19 Adab Berhubungan Intim dalam Islam Berserta Dalilnya Terlengkap

Salah satu karunia Allah ta'ala kepada hambaNya ialah menciptakan gairah pada diri manusia agar mencari seorang istri/pasangan hingga ia bisa mendapatkan keturunan melalui hubungan badan atau jima'. Sedangkan jima' sendiri merupakan wasilah (sarana) untuk mendapatkan keturunan sekaligus sebagai gambaran salah satu jenis kelezatan yang ada di dalam Surga. Namun bersetubuh/jima' ini akan mendatangkan banyak manfaat apabila dilakukan dengan cara halal, sebaliknya akan mendatangkan murka jika dilakukan dengan cara yang haram.

Oleh sebab itu demi memperoleh kemuliaan dan manfaat yang dimaksud, hendaknya sepasang suami isteri memperhatikan adab adab bersetubuh yang sudah disyaratkan dalam ajaran Islam. Berikut ini abanaonline.com telah merangkum adab adab islami terkait jima'/berhubungan badan.

Adab Berhubungan Intim dalam Islam Berserta Dalilnya


Adab adab berhubungan intim berikut ini bersumber dari kitab "Ensiklopedi Adab Islam Menurut Al Quran dan As-Sunnah" karya Abdul Aziz as-Sayyid Nada. Apa saja yang perlu diperhatikan dalam berhubungan suami istri?

1. Niat yang Baik


Adab Berhubungan Intim dalam Islam Berserta Dalilnya

Adab yang pertama merupakan yang terpenting dan utama. Pastikan kalian memperhatikan dengan baik. Jika seseorang mendatangi istrinya hendaklah ia memasang niat yang benar sehingga apa yang ia lakukan dapat berubah menjadi suatu ibadah dan mendatangkan pahala. Karena ketahuilah, setiap amal itu tergantung pada niatnya.

Setidaknya ada 3 niat yang harus diamalkan oleh sepasang suami istri sebelum berhubungan badan:

a). Meniatkan untuk mendapat keturunan shalih


Alangkah baiknya apabila dalam pergaulan diniatkan untuk mendapatkan keturunan sholih atau shalihah. Sehingga kedepannya keturunan kita akan beribadah serta mentauhidkan Allah. Yang paling penting orangtua akan mendapatkan doa anak-anak yang shalih/h sepeninggalnya nanti.

b). Meniatkan untuk menjaga kesucian diri


Sepasang suami istri bukan berati terbebas dari fitnah, oleh sebab itu niatkan hubungan badan Anda untuk menjaga kesucian, menundukkan pandangan, dan menjaga kemaluan dengan perkara yang dihalalkan Allah (jima').

Karena salah satu tujuan menikah adalah agar bisa menjaga diri dari perkara perkara yang Allah haramkan yaitu zina. Perkara ini berlaku baik untuk pasangan pria maupun wanita. Seorang wanita juga memiliki syahwat sebagaimana kaum pria. Ia juga ingin memuaskan syahwatnya serta menjaga kesuciannya sebagaimana suaminya. Dengan jima' tersebut suami istri akan dapat menjaga kesucian diri masing masing.

c). Meniatkan untuk mengharap pahala dan shadaqah


Allah telah memuliakan para hambaNya tanpa batas. Seorang manusia memuaskan syahwatnya lalu ia mendapatkan pahala karena melakukannya dengan cara yang halal, bukan dengan cara yang haram. Itulah mengapa kita harus meniatkan untuk mengharap pahala.

Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Nabi -shalallahu alaihi wassalam- bahwa beliau bersabda,

قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيَأْتِى أَحَدُنَا شَهْوَتَهُ وَيَكُونُ لَهُ فِيهَا أَجْرٌ قَالَ: أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِى حَرَامٍ أَكَانَ عَلَيْهِ فِيهَا وِزْرٌ فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِى الْحَلاَلِ كَانَ لَهُ أَجْرٌ

"Para sahabat bertanya, 'Wahai Rasulullah apakah jika salah seorang dari kami melampiaskan syahwatnya akan mendapatkan pahala?' Rasulullah bersabda, 'Bagaimana pendapat kalian jika seandainya melampiaskan syahwatnya pada yang haram, apakah ia terkena dosa? Demikian juga bila ia melampiaskannya pada yang halal, maka ia akan mendapatkan pahala."  (HR. Muslim no 1006)

Selain itu niatkanlah kalau melakukan jima' merupakan sarana untuk mengetahui satu jenis kenikmatan yang telah Allah persiapkan bagi hamba hambaNya yang sholih di surga.

2. Mempersiapkan Diri Sebelum Melakukan Pergaulan Suami Istri


Yang kedua hendaknya pasangan suami dan istri mempersiapkan diri dengan hal hal yang disukai dan diridhoi oleh pasangannya, baik dalam berpakaian, memakai wewangian, berhias, dan sebagainya. Sehingga pasangannya tertarik untuk bercinta. Hal itu juga dapat menjadi sebab kepuasan dan terpenuhinya keinginan syahwat masing masing.

3. Berdzikir dan Berdoa Sebelum Berjima


adab jima dalam islam

Berdoa sebelum jima merupakan salah satu bentuk pengakuan kita akan nikmat yang telah Allah berikan, juga untuk meminta perlindungan dari setan, perlindungan bagi si anak yang mungkin akan lahir dari sebab hubungan intim kita. Lalu bagaimana doa dalam berhubungan badan?

Doa Berhubungan Badan:


لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَأْتِىَ أَهْلَهُ قَالَ: "بِاسْمِ اللَّهِ، اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا"، فَإِنَّهُ إِنْ يُقَدَّرْ بَيْنَهُمَا وَلَدٌ فِى ذَلِكَ لَمْ يَضُرَّهُ شَيْطَانٌ أَبَدًا ( متفق عليه)

Ejaan latin: Bismillahi, Allahumma janibnis Syaitana wa Jannibis Syaitana ma Razaqtaa..

Rasulullah -shalallahu alaihi wassalam- bersabda, "Jika salah seorang dari kalian mendatangi istrinya, lalu ia mengucapkan, 'Dengan nama Allah, Ya Allah jauhkanlah kami dari syaithon dan jauhkanlah syaithon dari anak yang Engkau rezekikan kepada kami.' Maka ditakdirkan lahir seorang anak dari hubungan tersebut, niscaya syaithon tidak akan memadhorotkannya selamnya." (HR. Bukhari no 141, 3271, 3283, 7396 dan Muslim no 1434 dari Ibnu Abbas.)

Di dalam doa di atas (huruf yang ditebalkan) terkandung penjagaan anak dari godaan syaithon. Akan tetapi sangat disayangkan kebanyakan manusia mengabaikan doa ini dan tidak mengamalkannya. Bahkan mungkin sebagian besar dari mereka meninggalkan doa ini ketika ia mempergauli istrinya. Hal ini menunjukkan fenomena tentang berkuasanya syaithan atas sebagian besar manusia, penyimpangan mereka serta kesesatan aqidah dan prilaku mereka.

4. Menggunakan Kain Penutup dan Tidak Telanjang saat Jima


Hendaknya seseorang menutup dirinya dan istrinya saat berjima'. Sebab jika terbuka akan malu kepada Allah dan para malaikat. Allah berfirman,

وَمَا تَكُونُ فِي شَأْنٍ وَمَا تَتْلُو مِنْهُ مِنْ قُرْآنٍ وَلَا تَعْمَلُونَ مِنْ عَمَلٍ إِلَّا كُنَّا عَلَيْكُمْ شُهُودًا إِذْ تُفِيضُونَ فِيهِ

"Dan tidaklah engkau (Muhammad) berada dalam suatu urusan dan tidak membaca suatu ayat Alquran serta tidak pula engkau melakukan suatu pekerjaan melainkan Kami menjadi saksi atasmu ketika kamu melakukannya.." (QS. Yunus: 61)

Bukan adab yang baik apabila saat berhubungan badan tidak memakai kain penutup sama sekali. Karena Rasulullah -shalallahu alaihi wassalam- telah bersabda:

"Jagalah auratmu kecuali kepada istrimu dan budak yang engkau miliki.' Dikatakan, 'Wahai Rasulullah, bagaimana pendapat anda jika mereka berkumpul satu sama lain?' Beliau bersabda, 'Jika engkau mampu tak seorangpun melihatnya maka lakukanlah.' Dikatakan, 'Wahai Rasulullah, bagaimana jika salah seorang dari kami sendiran?' Beliau bersabda, 'Allah lebih berhak untuk ia malu kepadaNya daripada manusia." [HR. Ibnu Majah (1920) dan An Nasa'i dalam Isyaratan nisa (89)]

5. Bercumbu Sebelum Melakukan Hubungan Suami Istri


Adab kelima dalam berhubungan badan adalah bercumbu. Bercumbu bisa diartikan pemanasan. Jadi janganlah seseorang menyetubuhi istrinya kecuali setelah melakukan pemanasan, untuk itu dengan cumbu rayu, ciuman, pelukan, belaian dan sebagainya dari perkara perkara yang menjadikan seorang wanita siap untuk berjima' dan menginginkannya. Sebab Allah subhanahu wataala berfirman.

وَقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ

"....Dan kerjakanlah/utamakanlah (amalan yang baik) untuk dirimu...." (QS. Al baqarah: 223)

6. Mendatangi Istri dengan Cara yang Kamu Hendaki Selama Masih pada Kemaluan


Dalil bolehnya mendatangi lubang kemaluan dari arah manapun ialah diriwayatkan secara shahih, bahwa Umar _radiyallahuanhu- mendatangi nabi -shalallahu alaihi wassalam- dan berkata, "Wahai Rasulullah aku telah binasa." Rasulullah bertanya, "Apa yang membuatmu binasa?" Umar menjawab, "Aku telah memutar haluanku tadi malam."

Setelah itu Rasulullah tidak menjawab sedikitpun hingga turun kepada beliau suatu ayat yang berbunyi,

نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّىٰ شِئْتُمْ

Artinya: "Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki (sukai).."

Lalu beliau bersabda,

أَقْبِلْ، وَادْبِرْ، واتَّقِ الدُبُرَ والحَيْضَةَ

"Datangilah mereka dari arah depan atau belakang namun jauhilah dubur dan wanita yang haid." [HR. Ahmad (1/29), at-Tirmidzi (2980) dan An-Nasai isyarat nisa (94)]

7. Menjauhi Dubur, Mendatangi Istri Lewat Lubang Dubur Haram


Adab berhubungan badan suami istri

Haram bagi seorang laki laki atau suami menyetubuhi istrinya pada duburnya karena itu bukan tempat untuk brcocok tanam. Bahkan perbuatan tersebut menyelisihi fitrah dan tidak membawa manfaat sama sekali. Seorang muslim wajib bertakwa kepada Allah. Janganlah ia melakukan perbuatan keji ini karena taqlid kepada orang-orang kafir dan fajir (orang-orang yang durhaka).

Rasulullah bersabda,

إِتْيَانُ النِّسَاءِ في أَدْبَارِهِ حرَامٌ

"Menyetubuhi kaum wanita pada duburnya adalah haram." (HR. An-Nasa'i, lihat kitab Silsisla ash-Shahihah (873))

Beliau juga bersabda, "Sesungguhnya Allah tidak malu terhadap kebenaran. Janganlah kalian menyetubuhi kum wanita pada dubur mereka." [HR. Ahmad (V/213), Ibnu Majah (1924) dan An nasa'i)

Bahkan Rasulullah juga bersabda, "Allah tidak melihat kepada laki laki yang menyetubuhi istrinya pada duburnya." (HR. Ibnu Majah No 1923, lihat kitab Shahih Ibni Majah (1560)]

Yang dimaksud menyetubuhi wanita pada duburnya adalah menyetubuhi pada lubang tempat keluarnya kotoran. Perbuatan ini tidak diperbolehkan selamanya, akan tetapi ia boleh mencari kelezatan dengannya dari arah pantat tanpa masuk ke dalam dubur. Inilah yang ditetapkan oleh sebagian ulama.

8. Tidak Menyetubuhi Wanita yang Sedang Haid


Allah berfirman dalam Quran surat al-Baqarah:222,

"..... karena itu jauhilah istri pada waktu haid dan jangan kamu dekati mereka sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci campurilah mereka sesuai dengan ketentuan yang diperintahkan Allah kepadamu." (QS al-baqarah: 222)

Dalil lain yang menunjukkan haramnya perbuatan tersebut adalah hadits Abu Hurairah yang telah disebutkan pada adab sebelumnya. Meskipun demikian ia boleh berjumpa dengannya tanpa mendekati kemaluan.

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُبَاشِرُ نِسَاءَهُ فَوْقَ الْإِزَارِ وَهُنَّ حُيَّضٌ

Disebutkan bahwasanya Nabi shalallahu alaihi wassalam apabila ingin bercumbu dengan istrinya yang sedang haidh, beliau memerintahkannya bersarung, kemudian beliau bercumbu dengannya." (HR. Bukhari no 303 dan Muslim no 294) dari Maimunah.

Disebutkan dalam riwayat lain, "Bahwasanya bila menginginkan sesuatu dari istrinya yang sedang haid beliau meletakkan kain pada kemaluannya." (HR. Abu Dawud:272)

9. Jangan Mencabut Kemaluan hingga Istri Menyelesaikan Hajatnya


Jika seorang suami telah menyelesaikan hajat syahwatnya sebelum istrinya, maka janganlah ia langsung menyudahi hubungan intim mereka. Hendaklah ia menunggu hingga istrinya juga menyelesaikan hajatnya. Ini akan membantunya untuk dapat menjaga kesucian diri.

Hal ini juga termasuk sikap adil dan tidak egois, banyak di antara kaum laki-laki yang mengabaikan adab ini hingga membawa akibat yang sangat jelek yakni seorang istri tidak dapat memuaskan syahwatnya dan tidak dapat menjaga kesuciannya melalui jima', sehingga mencari-cari jalan untuk memuaskan syahwat yaitu dengan cara yang haram. Naudzubillahimindzalik

10. Menyaksikan Nikmat Allah yang Telah Memudahkannya untuk Mendapatkan Istri yang Halal


Hendaknya seorang laki-laki ketika dia mendatangi istrinya menyaksikan dengan hati terhadap curahan nikmat Allah atasnya yaitu dia memberinya istri yang halal yang dia mendapat kelezatan bersamanya, memuaskan syahwatnya, menjaga kemaluannya dan menjaga dirinya dari perkara haram.

Seandainya Allah taala menghendaki, bisa saja dia tidak memberikan kemudahan padanya dalam hal itu. Allah berfirman, "Dan jika kamu menghitung nikmat Allah niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya, sungguh Allah benar-benar Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS An Nahl 18)

11. Berwudhu Jika Ingin Mengulangi Jima'


Adab bersetubuh berikutnya adalah mengambil air wudhu apabila ingin mengulangi berjimak. Jika seorang laki-laki telah selesai menyetubuhi istrinya dan ingin mengulanginya hendaklah berwudhu dahulu agar ia kembali segar.

Rasulullah bersabda,

إِذَا أَتَى أَحَدُكُمْ أَهْلَهُ، ثَمَّ أَرَادَ أَنْ يَقُوْدَ، فَلْيَتَوَضَّأْ بَيْنَهُمَا وُضُوْءًا

"Apabila salah seorang dari kalian menyetubuhi istrinya lalu ia ingin mengulanginya hendaklah ia berwudhu." (HR. Muslim no 308).

Ini termasuk di antara adab Islam, di samping merupakan bukti perhatian Islam terhadap setiap perkara yang mendatangkan maslahat bagi seorang muslim.

12. Boleh Menggauli Beberapa Istri dalam Satu Malam dengan Sekali Mandi


Adab hubungan intim menurut Islam

Seseorang yang memiliki beberapa orang istri boleh menggilir mereka dalam semalam, ia boleh menyetubuhi seorang dari mereka kemudian menyetubuhi yang lainnya. Dan demikianlah seterusnya, setelah itu ia mandi pada giliran yang terakhir dengan satu kali mandi.

Yang demikian itu berdasarkan apa yang dilakukan oleh Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam, "Bahwasanya beliau pernah menggilir istri istrinya dalam satu malam dan mandi satu kali." (HR. Bukhari no 268, 284, 5068, 5215 dan Muslim No 309 dari Anas).

13. Berwudhu atau Bertayammum Jika Hendak Tidur Malam dalam Keadaan Junub


Bila seseorang malas mandi junub dan ingin tidur hendaklah ia mencuci kemaluannya dan berwudhu. Ini berdasarkan contoh dari Nabi sallallahu alaihi wasallam, "Bahwasanya apabila ingin tidur malam dalam keadaan junub beliau mencuci kemaluannya dan berwudhu seperti wudhu untuk sholat." (HR. Bukhari no 288 dan Muslim no 305 dari Aisyah)

Dia juga boleh bertayamum, sebab nabi bila menyetubuhi istrinya dan malas untuk berdiri, beliau memukulkan tangannya ke tanah dan bertayamum.(HR. Ath Thabrani no 649 dari Aisyah)

14. Mencuci Kedua Tangan Apabila Hendak Makan atau Minum


Mencuci kedua tangan merupakan bentuk perhatian terhadap kebersihan dan upaya mencontoh Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, "Bahwasanya apabila hendak tidur dalam keadaan junub beliau berwudhu seperti wudhu untuk salat dan apabila hendak makan atau minum dalam keadaan junub, beliau mencuci kedua tangannya lalu makan dan minum. (HR. Ahmad no 102, Abu Dawud no 223, an-Nasa'i no 139, Ibnu Majah no 584, 593 dan ad Daraquthni no 126 dari Aisyah)

Tidak diragukan lagi, hal ini merupakan bentuk perhatian Islam terhadap masalah kebersihan dan menjauhkan segala perkara yang dapat membahayakan jiwa dan raga.

15. Tidak Menggauli Pasangannya dalam Keadaan Sangat Kenyang atau Lapar


Berjima ketika sangat kenyang dan lapar amat berbahaya bagi seseorang. Bahkan bisa menyebabkan kebinasaan jika ia terbiasa melakukannya. Oleh karena itu tidak selayaknya seseorang berjima' ketika baru saja makan, demikian juga ketika perut dalam keadaan sangat kenyang atau sangat lapar.

Demikianlah yang disebutkan oleh seluruh ahli kesehatan, sesungguhnya Islam sangat memperhatikan setiap perkara yang mendatangkan maslahat bagi setiap muslim dan mencegah segala perkara yang memudharatkan agama maupun dunia mereka.

16. Tidak Berlebihan dalam Berjima'


Berlebihan dalam melakukan jima' bisa membahayakan kesehatan dan menyebabkan penyakit. Bahkan terkadang dapat menyebabkan kematian seseorang sebagaimana yang dikatakan dalam sebuah syair.

"Jagalah manimu semampumu, Karena itu adalah air kehidupan yang ditumpahkan ke dalam rahim."

Meskipun memang tidak ada batasan yang jelas dalam hal ini akan tetapi yang paling afdhol adalah melakukannya saat muncul gejolak syahwat dan memuncaknya gairah. Janganlah ia sengaja memancing memancing nafsu syahwatnya terlebih lagi pada usia muda. Karena hal itu berbahaya sebagaimana yang telah dijelaskan.

17. Seorang Istri Dilarang Menolak Ajakan Berhubungan Intim dari Suaminya


Adab Berhubungan Intim dalam Islam Berserta Dalilnya

Poin ini kerap disepelekan oleh masyarakat umum, menganggap menolak ajakan suaminya merupakan hal yang biasa dan lumrah. Padahal sangat dilarang oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda,

إِذَا دَعَا الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهِ فَأَبَتْ أَنْ تَجِىءَ لَعَنَتْهَا الْمَلاَئِكَةُ حَتَّى تُصْبِحَ

"Apabila seorang suami mengajak istrinya ke ranjang, namun istri tersebut enggan memenuhinya maka malaikat akan melaknatnya hingga waktu subuh" (HR. Bukhari no. 5193 dan Muslim no. 1436).

Akan tetapi apabila istri sedang berhalangan seperti sakit, maka itu termasuk udzur dan suami harus mengerti kondisi istrinya. Sebagaimana yang diutarakan oleh Imam Nawawi rahimahullah, bahwa ini adalah dalil haramnya wanita menolak suaminya tanpa uzur, termasuk haid bukanlah udzur. Karena di saat haid suami masih bisa menikmati tubuhnya tanpa mendatangi lubang kemaluannya. (Syarh Shahih Muslim, 10: 7)

18. Diperbolehkan Menyetubuhi Istri ketika Menyusui


Hal ini berdasarkan hadits Aisyah, melalui Judaamah binti Wahb, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ أَنْهَى عَنِ الْغِيلَةِ حَتَّى ذَكَرْتُ أَنَّ الرُّومَ وَفَارِسَ يَصْنَعُونَ ذَلِكَ فَلاَ يَضُرُّ أَوْلاَدَهُمْ

"Sungguh pada awalnya aku ingin melarang kalian dari perbuatan ghiilah. Sampai aku melihat bangsa Romawi dan Persia melakukan ghiilah terhadap anak-anak mereka, tapi ternyata hal itu tidak membahayakan anak-anak mereka.
(HR. Muslim: 1442).

Apa itu ghiilah? Ghiilah adalah menyetubuhi wanita saat sedang menyusui. Ada pula yang mengartikan wanita yang sedang menyusui saat hamil. Tapi kebolehan menyetubuhi wanita yang sedang menyusui anaknya tergantung melihat pada mashlahat dan madhorotnya. Kalau berbahaya sebaiknya jangan dilakukan. Kami melihat, di situs rumaysho juga mengatakan seperti itu.

19. Tidak Menceritakan Rahasia Hubungan Suami Istri


Inilah adab berhubungan intim yang terakhir dan juga sangat penting. Sebagian orang, baik laki-laki maupun perempuan suka membicarakan rahasia hubungan suami istri. Orang orang itu menceritakan apa yang telah mereka lakukan bersama pasangan masing-masing diatas ranjang.

Bahkan kadang mereka menyebutkan secara terperinci. Perbuatan seperti ini haram dan sangat buruk. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah memperingatkan hal itu dengan peringatan yang sangat keras. Dari Abu Sa'id Al Khudri, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ مِنْ أَشَرِّ النَّاسِ عِنْدَ اللَّهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ الرَّجُلَ يُفْضِى إِلَى امْرَأَتِهِ وَتُفْضِى إِلَيْهِ ثُمَّ يَنْشُرُ سِرَّهَا

"Sesungguhnya seburuk buruk manusia di sisi Allah pada hari kiamat adalah seorang laki-laki yang menggauli istrinya dan istrinya menggaulinya, kemudian ia menceritakan rahasia hubungan mereka berdua." (HR. Muslim no 1437 dari Abu Sa'id).

Demikianlah adab-adab dalam berhubungan badan sepasang suami istri. Semoga kita semua dapat memetik pelajaran dan hikmahnya, terkhusus untuk diri kita pribadi dan pasangan hidup kita. [Sumber tercantum di atas]
Perhatian: Jika Akhi/Ukhti ingin menyebarkan artikel abanaonline, kami izinkan (copy-paste). Namun, mohon untuk menyertakan sumber tanpa ada yang dirubah isinya. Kebijakan Iklan: Iklan yang ada di sini sudah diatur oleh pihak Google. Apabila Antum menemukan iklan yang kurang layak, bisa melaporkan ke no WA admin: 085809999008.

0 Komentar 19 Adab Berhubungan Intim dalam Islam Berserta Dalilnya Terlengkap

Posting Komentar

Tulis komentar di sini dan centang tombol "Notify me" atau "Ingatkan kami" agar Antum bisa melihat balasannya. Syukran

Back To Top