. Bahkan seseorang boleh meniatkan puasa sunnah setelah waktu fajar dan tidak harus berniat pada malam hari. Sebab jikalau nabi memasuki rumah untuk menemui keluarganya, beliau bertanya, "Adakah kalian memiliki makanan?" Jika dijawab tidak, maka beliau berkata, "Hari ini aku puasa." (HR. Muslim: 1154 dari Aisyah radiyallahuanha)

18. Tidak Melakukan Puasa Wishal (Menyambung Puasa)


Janganlah seseorang menyambung puasa dengan puasa pada hari berikutnya tanpa diselingi berbuka karena hal tersebut dilarang. Para sahabat pernah meminta izin kepada Nabi untuk melakukan puasa wishal, namun Rasulullah melarangnya. Beliau bersabda,

"Janganlah kalian mengerjakan puasa wishal. Sesungguhnya kalian tidaklah seperti diriku. Sesungguhnya pada malam hari aku diberi makan dan diberi minum oleh Rabbku. Kerjakanlah amalan yang mampu kalian kerjakan." (HR. Bukhari no. 1966 dan Muslim no. 1103 dari Abu Hurairah)

Dilarang Melakukan Puasa pada Hari Terlarang


adab puasa secara islami

Sebagai tambahan informasi terkait adab puasa, abanaonline.com akan menyebutkan beberapa keadaan di mana kita tidak boleh puasa. Telah disebutkan di dalam beberapa nash mengenai larangan berpuasa pada hari hari tertentu, di antaranya adalah:

1. Puasa pada hari raya


Rasulullah melarang berpuasa pada hari raya Iedul Fitri dan Iedul Adha. [HR. Bukhari, 1990 dari Umar bin Khattab).

2. Puasa di hari tasyriq


Hari Tasyriq adalah hari makan, minum dan dzikir kepada Allah. Kaum muslimin dilarang melakukan puasa. Bahkan nabi tidak akan memberikan keringanan bagi siapapun yang berpuasa pada hari ini kecuali bagi yang menyelenggarakan ibadah haji dan tidak mendapatkan hewan kurban.

Dalam hadits Aisyah dan Abdullah bin Umar disebutkan, "Bahwa beliau tidak memberi keringanan berpuasa pada hari Tasyriq kecuali bagi yang tidak mendapatkan hewan kurban." [HR. Bukhari no. 1997-1998 dari Aisyah dan Ibnu Umar]

3. Puasa di hari yang diragukan


Dilarang berpuasa pada hari yang tidak diketahui apakah hari itu akhir dari bulan Sya'ban atau hari pertama Ramadhan. Dikarenakan cuaca yang buruk atau mendung. Nabi telah memerintahkan agar menyempurnakan bulan Sya'ban menjadi tiga puluh hari dalam kondisi seperti ini.

Dalam hadits Umar disebutkan, "Siapa yang berpuasa pada hari yang diragukan padanya maka ia telah mendurhakai Abu Qasim (Rasulullah)." [HR. Abu Dawud, 2334 dan At Tirmidzi, 686]

4. Puasa di hari jum'at


Dilarang berpuasa pada hari Jum'at tanpa berpuasa sehari sebelum atau sesudahnya. Dilarang pula apabila tidak bertepatan dengan puasa yang biasa ia kerjakan. Nabi bersabda,

"Janganlah salah seorang di antara kalian berpuasa pada hari Jum'at kecuali ia berpuasa sehari sebelumnya atau sesudahnya." [HR. Bukhari, 1985 dan Muslim, 1144 dari Abu Hurairah)

Maksud hadits di atas adalah mengkhususkan puasa di hari jumat. Hal itu dilarang kecuali sebelumnya puasa daud atau puasa wajib.

5. Larangan puasa di hari arafah bagi yang berhaji


Tidak dibolehkan berpuasa pada hari Arafah bagi yang sedang melaksanakan haji. Nabi shalallahu alaihi wassalam bersabda, "Hari Arafah, hari Nahar dan hari Tasyriq adalah hari besar bagi kita umat Islam. Itu adalah hari makan dan minum." (HR. Abu Dawud no. 2419)

Adapun keutamaan berpuasa pada hari Arafah itu diperintahkan bagi orang yang tidak sedang melaksanakan haji.

Alhamdulillah demikian ulasan tentang adab-adab puasa dari mulai sahur hingga berbuka. Tulisan di atas kami mengambil referensi dari dua kitab adab yaitu:

  • Mausu'ahtul Al Adab Al Islamiyah, Abdul Aziz bin Fatih as-Sayyid. Indo: Ensiklopedi Adab Islam Menurut al-Quran dan as-Sunnah, Pustaka Imam Syafi'i, ke-5/Rabiul Awwal 1438
  • Muntaqa al Adab asy Syar'iyyah (Adab dan Akhlak Islami), cetakan 1 Robi'ul tsani 1435 H. Penyusun : Majid Sa'ud Al Ausyan
Perhatian: Jika Akhi/Ukhti ingin menyebarkan artikel abanaonline, kami izinkan (copy-paste). Namun, mohon untuk menyertakan sumber tanpa ada yang dirubah isinya. Kebijakan Iklan: Iklan yang ada di sini sudah diatur oleh pihak Google. Apabila Antum menemukan iklan yang kurang layak, bisa melaporkan ke no WA admin: 085766619270.

1 Response to 18 Adab Puasa dari Sahur hingga Berbuka Lengkap Disertai Dalilnya

Tulis komentar di sini dan centang tombol "Notify me" atau "Ingatkan kami" agar Antum bisa melihat balasannya. Syukran

Back To Top